Cintai Saudaramu, Nak!

we

Ayah dan Bunda, kita bisa saja menyesali banyak hal: kita bisa saja menyesali badungnya kita di masa kecil, kita bisa saja menyesali salahnya pilihan kuliah yang pernah diambil, kita bisa saja menyesali ribuan hal lain dalam hidup kita, namun satu hal yang sudah pasti: kita tidak bisa dan tidak boleh bisa menyesali anak-anak kita yang telah lahir. Pilihan yang tak akan pernah ada jawabannya adalah ketika orangtua disuruh menunjuk mana di antara anak-anak mereka yang paling mereka sayangi atau mereka benci. Bila ada di antara kita yang sanggup memilih –apapun itu alasannya- saya hanya berharap semoga Tuhan masih berkenan mengampuni kita…. JREEENG! (Tambahkan sedikit musik latar bernuansa seram, hihi).
Ayah dan Bunda, berbeda dengan anak tunggal, anak-anak yang tumbuh dengan beberapa saudara sekandung selalu memiliki dunia yang lebih kompleks, karena ia harus berbagi, harus saling mengerti dan harus mengelola beragam perasaannya pada kakak-kakak dan adik-adiknya. Desmond Tutu bilang bahwa, “Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita dilahirkan”. Namun seandainya saya disuruh memilih, saya lebih suka dilahirkan dalam sebuah keluarga besar daripada menjadi anak tunggal, walau kita tahu menjadi anak tunggal punya kenyamanan segudang lebih banyak. Jadi ingat apa yang ditulis Sarah Dessen dalam Lock and Key, “Saya tidak dapat membayangkan betapa berbedanya bila saya ternyata menjadi bagian dari sebuah keluarga besar, tidak hanya punya orangtua dan kakak-adik, namun juga punya paman, bibi, para sepupu yang semuanya bisa kita bilang dengan bangga: itulah keluarga besarku. Mungkin ada kalanya kamu merasa tersesat seorang diri, namun satu fakta yang pasti: kamu sebenarnya selalu punya orang dekat tempat kamu bisa berbagi.”
Hanya saja, Ayah dan Bunda, kita semua tahu satu hal: tidak mudah lho menjadi orangtua dengan anak lebih dari satu. Punya anak banyak identik dengan keributan setiap hari. Persis seperti yang ditulis Lemony Snicket dalam Horseradis: Bitter Truths You Can’t Avoid, “Kakak-beradik yang bilang mereka tidak pernah bertengkar, hampir pasti berarti telah menyembunyikan sesuatu.”
Hmm, semoga beberapa tips yang saya kumpulkan ini bisa membantu agar Anda, yang punya anak lebih dari satu atau dua, bisa membuat rombongan Anda menjadi kompak:
·         Pertama sekali sadarilah bahwa rasa persaudaraan antar kakak-beradik harus dibentuk, bukan dilahirkan. Fakta menyedihkan sudah bicara: banyak kakak-beradik di negara kita yang saling melakukan tindak kekerasan satu sama lain. Seperti Maya Angelou bilang, “Saya tidak percaya kelahiran saja bisa membentuk kita menjadi seorang saudara lelaki atau seorang saudara perempuan. Kelahiran hanya membuat kita sama dalam asuhan orangtua kita. Persaudaraan sebenarnya adalah kondisi yang diciptakan.”
·         Selanjutnya sadarilah bahwa dengan memiliki anak banyak, kita tidak perlu terlalu merisaukan utuhnya perabot atau rapinya rumah, dibanding dengan orang yang di rumahnya tak ada anak-anak lagi. Renungi deh kisahnya Harmon Killebrew ketika dia bilang begini, “Ayah pernah mengajakku dan adik laki-lakiku bermain di halaman. Saat itu ibu keluar rumah dan berseru, ‘Hei, kalian bikin rumputnya acak-acakan’. Ayah pun menjawab, ‘Kita kan tidak sedang menumbuhkan rumput, kita sedang menumbuhkan anak-anak lelaki.”
