JIKA

Ayah dan Bunda, akhir-akhir ini mencuat kasus kekerasan seksual yang dilakukan remaja laki-laki pada kaum perempuan. Mengapa mereka melakukan hal sehina itu? Sebab dari kecil mereka memang tidak pernah dididik menjadi laki-laki sejati.

Mengapa banyak lelaki melakukan korupsi? Jawabannya sama dengan sebelumnya. Mengapa para lelaki banyak yang menjadi malas dan tidak bisa mewujudkan potensinya? Jawabannya juga sama.

Nah, Ayah dan Bunda, bila Anda dikaruniai anak laki-laki, ajarkan agar menjadi laki-laki sejati. Bagaimana gambaran seorang laki-laki sejati? Saya menemukannya dalam sajak berjudul “Jika” yang ditulis oleh Rudyard Kipling, sang penulis The Jungle Book. Sajak ini dituturkan dalam bentuk nasihat monolog dari orangtua buat anak laki-lakinya. Silakan menyimak, semoga berguna…

JIKA

Oleh Rudyard Kipling

Jika kamu dapat tetap menegakkan kepala sementara semua orang di sekelilingmu

tidak mampu melakukannya dan malah menyalahkan kamu,

jika kamu dapat tetap percaya pada dirimu sementara semua orang meragukanmu,

tetapi kamu tak mempermasalahkan keraguan mereka itu,

jika kamu dapat menunggu tanpa merasa lelah,

atau sanggup berbaring tanpa bermaksud bermalas-malas,

atau sanggup dibenci tanpa balas membenci,

dan tidak berlagak menjadi orang yang terlalu baik atau terlalu bijaksana,

jika kamu dapat bermimpi tanpa menjadikan mimpi itu tuanmu,

jika kamu dapat berpikir tanpa menjadikan pemikiranmu itu sebagai satu-satunya tujuan,

jika kamu dapat menghadapi kejayaan dan bencana
dan memperlakukan dua hal semu itu dengan perlakuan setara,

jika kamu dapat bertahan ketika mendengar hal-hal yang kau yakini

diputarbalikkan sekadar menjadi permainan,

atau ketika melihat hal-hal yang amat berarti dalam hidupmu hancur,

kamu tetap bertahan dan malah membangunnya lagi dengan segala yang kau punya,

jika suatu saat kamu mengumpulkan segala hal berharga yang kau miliki

serta mempertaruhkannya dalam sebuah kesempatan beresiko,

dan akhirnya kalah, namun kamu sanggup memulai lagi segalanya dari awal,

tanpa pernah mengeluh tentang kekalahan dan kehilanganmu itu,

jika kamu dapat memaksa hati, meski diliputi cemas dan khawatir,

untuk tetap bertahan bersamamu meski kamu telah kehilangan segalanya,

dan kamu sanggup terus bertahan ketika kamu tak punya apa-apa lagi

kecuali kemauan untuk terus berkata pada hatimu itu: ‘Bertahanlah!’

Jika kamu bisa berbicara dengan rakyat biasa tanpa kehilangan pandangan idealismu,

Atau berjalan bersama para raja tanpa kehilangan sentuhan merakyatmu,

Jika tak ada satu orang pun, baik lawan maupun kawan, dapat melukai hatimu,

Jika kamu memperlakukan semua orang yang bergantung padamu tanpa pilih kasih,

Jika kamu dapat mengisi setiap menit yang berharga

Dengan 60 detik pemikiran untuk tetap memikirkan tujuanmu,

Segala dalam dirimu sama berharga seperti bumi dan segala isinya,

Dan –dengan banyak ‘jika’ yang lain- barulah kamu menjadi seorang laki-laki, wahai Anakku!

