MENGAJAR ANAK HIDUP TERHORMAT: APA YANG TERJADI SEANDAINYA PARA SAHABAT MELIHAT KEHIDUPAN KITA?

                Ayah dan Bunda, satu lagi berita baik buat kita yang tengah merindukan kebangkitan Islam. Seorang anak Indonesia, La Ode Musa, menjadi pemenang ke-3 Hafizh Qur’an kategori 30 Juz pada MTQ Internasional 2016 (10-14 April) di Mesir. Yang membuat takjub, prestasi itu diraih Musa dengan status sebagai peserta termuda di acara tersebut. Usianya baru 7 tahun, sementara para peserta lain berusia di atas 10 tahun. Hal itu yang membuat Musa mencuri perhatian masyarakat Mesir.

La Ode Musa

Bayangkan deh Ayah dan Bunda, para penonton dan peserta lain sampai berebut minta selfie bersama Musa. Banyak juga orang yang berebut untuk mencium kepala kecilnya. Itulah tanda bila orang Arab menaruh rasa hormat pada orang lain. Betapa tidak hormat, Ayah dan Bunda, saat Musa membacakan hapalannya, banyak orang sampai menangis terharu. Tidak kurang sampai 2 presiden memberikan ucapan selamat padanya. Satu Presiden Indonesia dan satu lagi Presiden Mesir. Bahkan Presiden Mesir sampai takjub melihat betapa anak sekecil itu mampu menghapal 30 Juz Al-Qur’an padahal ia tak bisa berbahasa Arab! Musa sampai kembali diundang ke Mesir saat Ramadhan nanti.

Ayah dan Bunda, itulah kehormatan yang diberikan Allah SWT pada orang-orang yang membuat dirinya hidup terhormat dengan mencintai Kitab-Nya. Saya ingat, beberapa tahun lalu sempat ngetren fenomena tampilnya para balita jenius. Di usia yang tak sampai 5 tahun mereka bisa hapal banyak sekali hal: mulai dari ibu kota negara di seluruh dunia sampai hal-hal yang bersifat biografis. Hal itu juga mengandung kehormatan dan penghargaan, namun sifatnya hanya duniawi. Lagipula tak ada kabar lagi tentang bagaimana prestasi para balita jenius itu sekarang.

                Menurut saya, Ayah dan Bunda, hidup terhormat bagi seorang muslim bukan diukur dari hal-hal yang sifatnya dunia semata, namun diukur dengan sejauh mana kita dan keluarga mampu melaksanakan hal-hal yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bila menghapal seperti Musa saja sudah sedemikian menakjubkan, apalagi bila bisa melaksanakannya. Wajarlah bila Allah menjanjikan Surga buat orang-orang yang membuat dirinya mampu hidup secara terhormat.

Kehormatan adalah hal yang penting diajarkan sejak dini. Kalau tidak, lihatlah sendiri apa yang terjadi sekarang: Siswi-siswi SMU yang saling menukar foto bugil mereka, menggertak polisi dengan memakai nama ayahnya walaupun sudah jelas dirinya melanggar lalu lintas, dan lainnya. Ayah dan Bunda, salah satu cara mengajarkan hidup terhormat pada anak-anak adalah dengan mengenalkan mereka pada cara hidup orang-orang terhormat pula. Siapa lagi orang-orang terhormat yang paling utama selain Muhammad Saw dan para sahabatnya?

Ayah dan Bunda, seperti apa perasaan kita bila ditanyakan: Bagaimana bila Rasul Saw dan para sahabatnya datang ke rumah dan melihat langsung kehidupan kita? Bila kita merasa malu, kiranya cukuplah sebagai permulaan. Itu tandanya kita sudah siap memulai hidup terhormat seperti yang diajarkan generasi terbaik umat Islam itu.

Bagaimana bila ditanyakan dari sudut pandang yang sebaliknya: Seperti apa perasaan para Sahabat Nabi bila melihat kehidupan kita?

Ayah dan Bunda, para sahabat Nabi pun manusia. Jadi saya pikir wajar bila reaksi mereka pun akan beragam. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa mereka akan merasa sangat prihatin. Sebab walaupun di masa kini berhala sudah tidak lagi disembah, namun umat Islam masih gandrung kepada hal-hal lain seperti uang, ketenaran, pangkat, ketampanan, kecantikan, musik dan lainnya. Untuk bisa membayangkan bagaimana perasaan para sahabat, kita dapat merenungkan hal-hal yang membedakan kehidupan mereka dengan kehidupan saat ini:

 

Sahabat   Kita  
1.       Harta dunia mengejar-ngejar para sahabat dalam jumlah melimpah.

2.       Para sahabat mampu meraih kenikmatan hanya berbekal sedikit air wudhu dan sehelai sajadah.

3.       Para sahabat bercita-cita secepat mungkin mati dalam keadaan syahid.

4.       Para sahabat menangis mendengar ayat-ayat Allah dibacakan.

5.       Para sahabat banyak dibicarakan orang karena prestasi mereka yang mendunia.

6.       Para sahabat berlomba menegur orang yang bersalah.

 

  1.       Kita setengah mati mengejar-ngejar harta dunia dalam jumlah sedikit.

2.       Kita setengah mati mengejar kenikmatan dengan menghabiskan uang tak sedikit untuk berwisata dan berbelanja.

3.       Kita bercita-cita hidup selama mungkin dan tak ingin mati.

4.       Kita menitikkan air mata bila mendengar nyanyian sedih dilantunkan.

5.       Kita berebut membicarakan keburukan orang lain

6.       Kita berlomba dalam melakukan banyak kesalahan.

 

 

Masih banyak perbedaan-perbedaan lain, namun yang sedikit di atas itu pun sudah cukup. Cukuplah kiranya bila kita merasa malu membayangkan para sahabat Nabi melihat kehidupan kita sekarang dari akhirat. Membayangkan hal-hal seperti itu bukanlah hal aneh. Sebab bukankah nanti di Hari Kiamat, semua orang akan bisa melihat perbuatan kita sampai ke hal-hal terkecil?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s