·         Susah atau senang, tumbuhkan selalu perasaan ceria, sikap optimis serta kata-kata positif di keluarga besar kita. Seperti yang dibilang Garrison Keillor, “Kenangan paling indah di masa kanak-kanakku adalah ketika membuat kakak laki-lakiku tertawa begitu keras sampai makanan keluar dari hidungnya.”
·         Manfaatkan anak-anak perempuan agar ikut membina dan menjaga adik-adiknya. Punya adik akan menumbuhkan sikap kewanitaan seorang anak perempuan lho. Sam Levenson menyatakannya dengan jenaka, “Jika kamu mau tahu bagaimana pacar kamu akan memperlakukan kamu setelah kalian menikah, dengarkan saja bagaimana ia berbicara dengan adik lelakinya.”
·         Karena bersaudara banyak rawan konflik emosi, selalu arahkan emosi mereka dengan kata-kata yang baik, walaupun tidak selalu harus logis-logis amat. Seperti yang dikatakan Lord Chesterfield, “Nenek saya bilang, menjadi gagah itu berarti kamu tidak memukul hidung adikmu dan selalu mau berbagi makanan dengan mereka.”
·         Bila anak-anak saling bertengkar, segeralah tengahi, dudukkan persolannya dengan objektif dan suruh anak-anak saling minta maaf dengan bersalaman dan berpelukan. Semakin dini, semakin mudah hal ini dilakukan. Ingat kekompakkan para saudara sekandung seringkali menjadi kekuatan besar di masa depan. Dalam The Secret World of Siblings, Erica E. Goode menulis, “Hubungan kakak-beradik –Dimana 80% orang Amerika punya- akan selalu berlanjut setelah pernikahan, akan membuat orang bisa mengatasi kematian orangtua mereka, akan bisa menyembuhkan perasaan yang hancur akibat persahabatan yang kandas. Hubungan kakak-beradik akan selalu menyemaikan rasa kedekatan, hangat, kesetiaan dan saling percaya.”

Ajar Anak Menyuarakan Pikiran

Ayah dan Bunda, dalam teori Kecerdasan Ganda kita akan mendapati salah satu dari beragam kecerdasan manusia adalah kecerdasan verbal.  Bersyukur deh bila anak kita memiliki kemampuan berbicara yang baik, namun bila tidak, apa yang harus kita lakukan? Apakah lebih baik fokus di penguatan kecerdasan lain yang memang potensial -karena toh memang setiap manusia memiliki kekuatan yang berbeda di tiap kecerdasan itu-? Jawabnya tentu tidak, kita tetap harus menguatkan setiap kecerdasan yang dirasa kurang dengan cara yang tepat. Jadi, bagaimana ya menguatkan kecerdasan verbal?
Ayah dan Bunda, saya sempat melongo mendengar informasi dari kakak saya yang tinggal di Hamburg, Jerman, bahwa pola pendidikan dasar di sana 60 persennya diarahkan pada kemampuan verbal. Hasilnya terlihat jauh dengan anak-anak di negeri kita tersayang ini, bila kebanyakan anak-anak kita tampak terhambat bila ditanya atau disuruh bicara di depan umum, anak-anak Jerman akan berebut mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan, bahkan sebelum guru menyelesaikan pertanyaannya. Bagaimana caranya mereka bisa begitu ya?
Jawaban kedua pertanyaan di atas kira-kira sama, Ayah dan Bunda, yaitu bukannya melatih lidah dan bibir agar bicara lebih lancar (karena cara ini baru tepat bila anak masih berusia bayi), tetapi lebih kepada mengembangkan pikirannya.  Jadi ajak anak menyuarakan pikirannya, bukan menggerakkan bibirnya!
Mengapa harus pikiran? Karena Ayah dan Bunda, kemampuan verbal yang kita harapkan dari anak adalah kemampuan berbicara, bukan kemampuan ngobrol. Iya apa iya, sih? Kalau ngobrol mah nantinya nggak akan beranjak dari anak alay dan anak nongkrong dong. Tentu kita ingin anak-anak kita jauh lebih baik dari itu.