Iklan

CERMIN PARA IBU

Ini adalah malam terakhir Lomba Tingkat Penggalang. Lili menarik napas lega. Sebagai pembina Gugus Depan sebuah SMP negeri tempatnya bekerja menjadi guru, ia telah mendampingi anak-anak didiknya 5 malam penuh. Benar-benar berat, selama 5 hari 5 malam anak-anak pramuka putrinya melaksanakan kemping sekaligus berlomba ketangkasan dan wawasan melawan anak-anak sebaya mereka di tingkat kabupaten. Lili merasa haru sekaligus bangga pada mereka. Ia melirik jam di tangannya, lalu berkata dalam hati, “Pukul 10 malam. Anak-anak harus sudah tidur biar tidak terlalu capek. Sebelum pulang, besok pagi mereka masih harus memasak sarapan, membereskan tenda, mengikuti upacara penutupan dan melakukan operasi semut.“
Ia melangkah dari lokasi tenda pembina putri menuju tenda tempat murid-muridnya berada. Onggokan kayu bakar masih menyala di lapangan. Sisa acara api unggun perpisahan yang baru selesai 1 jam yang lalu itu dibiarkan mati dengan sendirinya, tak seorang pun merasa perlu untuk memadamkannya. Lili tersenyum, ia ingat almarhum ibunya yang suka berteriak bila melihat api menyala, “Lili, biasakan tidak meninggalkan api menyala. Matikan dahulu, biar aman!”
Lili memasuki pekarangan tenda tempat pasukan putrinya berada. Regu Mawar memasang 2 tenda kembar. Setiap tenda diisi 5 orang anak. Tenda di sebelah kanan terlihat gelap dan sepi, namun lampu badai masih dinyalakan di dalam tenda sebelah kiri. Lili tersenyum dan menggeleng, namun langkahnya terhenti mendengar suara-suara dari dalam tenda. Ada 5 anak perempuan berusia antara 13-14 tahun yang menghuni tenda tersebut: Gea si Kepala Regu, Ani si jago sandi, Mutia yang ahli tali temali, Aisyah si bendahara dan Nida si ahli masak rimba.
“Yes! Akhirnya kita juara umum!” terdengar Gea berseru. “Bedanya cuma 1 medali emas dengan regu Dahlia di tempat kedua!”
“Ya, ini berkat Nida yang meraih emas dalam masak rimba di lomba terakhir!” timpal Aisyah.
“Iya sih,” ujar Nida malu. “Tapi semua juga berjuang. Kebetulan saja aku yang berlomba terakhir dan menang.”
Sejenak tak ada suara, tapi Lili bisa membayangkan 5 wajah yang sedang tersenyum puas.
“Besok kita pulang, aku sudah kangen sama ibuku,” kata-kata Mutia itu mendadak membawa suasana rumah ke dalam tenda. “Kalo menurut aku sih, orang yang paling berjasa di balik keberhasilan kita adalah ibu-ibu kita.”
“Aku kayaknya setuju banget,” timpal Gea. “Ayahku saja pernah bilang: Gea, semua anak itu tergantung pada ibu mereka. Mereka bisa pintar atau bodoh, sukses atau gagal adalah karena jasa ibu.”
“Jelas saja, ibu kamu kan pintar, Ge,” timpal Aisyah. “Ibuku sih hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi sibuknya melebihi ibu-ibu yang kerja di kantor. Aku rasa seharusnya ibuku punya tangan empat agar tugas-tugasnya setiap hari bisa selesai.”
