SENYUM KREATIVITAS

penulis: Ekawardhana
,
images2Tujuh tahun yang lalu, Sofyan berteriak penuh takjub, “Lihat gambar Eya ini, Mah!”
Tangannya mengacungkan selembar kertas ke depan wajah istrinya. Sang istri sedikit mengerutkan dahi tapi tetap menambahkan seulas senyuman. Jelas ia tak begitu paham maksud suaminya. Apalagi yang diperlihatkan Sofyan hanyalah gambar corat-coret buatan Eya, putri mereka yang baru berumur 3 tahun. Apa yang bikin heboh sih? Eya kan memang sudah biasa gambar begini!
,
“Lihat, Eya sudah bisa membuat leher pada gambar orang ini!” ucap Sofyan tidak sabar melihat reaksi istrinya.
“Oh iya,” ucap istrinya datar tapi melebarkan senyumannya biar tidak tampak terlalu polos.
“Bukan cuma ‘oh iya’ dong!” ujar Sofyan lagi. “Kamu tahu tidak sih, tidak banyak anak berumur 3 tahun yang bisa gambar orang selengkap ini! Lihat: ada rambut, hidung, telinga, alis, jari dan leher! Semua lengkap!”
Melihat istrinya masih ‘cengar-cengir’, Sofyan langsung menyampaikan kesimpulannya, “Itu artinya Eya punya bakat di bidang gambar! Itu kan bisa dibilang dia punya bakat kreativitas yang besar!”
,
Istri Sofyan baru mengangguk mengerti. Ia langsung paham, suaminya yang bekerja sebagai desainer pada sebuah biro periklanan memang sangat mengagungkan kreativitas. Dengan moto hidup “Orang kreatif nggak ada matinye”, ia pasti lega melihat bibit kreativitas tumbuh di dalam darah dagingnya sendiri.
,
Namun itu 7 tahun yang lalu. Malam ini, rasa bangga itu seolah sudah tak tersisa. Eya kini duduk di kelas 5 SD. Saat dimana setiap orangtua mulai mengkhawatirkan monster besar bernama Ujian Nasional. Meski masih setahun lagi, untuk menghadapi sang monster, ribuan orangtua mendaftarkan anaknya sedini mungkin untuk ikut kelas-kelas bimbingan belajar. Namun sebagai orang yang mengerti prinsip-prinsip kreativitas, Sofyan tidak sampai memaksa Eya memasuki “Sekolah-Sekolah Gladiator” itu. Dari awal Sofyan tahu bahwa bakat putrinya bukan di bidang akademis seperti matematika dan sains. Bakat Eya ada di bidang seni. Sofyan paham betul itu. Namun akhirnya ia tak tahan juga melihat di kelas setinggi itu Eya belum hapal perkalian 1 sampai 100, belum lagi cara-cara melakukan perkalian dan pembagian dasar.
,
“Belajar matematika setiap malam dengan Papa!” perintah Sofyan pada putrinya.
Eya pun menurut. Kini setiap selesai shalat maghrib, ia menundukkan wajah di depan soal-soal matematika yang diberikan ayahnya dari buku-buku panduan Ujian Nasional. Pensil yang dipegangnya sama seperti hari-hari yang lalu, namun yang dihadapinya kini berbeda. Bila dulu ia menghadapi kertas putih yang siap digambar apa saja, kini ia menghadapi kertas yang dipenuhi deretan angka-angka yang dirasakannya amat penuh ancaman. Kertas putih yang dulu jadi sahabatnya kini sudah jadi musuhnya, hanya karena bukan ia yang mengisi kertas itu, namun orang-orang dewasa yang katanya pintar-pintar.
,
Tetes demi tetes air mata Eya bercucuran. Sofyan telah melihat itu selama berhari-hari, tetapi ia mengeraskan hati untuk tidak menyerah. Eya harus lulus UN dengan nilai bagus seperti ia dulu lulus Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, titik! Namun, bila tetes air yang terus-menerus jatuh bisa melubangi batu, air mata seorang putri pun pasti bisa meluluhkan hati ayahnya. Maka, ketika melihat Eya lagi-lagi duduk membeku kebingungan, Sofyan memutuskan untuk memberinya jeda. Di ambilnya secarik kertas gambar. Ia sodorkan kertas itu ke depan putrinya lalu berkata, “Sekarang kamu menggambar dulu setengah jam. Setelah itu kerjakan soal lagi!”
,
Namun sampai waktunya tidur, kertas itu tak berisi apa-apa kecuali bercak-bercak air mata. Sofyan merasa kesabarannya habis, “Sudah tidur kamu! Papa tidak peduli kamu mau dapat nilai UN berapa nanti!”
Eya pergi ke kamarnya dengan mata basah. Untuk meredakan rasa galau suaminya, sang istri datang menyuguhkan teh campur madu kesukaan Sofyan. Lalu, sambil mengambil kertas gambar Eya tadi, dengan lembut sang istri berkata, “Sejak belajar matematika sama Papa, Eya sudah tidak pernah menggambar lagi…”
,
DUG! Benak Sofyan seperti dihantam palu! Eya si jago gambar yang dulu pernah ia bangga-banggakan pada teman-teman sekantornya kini sudah tidak menggambar lagi? Perlahan-lahan ia ingat tulisan berbingkai yang dipasang di dinding kantornya: “Ketika kita mendapat berkah kehidupan, adalah tragedi bila membiarkan ada bagian-bagian diri kita berikut ini mati: semangat kita, kreativitas kita atau keunikan-keunikan kita.” (Gilda Radner).
,
“Maafkan Papa, Eya!” ujar Sofyan sambil berlari menyusul Eya. Sang istri tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala, “Ayah dan anak sama saja.”
Sang istri lega karena tahu suaminya tak akan lagi memaksa putrinya mengingkari bakat-bakat yang diberikan Tuhan. Ia tahu bahwa mulai besok, suami dan putrinya akan tersenyum merekah lagi seperti dulu. Senyum yang mereka namakan dengan bangga: “Senyum Kreativitas Keluarga Sofyan”..
.
mau update berita terbaru yuk follow
twitter: @rumpenpublisher

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s