Mengapa harus pikiran? Karena secara teknis, hal itulah yang dilatih para pendidik di Jerman. Di Taman Kanak-kanak, sudah biasa kalau akan mengerjakan sesuatu, anak-anak akan diatur untuk duduk melingkar agar setiap anak mempunyai akses visual yang sama ke guru. Lalu guru menjelaskan bahwa hari itu mereka akan membuat suatu benda, misalnya: cover buku. Setelah bentuk covernya diperlihatkan, guru pun memperlihatkan bahan-bahan pembuatnya. Lalu langkah pertama dilakukan dengan memperlihatkan alat dan bahan dasar, misalnya kertas serta gunting, sambil dilontarkan pertanyaan kepada anak-anak, “Pertama-tama apa yang harus kita lakukan dengan kertas dan gunting ini ya?” Di saat itu semua anak akan berebut mengacungkan tangan, “Dilipat dulu, Bu!” “Dilipat lalu digunting, Bu!” dll… Guru akan menerima setiap pendapat (walau pasti banyak yang ngaco, maklum deh anak-anak), kemudian memperlihatkan caranya. Setelah itu untuk masuk tahap kedua, guru akan memperlihatkan bahan berikutnya dan bertanya lagi. Begitu seterusnya. Jadi polanya jelas terlihat: berpikir dulu, lalu berkata – berpikir lagi, lalu berkata lagi- and so on…
Namun dan tapi nih, Ayah dan Bunda, bila berpikir dulu baru bicara, besar kemungkinannya anak-anak justru malah akan tampak pendiam. Nah lho, jadi timbul kekhawatiran baru deh: gimana dong kalau jadinya anak saya malah dianggap kurang gaul dan akhirnya dikucilkan?
Ah, ah, jangan khawatir, Ayah dan Bunda, karena bicara yang tanpa didahului pikiran itu malah banyak berakibat negatif lho. Seorang pengarang tanpa nama bilang, “Kebodohan biasanya dihasilkan ketika lidah lebih cepat dari otak.”
Sementara pengarang tanpa nama yang lain juga bilang, “Bicara itu murah karena suplainya lebih melimpah dari tuntutan.”
Ah, Ayah dan Bunda, orang yang diam karena berpikir bukanlah berarti seorang pendiam. Anak yang dibiasakan dirangsang dulu pikirannya baru berbicara, justru akan cakap dalam berdiskusi, bukan hanya sekadar berargumen. Robert Quillen bilang, “Diskusi menambah pengetahuan, sementara argumen malah menambah peluang kesalahan.”
Ayah dan Bunda, tulisan ini hanya sebagai pembuka bahan berpikir lho, bukan menawarkan tips-tips yang jelas dan gamblang. Jadi harap mencari tahu lebih banyak bagaimana cara menerapkannya, bahkan carilah tahu apakah memang benar anak-anak bisa dilatih berpikir dulu baru bicara di setiap kesempatan atau tidak?
Sebagai penutup, ayo renungkan apa yang ditulis oleh seorang pengarang -yang lagi-lagi lupa mengenalkan dirinya-, katanya, “Anjing tidak dikenal sebagai anjing berkualitas tinggi hanya karena ia pandai menggonggong. Manusia pun begitu: tidak dikenal sebagai orang baik hanya karena ia fasih dalam berbicara.”

Bagaimana Menanam Empati di Benak Anak-anak?

images
Ayah dan Bunda, apa bedanya simpati dan empati? Di bangku kuliah, saya ingat dosen saya mendefinisikan keduanya kira-kira seperti ini: “Simpati adalah kemampuan memahami apa yang dirasakan orang lain tetapi terlalu dalam sehingga kita sendiri hanyut di dalamnya. Sedangkan empati adalah kemampuan memahami perasaan orang lain tanpa hanyut di dalamnya.”
Jadi mana yang lebih unggul? Tentu empati, sebab kalau tidak hanyut dalam perasaan orang, kita punya peluang untuk membantunya menemukan jalan keluar. Nah, seberapa penting sebenarnya empati itu?