Terdengar tawa sebentar, lalu Mutia berkata, “Nggak masalah kan? Aku malah lebih salut pada ibu yang bekerja di rumah. Mama aku pernah bilang: ibu yang bekerja di rumah itu lebih capek, soalnya jam kerjanya 24 jam. Sudah gitu nggak ada cuti dan libur tahunan!”
“Mau ibu kalian bekerja dimana kek, yang jelas kayaknya kalian enak deh punya ibu baik-baik, kalo ibuku galak banget,” keluh Nida. “Kalau aku salah dikit, pasti diomelin! Malah pernah aku dicubit dan dijewer.”
“Tapi kata aku sih itu nggak masalah, Nid,” Mutia mencoba menghibur. “Tiap ibu itu cuma caranya saja yang beda-beda, tapi maksudnya sama: agar anak-anaknya pintar dan shalih. Bisa jadi ibu kamu suka mencubit dan ibu aku suka memeluk, tapi kedua-duanya pasti sangat sayang pada kita!”
“Kalian beruntung masih punya ibu,” suara lirih itu dari Ani si Pendiam.
Suasana hening sejenak, lalu Gea bertanya pelan, “Bagaimana rasanya saat ibu kamu meninggal, Ani?”
“Rasanya seperti tanah yang kamu injak tiba-tiba menghilang,” ujar Ani. “Sewaktu ibuku masih ada, aku sama sekali tidak mengira ia akan meninggal. Saat tiba-tiba ia nggak ada, rasanya aku melayang-layang di ruangan gelap dan kosong sendirian.”
Lili mendengar anak-anak yang lain menghibur dengan kata-kata: ibu kamu tetap lihat kamu dari surga, dan sejenisnya. Tiba-tiba Lili merasa ia tak layak berada di situ dan mendengar semua pendapat pribadi yang hanya dilontarkan pada para sahabat terdekat.
Lili mengurungkan niatnya untuk menyuruh mereka segera tidur. Ia berbalik dan melangkah pergi. Ditatapnya bulan purnama di langit. Ia sadar, seperti bulan yang memantulkan sinar matahari, ia baru saja mendengar cerminan diri para ibu melalui mulut anak-anak mereka. Ia tidak keberatan tidak disebut sama sekali sebagai orang yang berjasa mengantarkan anak-anak itu meraih kemenangan kali ini. Meski ia telah melatih dan mempersiapkan mereka 2 bulan penuh dengan mengorbankan semua waktu serta menguras habis seluruh kemampuan. Lili mengerti, seorang ibu memiliki arti yang sangat besar bagi tiap anaknya. Ia teringat kata-kata Andrew Young, “Para pahlawan tak dikenal dalam setiap gerakan rakyat sebenarnya adalah para istri dan para ibu.”
Lili tertegun, 3 minggu lagi ia akan menjalani pernikahannya sendiri. Setelah itu ia pun akan menjadi seorang ibu bila Tuhan mengizinkan. Ia merasa tak salah telah menerima Raihan sebagai calon suaminya. Ia telah lihat betapa baik Raihan memperlakukan ibunya. Lili merasa mendengar lagi nasihat almarhum ibunya menggema, “Laki-laki yang menghormati ibunya akan menghormati wanita yang menjadi istrinya.”