Biar kita minta Mr. Daniel Goleman –pakar Kecerdasan Emosi- menjawabnya, “Kalau Anda tidak memiliki kemampuan mengelola emosi, kalau Anda tidak memiliki kesadaran diri, kalau Anda tidak mampu mengelola emosi-emosi yang menekan, kalau Anda tidak punya empati dan hubungan yang efektif dengan orang lain, maka tidak peduli betapa pun cerdasnya Anda, Anda tidak akan pernah mencapai kesuksesan.”
Nah lho, jadi memiliki empati ternyata modal penting bagi cerahnya masa depan anak-anak kita. Oke, kalau begitu bagaimana ya caranya agar anak-anak kita bisa memiliki empati? Mudah-mudahan beberapa tips yang saya kumpulkan ini bisa membantu…
Beberapa Cara Mendidik Anak Memiliki Empati:
·         Saya menyarankan agar Ibu lebih banyak berperan dalam pendidikan empati, sesuai dengan fitrah wanita yang lebih unggul dalam hal ini (tentu bukan berarti para ayah berlepas tangan lho). Daisaku Ikeda berpendapat, “Dalam pandanganku, para wanita adalah penjaga kedamaian yang alamiah. Sebagai pemberi kehidupan dan pendidik anak, wanita punya fokus lebih kuat pada hubungan antar manusia. Para wanita terikat dengan tuntutan untuk membesarkan anak dan melindungi keluarganya. Para wanita lah yang lebih mampu membangun perasaan dalam tentang empati, yang bisa membuat anak mampu merasakan apa yang ada di balik kenyataan yang dilihatnya.”
·         Ajak anak untuk memperhatikan orang lain lebih dekat. Jika ada temannya yang nakal, ajak anak untuk berdiskusi, mungkin temannya itu sedang merasa sedih di rumah, dll. Andrea Arnold menulis, “Saya selalu berpikir jika Anda melihat seseorang dengan lebih seksama, Anda akan mempunyai empati buat mereka. Sebab Anda akan mengenali mereka sebagai manusia, tak masalah apapun yang telah mereka lakukan sebelum itu.”
·         Ajari anak sedikit-sedikit bahasa daerah orangtua atau tempat ia tinggal, berikut (dan ini yang penting) tata krama bersikap sesuai adat daerah itu. Mempelajari adat istiadat orang lain membuat kita mengerti perbuatan yang mereka lakukan. Michael Gove berpendapat sama, “Mempelajari bahasa asing dan kultur yang menyertainya, adalah satu hal yang paling berguna untuk memperluas empati dan simpati seorang anak.”
·         Buat anak merasa nyaman dengan dirinya. Sadarkan bahwa dia memang berbeda dalam banyak hal dengan orang lain. Setelah itu barulah ajak ia melihat bahwa orang lain pun memiliki kelemahan dan kelebihannya sendiri. Misalnya dengan berkata, “Tubuh kamu memang paling kecil di antara teman-teman, tetapi tidak berarti kamu harus malu dan rendah diri lho. Lihat saja, kalau bernyanyi, ternyata suara kamu banyak disukai orang!” Heather Wilson bilang, “Anak-anak bertengkar karena melihat perbedaan dengan orang lain (ada anak yang jelek, ada anak yang terlalu jangkung, ada anak yang bodoh, dll). Sebagai orangtua, kita harus mengajarkan anak-anak menerima perbedaan itu sekaligus menyadarkan dimana potensinya. Hal ini akan membuat anak-anak nyaman dengan dirinya dan akan mudah bagi mereka untuk menunjukkan empati serta menerima orang lain.”
·         Ajak anak untuk mendengarkan orang yang bicara padanya. Sebab kebanyakan kita seperti yang dibilang Ernest Hemingway, “Ketika orang bicara, dengarkan seutuhnya. Kebanyakan orang tidak pernah mendengar.”
·         Ajak anak untuk banyak memberi senyum dan melakukan hal-hal kecil yang baik untuk orang lain. Itulah yang akan membuatnya menjadi calon orang sukses. Leo Buscaglia menegaskan hal ini, “Terlalu banyak kita meremehkan kekuatan sentuhan, senyuman, kata-kata yang ramah, telinga yang suka mendengarkan, penuturan yang jujur, dan perhatian-perhatian kecil yang ditujukan buat orang lain, padahal semua hal itu memiliki potensi besar untuk mengubah jalannya kehidupan.”
Semoga yang sedikit ini cukup menginspirasi, Ayah dan Bunda. Sebagai penutup, yuk dengarkan kata-kata Theodere Roosevelt, sebab kata-katanya lagi-lagi menyadarkan bahwa kecerdasan emosi sangat penting bagi sebagai bekal kesuksesan seorang anak, “Tidak ada orang yang peduli berapa pun banyaknya yang kamu tahu, sampai mereka tahu berapa banyaknya kamu peduli.”

Disiplin, Antara Cinta dan Hukuman

1

Ayah dan Bunda, bila kita ditanya, “Apa tugas terberat sebagai orangtua?”, mungkin sebagian besar kita akan menjawab sama: menanamkan disiplin pada anak. Iya apa heu-euh?
Berat dan sulit, sebab kebanyakan kita hampir tidak mampu membedakan mana yang disiplin dan mana yang hukuman. Heu-euh apa iya?
Berat dan sulit, sebab disiplin adalah materi wajib yang harus diajarkan orangtua. Malah menurut saya haram nih hukumnya bila orangtua mengabaikan faktor yang satu ini. Beneran…
Disiplin adalah materi wajib sebab bila tak ada disiplin, konsekuensinya amat berat lho, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi orangtuanya. Ingat-ingat deh kalimat ini: Disiplin tidak akan mematahkan semangat anak sesering ketidakdisliplinan mematahkan hati orangtua mereka.
Disiplin adalah materi wajib untuk diajarkan mengingat disiplin sangat penting pengaruhnya. Bahkan bakat besar dalam diri anak akan menjadi tak banyak artinya bila tak ada disiplin. Roy L. Smith bilang, “Disiplin adalah api yang dinyalakan dengan baik, yang tujuannya adalah memasak bakat menjadi kemampuan.”
Disiplin adalah materi wajib, karena tanpa disiplin sukses anak di masa depan tak mungkin dicapai. Demikian keyakinan Jim Rohn yang berpendapat, “Disiplin adalah jembatan antara cita-cita dan pencapaiannya.”
Namun masalahnya, Ayah dan Bunda, terkadang kita terjebak dalam kekerasan saat melaksanakan disiplin. Saya ingat sindiran Haim G. Ginott, katanya, “Ketika seorang anak memukul anak lainnya, kita sebut itu agresi. Ketika anak memukul orang dewasa, kita sebut itu ketidaksopanan. Ketika orang dewasa memukul orang dewasa lain, kita katakan itu serangan. Namun saat orang dewasa memukul seorang anak, kita sebut itu disiplin.”
Tanpa sadar, dengan mengatasnamakan disiplin, kita ingin anak jadi penurut buta. Ini jelas tidak baik. Dalai Lama pernah bilang, “Ketika seseorang bicara tentang disiplin diri, sering kali artinya ia ingin mengontrol orang lain.”
Jadi, sampaikanlah disiplin dengan cinta. Bila tidak, akan jatuhlah kita kepada tindak kekerasan. Benar juga nih Bette Davis, ketika ia berpendapat, “Disiplin adalah simbol perhatian terhadap seorang anak. Anak memerlukan bimbingan. Jika dilakukan dengan cinta, tak ada yang namanya sesuatu yang terlalu keras buatnya.”
Agar disiplin yang kita tanamkan bisa disampaikan dengan cinta, ini nih sedikit tips yang saya kumpulkan:
·         Sadari bahwa tindakan mendisiplinkan diri memang berbau penderitaan. Namun ingat apa yang dinasihatkan Jim Rohn, “Kita semua pasti mengalami penderitaan akibat salah satu dari dua sebab: rasa sakit akibat disiplin atau rasa sakit akibat penyesalan. Perbedaannya adalah: rasa sakit akibat disiplin beratnya beberapa ons, sedangkan sakit akibat penyesalan beratnya beberapa ton.”