Rasul Tersayang “Kesederhanaan”

TIKAR NABI

Untuk sebuah keperluan. Ibnu Mas’ud mendatangi Rasulullah Saw di rumah petak Beliau yang sederhana. Kebetulan saat itu Rasulullah baru saja bangun dari tidur dengan beralas tikar. Ibnu Mas’ud melihat berkas tikar masih membekas di perut Rasulullah.
Maka sambil menahan sedih. Ibnu Mas’ud berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana kalau kami membuatkan kasur yang bisa tuan hamparkan di atas tikar? Kasur itu dapat membuat perut Tuan berbekas dari bekas tikar yang kasar ini. ”
Rasulullah tersenyum dan menjawab, “Apalah artinya aku dan dunia ini? Aku dan dunia tak ubahnya seperti seorang pengelana yang berteduh dibawah sebatang pohon. Kemudian sang Pengelana pergi meninggalkan pohon itu.”
Rasulullah Saw tak keberatan tidur di atas tikar kasar walau kalau beliau mau, tentu saja Beliau bisa tidur di atas kasur seperti orang lain. Disadur dari buku Rasul Tersayang karya kak EKA WARDHANA seri kesederhanaan.

20150202_092553

Customer Service
HP : 081 220000 124
Tlp : 022-5221045
http://www.rumahpensil.com
http://www.rumpenekawardhana.wordpress.com
mau update berita terbaru yuk follow
twitter: @rumpenpublisher
Fb : https://www.facebook.com/rumahpensil.ekawardhana

Open Your Book Open Your Mind
artikel, buku muslim, cerita, eka wardhana, rumah, rumah pensil publisher