·         Sadari bahwa hukuman bukanlah disiplin. Sebab menghukum tanpa menanamkan nilai-nilai baik, tidak akan membuat seorang anak memiliki disiplin. Ini pendapat Bruno Bettelheim, “Hukuman dapat membuat kita menuruti perintah yang diberikan, namun hanya sampai di situ. Disiplin paling efektif datang dari kesadaran diri, bukan dari luar. Disiplin yang benar harus tumbuh dari nilai-nilai di dalam diri seorang anak.”
·         Berikan pengertian pada anak mengapa sebuah aturan dibuat dan kita harus berdisiplin melaksanakannya. Ini dikuatkan oleh Amy Laura Dombro, yang bilang, “Anak yang dihukum di bawah pohon tak akan tumbuh disiplinnya, sebab mereka tidak mengerti dan tidak bisa mengevaluasi apa kesalahannya. Agar anak berdisiplin, buat ia memahami bukan aturannya, tetapi alasan mengapa aturan itu dibuat.”
·         Terakhir adalah yang paling klasik tapi paling mudah dilupakan: contohkan pada anak bahwa kita adalah orang yang disiplin. Hal ini jelas akan terlihat saat orangtua mengelola manajemen rumah tangga: menaati aturan yang disepakati, merencanakan dan melaksanakan sebuah kegiatan, mengelola keuangan, menepati janji, dll. Ingat apa yang Stephen R. Covey bilang, “Kepemimpinan efektif adalah meletakkan apa yang harus didahulukan di tempat pertama, sedangkan manajemen (termasuk memenej rumah tangga) yang efektif adalah disiplin…”

PENTING MANA YA: INTELEKTUAL ATAU KARAKTER?

Berpikir
Iya kan, Ayah dan Bunda: Siapa sih yang tidak senang punya anak pintar di sekolah? Sebaliknya, siapa pula yang nggak khawatir punya anak yang sulit mengangkat nilainya di sekolah, iya kan Ayah dan Bunda? Nah, kacamata “Intelektual menentukan kesuksesan masa depan” ini juga sempat mengganggu saya. Ditambah kenyataan bahwa dulu saya termasuk anak yang lumayan berprestasi secara akademis, saya agak gemetar juga ketika putra kedua saya terlihat kesulitan mengejar nilai akademisnya. Untung saya pernah belajar psikologi sedikit, jadi sudah dari semula saya tahu bukan di bidang akademis lah Tuhan menganugerahkan kelebihan pada putra saya itu. Baru beberapa saat yang lalu lah kegundahan itu sirna, ketika putra saya itu menamatkan juz terakhir Al-Qur’an hanya dalam ¼ malam di hari libur pula. Padahal di sore harinya ia sempat bilang, “Bisa nggak ya malam ini aku mengkhatamkan Al-Qur’an lagi? Habis teman-temanku sudah melewati aku mengkhatamkan Qur’an.”
Putra saya itu pasti nggak akan tahu betapa luluhnya hati saya ketika beberapa saat kemudian ia mengulurkan tangannya minta disalami, lalu sambil tersenyum ia bilang, “Aku berhasil khatam Qur’an lagi.”
Ternyata dia punya karakter yang potensial! Alhamdulillah jutaan kali….
Ayah dan Bunda, Webster Dictionary mendefinisikan karakter sebagai: Kualitas mental dan moral individual yang meliputi keunikan, kekuatan dan reputasi baik seseorang. Jadi sebenarnya inilah inti diri kita. Bukan hanya demi meningkatkan intelektual, namun untuk memperkuat karakter pula lah seharusnya kita menyekolahkan putra-putri kita. Hal ini sudah disadari oleh Martin Luther King, Jr. Ketika ia berkata, “Fungsi pendidikan adalah untuk mengajar orang berpikir intensif dan berpikir kritis. Intelektual dan karakter, itulah tujuan sejati pendidikan.”