MENANGKAP SEDIH

Penulis: Eka Wardhana
,
Acara belum dimulai, tetapi ballroom hotel sudah mulai diramaikan para undangan. Semangat mereka terasa memenuhi ruangan besar dan mewah itu. Semua penasaran ingin melihat serta berbicara langsung dengan Raisya Medinna -si penulis muda berbakat- dalam acara peluncuran film perdananya “KUTANGKAP SENYUMMU”.  Raisya, bintang hari itu, sudah tiba sejak pagi. Film yang diluncurkan ini didasarkan pada novel inspiratifnya dengan judul yang sama. Di umurnya yang belum lagi kedua puluh, ia seperti komet di langit malam yang jernih. Tak sampai satu tahun setelah novelnya meledak, kini filmnya pun diluncurkan.
,
Seperti halnya kebanyakan penulis berbakat, Raisya agak introvert. Ia tak pernah bisa menghapus rasa nervousnya bila harus berbicara di depan orang banyak. Apalagi dalam keadaan menunggu seperti sekarang. Rasanya dia ingin menghilang seketika dan tiba-tiba muncul di hutan yang jauh dan sepi. Dimana hanya ada dirinya, pepohonan dan burung-burung. Namun begitu, ia punya resep tersendiri untuk menghilangkan rasa cemasnya, caranya adalah dengan mengingat kejadian-kejadian manis di masa lalu. Raisya tersenyum sendiri saat pikirannya mulai menerawang masa kecilnya. Sepuluh tahun lalu, saat semua kesuksesannya ini bermula…
,
Ketika itu usianya baru sembilan jalan sepuluh. Ia sedang terjebak di rumah kakeknya, di sebuah dusun terpencil jauh di kaki Gunung Gede. Papa dan Mama memutuskan untuk menitipkan putri tunggal mereka itu di rumah Kakek selama seminggu, tepat di masa liburan semester. Karena sibuk dengan pekerjaan, baik Papa atau Mama, tidak bisa ikut tinggal di sana. Mereka langsung pulang hari itu juga. Terus-terang Raisya merasa dibuang. Bukannya dibawa melihat pantai atau Borobudur, ia malah ditaruh di tempat terasing ini. Jauh dari teman-temannya, jauh dari buku-buku komiknya, jauh dari game-game komputer kesukaannya.
,
Malam pertama di desa terasa amat panjang. Suara jangkrik dan hewan malam membuat Raisya hampir tak bisa tidur. Keesokan harinya Kakek membawa Raisya melihat-lihat desa. Kakek menunjukkan sawah dan ladang-ladang sayur miliknya. Kakek bahkan mengajak Raisya makan siang di dangau yang terletak tepat di tengah persawahan, dimana angin gunung yang sejuk mengusap-usap kulit sepanjang hari. Tapi hal itu tidak juga bisa menghilangkan rasa sedih dan sepi Raisya.
,
“Naaah,” ujar Kakek ceria sambil mengusap perutnya sendiri yang kekenyangan, “Setelah Shalat Ashar nanti, Kakek akan mengajakmu mengunjungi Priscilla dan anak-anaknya.”
“Siapa Priscilla? Orang bule? Tetangga Kakek?” tanya Raisya, mengucapkan beberapa kata pertamanya sejak tiba kemarin.
,
“Dia memang bule dan tetangga paling dekat,” jawab Kakek sambil tertawa. Lalu dengan tawa yang tiba-tiba meledak tambah keras, Kakek menambahkan, “Sudah jadi janda pula…”
“Uh, apa asyiknya berkunjung ke rumah tetangga!” gerutu Raisya dalam hati. “Apalagi anaknya banyak. Jangan-jangan mereka nakal-nakal pula! Terus apa kata Kakek tadi? Janda? Hah, mentang-mentang Nenek sudah tiada, jangan-jangan Kakek mau menikah lagi!”
,
Namun sejuta prasangka di hati Raisya lenyap ketika tahu bahwa Priscilla adalah nama kerbau bule betina milik Kakek. Sambil tertawa Kakek mengenalkan Si Penggembala, seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dari Raisya, “Ini Amat. Ia akan menjadi teman yang menyenangkan untukmu selama di sini.”
Mulanya Raisya ragu, namun Amat benar-benar anak yang ceria. Setelah Kakek pergi, Raisya bertanya, “Kenapa nama kerbau ini Priscilla?”
,
“Sebab kakekmu penggemar Elvis Presley. Itu lho, Raja Rock dari Amerika,” cengir si Amat.
“Terus?” Raisya masih belum mengerti.
“Priscilla itu kan nama istrinya Elvis,” jawab Amat. “Ketiga anak kerbau ini masing-masing bernama Lisa, Marie dan Presley. Itu penjabaran dari nama putri satu-satunya Elvis: Lisa Marie Presley. Oh ya, kerbau pejantan suaminya si Priscilla ini belum lama mati. Kamu pasti bisa menebak namanya kan?”
“Elvis?” tebak Raisya.
,
“Tepaaat!” sorak Amat sambil melompat ke kali.
Tawa Raisya terdengar merdu. Rasanya belum pernah ia tertawa seenak ini. Amat muncul dari dalam air, lalu berkata serius, “Waktu kamu tiba kemarin, aku sudah melihat kamu dari jauh. Saat itu kamu tampak seperti anak paling sedih di dunia. Padahal gampang saja melawan sedih itu! Bayangkan sedih itu seperti sehelai kain hitam, tangkap dia, lalu buang ke tempat sampah! Perhatikan, aku akan menangkap sedih dari wajah kamu…”
,
Tangan Amat menunjuk ke wajah Raisya, lalu mengambil sesuatu yang tidak tampak dan melemparkan sesuatu itu jauh-jauh. Raisya membalas, “Kalau aku, aku akan menangkap senyum kamu itu!”
Raisya menunjuk ke wajah Amat, mengambil sesuatu yang tidak tampak dan memasukkannya ke kantong celananya. Mereka berdua tertawa berderai.
,
“Raisya?”
Lamunan Raisya bubar, rupanya acara sudah dimulai dan ia diminta memberikan sepatah dua kata. Raisya menggerakkan tangannya di udara, mengambil sesuatu yang tak tampak dan membuangnya jauh-jauh rasa nervousnya. Ia berkata dalam hati, “Terima kasih Kakek, terima kasih Amat. Kalian telah menunjukkan bagaimana caranya untuk tetap bergembira. Berkat kalian aku tahu bahwa kegembiraan itu kita buat, bukan kita tunggu. Buku dan filmku adalah kisah tentang keceriaan kita bertiga selama kita liburan di sana.”
,