Mungkin ada anak yang sudah punya segudang piala di lemarinya, tentu hal ini akan membuat orangtuanya merasa bangga. Namun hati-hati lho, sebab semuanya belum selesai. Bila intelektual anak sudah tumbuh, jangan lupa untuk menyuburkan juga karakternya. Hal ini telah lama diingatkan oleh Abraham Lincoln, anak miskin penebang kayu yang akhirnya menjadi presiden Amerika, “Karakter seperti pohon dan reputasi seperti bayangan. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan tentang pohon, namun pohon itu sendirilah benda sebenarnya.”
Ayah dan Bunda, boleh saja sih intelektual anak banyak kita pasrahkan pengembangannya pada guru dan sistem sekolah, namun untuk menumbuhkan karakter, orangtualah guru anak sebenarnya. Mengapa ya? Sebab mendidik karakter lebih sulit dan keras. Hellen Keller mengingatkan kita, katanya, “Karakter tidak bisa dibangun dengan cara yang mudah dan tenang. Hanya dengan melewati pengalaman dan mencoba, serta melalui penderitaan lah jiwa seseorang bisa dikuatkan, ambisinya terinspirasi dan kesuksesan pun bisa diraih.”
Pentingnya karakter yang kuat bagi masa depan tergambar dari pernyataan Walter Anderson ini, “Ketika hal buruk terjadi, respon saya akan tergantung pada karakter dan kualitas hidup saya. Saya bisa memilih untuk duduk menangis, tak mau bergerak karena besarnya rasa kehilangan, namun saya juga bisa memilih untuk bangkit dari rasa sakit dan menghargai hadiah terbesar yang saya punya: hidup itu sendiri.”
Billy Graham juga berpendapat senada, “Ketika kekayaan hilang, tak ada yang sebenarnya hilang; ketika kesehatan hilang, memang ada sesuatu yang hilang; namun ketika karakter hilang, maka kita kehilangan semuanya.”
Jadi bagaimana ya cara mendidik karakter yang baik? Sedikit tips saja ya:
·         Perhatikan lalu bangunlah kata-kata yang diucapkan anak untuk lebih bernada positif dan dipenuhi kata-kata sifat yang baik. Hal ini saya simpulkan dari pernyataan Mark Twain, “Karakter seseorang dapat dipelajari dari kata-kata sifat yang biasa ia gunakan dalam percakapan.”
·         Ajarkan sikap Ihsan, yaitu selalu merasa dilihat Allah SWT. Didik anak melakukan hal terbaik walau tak seorang pun melihatnya. H. Jackson Brown, Jr. Sependapat, “Karakter kita adalah apa yang kita lakukan ketika kita merasa tak seorang pun melihatnya.”
Jadi Ayah dan Bunda, mana yang lebih penting: intelektual atau karakter? Yah, simak saja deh pernyataan dua orang ini:
Albert Einstein, “Kebanyakan orang bilang intelektual lah yang menciptakan ilmuwan hebat. Mereka salah: yang membuat ilmuwan menjadi hebat adalah karakternya.”
Bruce Lee, “Pengetahuan memberi kita kekuatan, tetapi karakter memberi kita rasa hormat orang lain.”
Nah….

ADA APA DENGAN MARAH?

marah
Ayah dan Bunda, perasaan apa yang Anda rasakan pada anak Anda yang membiarkan pintu depan terbuka sehingga masuklah lalat ke meja makan (kita kan sudah tahu repot banget mengusir lalat yang sudah mengelilingi makanan), padahal sebelumnya Anda telah memintanya untuk menutup kembali pintu itu? Pertanyaan lanjutannya adalah: setelah itu, tindakan apa yang akan Anda lakukan?
 Bagi kebanyakan kita (termasuk saya juga nih), jawaban pertanyaan pertama adalah marah, minimal kesal. Saya pikir sampai di situ keadaannya masih wajar, maklum kita kan bukan malaikat. Namun jawaban pertanyaan kedua benar-benar akan membuat tiap kita bisa berbeda derajat: ada yang derajatnya sampai ke langit, ada yang masih di permukaan bumi, bahkan mungkin justru ada di dasar jurang. Mengapa demikian? Sebab jawabannya bisa beragam dengan beragam efek psikologis pula: ngomel, jewer, cubit, berteriak, mengingatkan dengan baik-baik, diam saja, dan buanyak lagi…
Seringkali masalahnya bukan pada marah, tapi pada apa yang terjadi pada kita ketika sedang marah. Merasa marah, dalam hal-hal tertentu, bahkan bisa membuahkan hal-hal positif. Seperti pendapat pribadi Mary Garden, “Emosi yang indah saat kita sedang terjebak kebuntuan adalah rasa marah. Marah lah –dibanding hal yang lain- yang lebih membuat saya bisa melepaskan diri dan mendatangkan kreativitas dan produktivitas.”