Ketika Raisya tampil, tepuk tangan pun membahana…

,

 

referensi:
,
mau update berita terbaru yuk follow
twitter: @rumpenpublisher

SENYUM KREATIVITAS

penulis: Ekawardhana
,
images2Tujuh tahun yang lalu, Sofyan berteriak penuh takjub, “Lihat gambar Eya ini, Mah!”
Tangannya mengacungkan selembar kertas ke depan wajah istrinya. Sang istri sedikit mengerutkan dahi tapi tetap menambahkan seulas senyuman. Jelas ia tak begitu paham maksud suaminya. Apalagi yang diperlihatkan Sofyan hanyalah gambar corat-coret buatan Eya, putri mereka yang baru berumur 3 tahun. Apa yang bikin heboh sih? Eya kan memang sudah biasa gambar begini!
,
“Lihat, Eya sudah bisa membuat leher pada gambar orang ini!” ucap Sofyan tidak sabar melihat reaksi istrinya.
“Oh iya,” ucap istrinya datar tapi melebarkan senyumannya biar tidak tampak terlalu polos.
“Bukan cuma ‘oh iya’ dong!” ujar Sofyan lagi. “Kamu tahu tidak sih, tidak banyak anak berumur 3 tahun yang bisa gambar orang selengkap ini! Lihat: ada rambut, hidung, telinga, alis, jari dan leher! Semua lengkap!”
Melihat istrinya masih ‘cengar-cengir’, Sofyan langsung menyampaikan kesimpulannya, “Itu artinya Eya punya bakat di bidang gambar! Itu kan bisa dibilang dia punya bakat kreativitas yang besar!”
,
Istri Sofyan baru mengangguk mengerti. Ia langsung paham, suaminya yang bekerja sebagai desainer pada sebuah biro periklanan memang sangat mengagungkan kreativitas. Dengan moto hidup “Orang kreatif nggak ada matinye”, ia pasti lega melihat bibit kreativitas tumbuh di dalam darah dagingnya sendiri.
,
Namun itu 7 tahun yang lalu. Malam ini, rasa bangga itu seolah sudah tak tersisa. Eya kini duduk di kelas 5 SD. Saat dimana setiap orangtua mulai mengkhawatirkan monster besar bernama Ujian Nasional. Meski masih setahun lagi, untuk menghadapi sang monster, ribuan orangtua mendaftarkan anaknya sedini mungkin untuk ikut kelas-kelas bimbingan belajar. Namun sebagai orang yang mengerti prinsip-prinsip kreativitas, Sofyan tidak sampai memaksa Eya memasuki “Sekolah-Sekolah Gladiator” itu. Dari awal Sofyan tahu bahwa bakat putrinya bukan di bidang akademis seperti matematika dan sains. Bakat Eya ada di bidang seni. Sofyan paham betul itu. Namun akhirnya ia tak tahan juga melihat di kelas setinggi itu Eya belum hapal perkalian 1 sampai 100, belum lagi cara-cara melakukan perkalian dan pembagian dasar.
,
“Belajar matematika setiap malam dengan Papa!” perintah Sofyan pada putrinya.
Eya pun menurut. Kini setiap selesai shalat maghrib, ia menundukkan wajah di depan soal-soal matematika yang diberikan ayahnya dari buku-buku panduan Ujian Nasional. Pensil yang dipegangnya sama seperti hari-hari yang lalu, namun yang dihadapinya kini berbeda. Bila dulu ia menghadapi kertas putih yang siap digambar apa saja, kini ia menghadapi kertas yang dipenuhi deretan angka-angka yang dirasakannya amat penuh ancaman. Kertas putih yang dulu jadi sahabatnya kini sudah jadi musuhnya, hanya karena bukan ia yang mengisi kertas itu, namun orang-orang dewasa yang katanya pintar-pintar.
,
Tetes demi tetes air mata Eya bercucuran. Sofyan telah melihat itu selama berhari-hari, tetapi ia mengeraskan hati untuk tidak menyerah. Eya harus lulus UN dengan nilai bagus seperti ia dulu lulus Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, titik! Namun, bila tetes air yang terus-menerus jatuh bisa melubangi batu, air mata seorang putri pun pasti bisa meluluhkan hati ayahnya. Maka, ketika melihat Eya lagi-lagi duduk membeku kebingungan, Sofyan memutuskan untuk memberinya jeda. Di ambilnya secarik kertas gambar. Ia sodorkan kertas itu ke depan putrinya lalu berkata, “Sekarang kamu menggambar dulu setengah jam. Setelah itu kerjakan soal lagi!”
,
Namun sampai waktunya tidur, kertas itu tak berisi apa-apa kecuali bercak-bercak air mata. Sofyan merasa kesabarannya habis, “Sudah tidur kamu! Papa tidak peduli kamu mau dapat nilai UN berapa nanti!”
Eya pergi ke kamarnya dengan mata basah. Untuk meredakan rasa galau suaminya, sang istri datang menyuguhkan teh campur madu kesukaan Sofyan. Lalu, sambil mengambil kertas gambar Eya tadi, dengan lembut sang istri berkata, “Sejak belajar matematika sama Papa, Eya sudah tidak pernah menggambar lagi…”
,
DUG! Benak Sofyan seperti dihantam palu! Eya si jago gambar yang dulu pernah ia bangga-banggakan pada teman-teman sekantornya kini sudah tidak menggambar lagi? Perlahan-lahan ia ingat tulisan berbingkai yang dipasang di dinding kantornya: “Ketika kita mendapat berkah kehidupan, adalah tragedi bila membiarkan ada bagian-bagian diri kita berikut ini mati: semangat kita, kreativitas kita atau keunikan-keunikan kita.” (Gilda Radner).
,
“Maafkan Papa, Eya!” ujar Sofyan sambil berlari menyusul Eya. Sang istri tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala, “Ayah dan anak sama saja.”
Sang istri lega karena tahu suaminya tak akan lagi memaksa putrinya mengingkari bakat-bakat yang diberikan Tuhan. Ia tahu bahwa mulai besok, suami dan putrinya akan tersenyum merekah lagi seperti dulu. Senyum yang mereka namakan dengan bangga: “Senyum Kreativitas Keluarga Sofyan”..
.
mau update berita terbaru yuk follow
twitter: @rumpenpublisher

UKURAN KITA

penulis: eka wardhana
,
Beben, si Ayah muda itu, duduk setengah terlentang di sofa. Gaya khas orang sedang lelah plus galau. Tangan kanannya teracung kaku ke depan sejenak, lalu memencet tombol “on” di remote tv yang dipegangnya. Dua kali menekan, barulah layar LCD di depannya menyala. Satu menit berikutnya dihabiskan untuk mencari channel yang cocok. Setelah itu barulah tangan kanannya terkulai dan remote tv -benda yang paling banyak dipencet orang di masa kini setelah handphone- terguling begitu saja di lantai.
,
Rasa penat akibat tumpukan pekerjaan di kantor hanya bisa ditiup hilang oleh rasa rileks. Saat ini hanya tv yang bisa menimbulkan perasaan itu. Namun belum lagi rasa rileksnya datang, pandangannya ke tv tertutupi buku tulis terbuka yang dipenuhi soal-soal matematika sederhana.
“Ayah, ini Pe-er aku. Aku nggak bisa mengerjakannya!” ujar Karina sambil mengacungkan buku tulis tepat 10 cm di depan muka ayahnya.
,
Di dalam dada Beben, api kecil terpantik dan mulai menyala.
“Jangan menghalangi Ayah,” geramnya tanpa melirik Karina.
Karina menurunkan tangannya, lalu duduk merapat di samping Beben, “Bantu Karina dong, Ayah!”
“Nanti!” geram Beben lagi dengan mata masih terpaku ke layar tv. Namun rasa nikmat menontonnya mulai hilang.
,
Karina terus mendesak manja. Ia bergelayut, menempel sampai memandang lekat-lekat wajah ayahnya dari jarak dekat. Akhirnya dengan terpaksa Beben memutuskan untuk mengalah pada keinginan putri satu-satunya itu. Ia ambil buku dari tangan Karina dan menatap soal-soal kelas 2 SD itu sekilas. Lalu dengan pandangan tak percaya, ia menoleh ke wajah Putrinya dan menyemprotkan pertanyaan, “Begini saja tidak bisa?”
“Susah atuh, Ayah,” Karina tersenyum manja.
,
Senyum yang bila ia lontarkan pada ibunya, pasti akan membuahkan cubitan gemas di pipi. Namun kali ini yang ia terima adalah suara tertahan dari ayahnya, “Kapan pe-er ini dikumpulkan?”
“Besok,” jawab Karina ringan.
“Kapan pe-er ini diberikan?” suara Beben tambah tertahan.
“Seminggu lalu, kan waktu itu…”
,
Suara Karina terpotong bentakan ayahnya, “Kenapa baru sekarang dikerjakan? Soal ini ada 30 nomor! Tidak mungkin kamu mengerjakannya dalam semalam!”
Keduanya diam sejenak, ketegangan memuncak. Seperti yang dibilang orang bijak, sekali kita melepaskannya, rasa marah itu akan terus bertambah sampai akhir. Beben pun begitu, ia melanjutkan teriakannya, “Ayah tidak akan membantu! Ini pelajaran penting buat kamu! Lain kali tidak boleh tugas ditunda-tunda! Sekarang tidur!”
Beberapa menit setelah Karina masuk kamar, rasa penyesalan bercampur gelisah melanda Beben. Setelah mengalami perasaan seperti itu selama beberapa jam, ia tertidur di sofa. Di dalam tidurnya itu ia melihat Lisa, istrinya yang baru saja wafat 2 minggu lalu. Beben berteriak frustasi, “Lisaaa! Teganya kamu meninggalkan kami!”
,
Lisa tidak menjawab, tapi pergi keluar rumah. Beben berlari menyusul. Di luar hujan gerimis. Mereka berdua berdiri dalam hujan tanpa berkata-kata. Rasa dingin air hujan melarutkan semua perasaan galau dan mendatangkan ketenangan. Ketika Beben menoleh, Lisa sudah tidak ada. Tetapi di tanah tergeletak buku hariannya. Beben terbangun. Dengan mata berkaca-kaca ia pergi ke kamar dan menemukan buku harian itu tergeletak di meja rias. Selama 2 minggu ini, barulah ia berani membukanya. Buku itu masih baru, baru satu kalimat pendek tertulis di halaman pertama. Tulisan Lisa itu berbunyi: Kalau hal kecil saja bisa membuat kita marah, bukankah itu mengindikasikan seberapa besar ukuran kita sebenarnya?
,
Beben terhenyak. Lisa benar, Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan orang lain, tetapi orang yang disebut kuat adalah orang yang bisa mengalahkan rasa marah dalam dirinya.
,
Beben memeluk Karina yang sudah tertidur dengan air mata membekas di pipinya yang mungil. Beben bertekad akan menjadi orang paling kuat di dunia buat putrinya itu.
 