Kenapa dunia diam saja melihat penderitaan muslim di Palestina yang dijajah Israel? Jawabannya mungkin seperti yang dikatakan Bede Jarrett, “Dunia sebenarnya memerlukan juga kemarahan. Sebab Dunia seringkali membiarkan kejahatan terjadi karena Dunia tidak cukup merasa marah.”
Menurut James Russel Lowell pun, rasa marah lebih produktif dari sedih, “Seringkali ketika orang merasa sedih, mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka hanya menangisi keadaan yang sedang dialami. Namun bila orang sedang marah, biasanya mereka membuat sebuah perubahan.”
Namun Ayah dan Bunda, seperti yang sudah kita ketahui bersama: marah, lebih banyak mudharatnya, bahkan bisa sangat berbahaya. Mohon perhatikan apa yang dikatakan Robert Green Ingersoll, “Kemarahan adalah angin yang meniup-mati lampu pikiran kita.”
Jadi kunci pertamanya adalah: bila rasa marah sudah tak terhindarkan lagi, jagalah pikiran kita agar tidak padam. Benar juga nih yang dikatakan Aristoteles, “Setiap orang dapat menjadi marah, itu hal yang mudah. Namun marah pada orang yang tepat, dengan derajat yang tepat, pada waktu yang tepat, untuk tujuan yang tepat, serta dilakukan dengan cara yang benar, adalah hal yang berada di luar kekuatan setiap kita. Mungkin bisa, tetapi benar-benar tidak mudah dilakukan.”
Kunci keduanya –tapi ini so pasti lebih sulit laaah- adalah: sebisa mungkin jangan marah. Saya setuju pendapat yang mengatakan bahwa akhlaq seseorang terlihat saat merespon secara reflek hal-hal tidak enak yang terjadi padanya (semisal: tersenggol, tersandung, dicuekin, dll.). Bila reflek pertama yang keluar rasa marah, akhlaqnya perlu diperbaiki nih (walaupun pada akhirnya ia menyesal karena marah). Nah, respon secara reflek itu ternyata keluarnya dari alam bawah sadar. So? Agar respon-reflek-kilat kita bukanlah marah, caranya adalah dengan menanami alam bawah sadar kita dengan hal-hal yang diajarkan agama: banyak berdzikir, khusyuk dalam shalat dan berdoa, banyak membaca Al-Qur’an serta merenungi maknanya…
Ayah dan Bunda, marah seperti api besar, dengan cepat anak-anak kita bisa melihat dan “terbakar” dengan cara menirunya. Sementara sabar seperti air sumur jernih-sejuk, yang untuk menikmatinya harus bersusah-payah dulu kita menimba airnya, setelah itu masih harus diberikan pula kepada anak-anak kita. Marah bersifat aktif, sabar lebih pasif. Dengan kata lain jauh lebih mudah mengajarkan anak-anak rasa marah daripada bersikap sabar.
Ada satu tips lagi yang dapat kita ajarkan pada diri kita, lalu pada anak-anak, agar tidak mudah marah dalam menghadapi sesuatu: berpikirlah apakah kita bisa melakukan pertolongan. Sebab menurut Plato hanya ada dua hal dimana orang tidak bisa marah terhadap sesuatu, yaitu pada hal yang bisa mereka tolong dan pada hal yang mereka tidak bisa tolong sama sekali.
Jadi, ADA APA DENGAN MARAH? Jawabannya silakan simpulkan sendiri dari pendapat Marcus Aurelius ini, “Lebih banyak kesengsaraan yang timbul sebagai konsekuensi rasa marah daripada penyebab kemarahan itu sendiri.”