,

THE READING MOTHER

Penulis: Eka Wardhana
baca-buku-rumpen    “Begini nih rasanya ada di Antah Berantah,” keluh Niken.
Ia berdiri kebingungan di depan reruntuhan yang dulunya adalah sebuah terminal angkutan pedesaan. Tadinya ia hampir yakin kalau salah tempat, namun di plang penunjuk terminal yang sudah karatan masih jelas tertulis “Terminal Jasinga”. Meski begitu kakinya jadi ragu untuk melangkah masuk, padahal di sinilah ia janjian dengan suaminya untuk dijemput.  Namun hujan deras yang turun mendadak membuat keraguannya hilang, bergegas ia masuk ke dalam terminal dan menemukan sisa bangunan yang masih bisa dipakai untuk tempat berteduh. Di tempat itu, seorang wanita seusianya juga sedang duduk berlindung. Dari pakaiannya yang sederhana, jelas-jelas tampak kalau ia adalah penduduk setempat.
Setelah mengangguk dan saling bertukar senyum, Niken bertanya, “Kenapa terminal ini diruntuhkan, Bu?”
“Oh, dipindahkan ke terminal baru yang lebih besar di Kulon,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Barat. Suaranya benar-benar beraksen daerah perbatasan Bogor-Banten, khas penduduk setempat. Namun hal itu tak menghalangi pembicaraan berlanjut. Ketika hujan bertambah deras, seorang bapak datang dengan tubuh basah kuyup. Teman bicara Niken mempersilakannya duduk di sisa bangku, namun ketika bergeser untuk memberi tempat, dari keresek di pangkuannya jatuh beberapa barang yang bagi Niken rasanya tak nyambung dengan keadaan tempat itu yang benar-benar kental bau pedesaannya. Niken membantu memunguti kartu-kartu huruf dan buku-buku belajar membaca yang bagus dengan gambar berwarna-warni serta kertas tebal jenis glossy yang mengkilat.
“Wah, aku saja tak punya buku-buku ini di rumah,” pikir Niken dengan ingatan yang langsung melayang pada putrinya yang akan berulang tahun ke-5 minggu depan.
“Buat anaknya, Bu?” tanya Niken sambil menyerahkan buku-buku dan kartu-kartu tadi.
Ibu itu tersipu malu, “Bukan, ini buat saya…”
Melihat alis Niken terangkat bingung, ia melanjutkan masih dengan tersipu, “Saya memang belum bisa membaca. Di kampung kami dulu, anak-anak diajarkan mengaji tetapi belum ada yang mengajar membaca huruf latin. Jadi saya tumbuh buta huruf.”
“I… ibu dapat ini dari mana?” tanya Niken masih tetap bingung.
Ibu tadi mengangguk, tersipu lagi, lalu berkata, “Itu dari bekas majikan saya. Dua tahun ini saya bekerja di rumahnya yang besar di Bogor. Anak laki-laki saya yang waktu itu berusia 3 tahun saya titipkan pada suami di kampung. Majikan saya itulah yang menunjukkan saya pentingnya membaca. Ia belum terlalu tua, tetapi sudah sakit-sakitan. Biar begitu, tiap malam ia pasti menyempatkan waktu mengajak kedua anaknya membaca. Ceritanya begitu indah dan dibacakan dengan suara yang merdu. Saya sendiri lama-kelamaan tertarik dan ikut mendengarkan. Majikan saya seolah mengerti dan membiarkan saya duduk di lantai. Saya pun berusaha menyelesaikan semua pekerjaan setiap malam sebelum ikut mendengarkan…”
Wanita itu berhenti sejenak untuk menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya. Tangannya tampak gemetar memegangi buku-buku indah tadi. Lalu melanjutkan ceritanya, “Seminggu yang lalu majikan saya itu meninggal dunia. Sehari sebelum ia meninggal, saya bertanya padanya: Ibu, apa saya harus tetap tinggal di sini untuk merawat Keisya dan Rafid? Majikan saya itu menggeleng, katanya, Saomi, Keisya dan Rafid masih punya ayah untuk merawat mereka. Namun anak kamu di kampung masih punya ibu. Pulanglah, bawa buku-buku ini, belajarlah membaca. Lalu bacakan pada anakmu buku-buku yang bagus seperti yang kubacakan pada Keisya dan Rafid. Ingat Saomi, buku itu seperti lebah. Bila lebah membawa madu dari satu bunga ke bunga yang lain, buku membawa pikiran indah dari orang-orang pintar ke otak anak-anak kita…
Saomi menunduk, Niken ikut menunduk sementara air mata menetes dari ujung hidungnya. Pikirannya melayang ke putrinya, Aisha. Ia ingat beberapa kali Aisha membawa buku padanya minta dibacakan. Namun setiap kali pula ia katakan, nanti ya, sayang. Akhirnya Aisha berhenti minta dibacakan dan kini lebih banyak menonton kakak sepupunya main game.
“Aisha, maafkan Bunda,” isaknya dalam hati.
Air mata dari kedua wanita itu mengalir justru ketika hujan mulai mereda. Saat matahari senja semburat merah, mereka berpisah. Suami Niken telah datang menjemput dengan mobilnya, sementara Saomi melanjutkan perjalanan ke rumah dengan angkutan pedesaan. Niken berbisik dalam hati, setiap kali hatiku menjerit malas untuk membacakan buku, aku akan ingat kisah Saomi, The Reading Mother.
Suami Niken tersenyum, sambil menyetir ia berkata, “Bunda, tadi Ayah baca bukunya Henry Ward Beecher, ia bilang: Buku tidak dibuat untuk menghias rumah, namun tidak ada perhiasan rumah yang lebih indah dibanding buku-buku…”
Air mata Niken pun menetes lagi….
referensi:
twitter: @rumpenpublisher