UNDERWEAR RULE (2)

“Poin Underwear Rule berikutnya adalah:
“4. Mencegah dan Melindungi Adalah Tanggung Jawab Orangtua.
“Ingat satu hal, Di: keselamatan dan kebahagiaan anak adalah tanggung jawab orangtua, bukan guru atau kerabat lainnya. Maka dari itu, orangtua harus terdidik sebelum mendidik anak. Selama komunikasi tentang seks masih berlandaskan edukasi, tentu anak akan menerimanya sesuai penalaran yang kita sampaikan kepada mereka. Jadikan komunikasi dengan terbuka sebagai tradisi dalam keluarga sehingga anak tidak pernah merasa sungkan dalam membicarakan dan membahas apa pun kepada orangtua.
“5. Mengajarkan Cara Bereaksi Terhadap Tindakan Mencurigakan
“Terdapat 4 panduan yang bisa kita ajarkan kepada si Kecil untuk bereaksi saat ada orang asing yang berperilaku tidak wajar kepada mereka. 4 panduan itu adalah:
“- Cara Mencurigai dan Melaporkan
Beritahu kepada anak mengenai siapa saja orang yang bisa mereka percaya dalam keluarga dan sekolah. Jadi, ketika ada orang lain di luar itu, anak pantas merasa curiga dan mengomunikasikannya kepada orangtua atau guru di sekolah.
“- Cara Mengenali Orang-orang Mencurigakan di Lingkungan Anak
Dalam kebanyakan kasus, pelaku adalah seseorang yang dikenal anak. Tak heran bila kondisi ini membuat anak sulit memahami bahwa apa yang dilakukan orang tersebut adalah bentuk penyiksaan. Untuk mengatasinya, orangtua tidak boleh putus komunikasi dengan anak, pastikan setiap hari bertanya kepada anak apakah ada seseorang yang memberikannya hadiah atau memperlakukannya lebih dari biasanya.
“- Cara Mengamati Orang-orang Mencurigakan di Luar Lingkungan Keluarga dan Sekolah
Dalam beberapa kasus pelecehan seksual, pelakunya adalah orang asing. Ajarkan aturan sederhana kepada anak tentang tata cara bersikap dan berbicara dengan orang asing. Beberapa di antaranya adalah menolak satu mobil dengan orang yang mereka tidak kenal, jangan menerima hadiah dari siapa pun kecuali keluarga dan teman, dan menolak ajakan bermain di luar sekolah.
“- Cara Mencari Pertolongan
Anak-anak harus tahu bahwa selain orangtua, ada orang profesional yang dapat membantu mereka bila ada orang lain yang berbuat tidak sopan kepada mereka, misalnya guru, polisi, pekerja sosial, dan psikolog sekolah.
“Nah, begitu lho, Di. Sudah jelas kan? Di? Di?”
Tak terdengar jawaban Dyah, cuma isak tangis tertahan.
“Kok nangis, Di?”
“Ak… aku merasa bersalah banget pada Maya, Put. Ternyata banyak hal yang aku lupakan dalam mendidik dia.”
“Wajar, Di. Banyak sekali kita yang belum tahu.”
“Iya, tapi kejadian itu membuatku merasa kecolongan, Put….”
Putri diam sejenak, lalu menghibur, “Insya Allah belum terlambat Di. Kalau Maya masih ketakutan, bawa saja ke tempat aku. Biar aku coba melaksanakan terapi ringan tapi menyenangkan.”
Kini rasa syukur melanda hati Dyah, menggantikan rasa takut dan penyesalan yang belum lama ini begitu mencekiknya. Di luar itu, sebuah ide pun muncul: Aku akan mengusulkan pada sekolah untuk mengadakan semacam mini seminar yang temanya tentang Underwear Rule yang baru aku tahu barusan. Mudah-mudahan Putri juga bisa membantu. Semoga peristiwa ini tidak akan pernah terulang lagi…

UNDERWEAR RULE (1)

“Ma, orang jahat itu siapa sih?” tanya Maya manja pada Dyah, ibunya.
“Orang jahat itu orang yang bermaksud nggak baik. Misalnya mereka ingin mengganggu, menyakiti atau mengejek orang lain. Memangnya ada apa, May?”
“Tadi di sekolah, Maya dipegang-pegang sama Pak Oon. Teman-teman Maya pada teriak: Ih Pak Oon jahat! Ih Pak Oon jahat!”
Berbarengan dengan bunyi DEG! Di jantungnya, Dyah cepat menyambar, “Pak Oon siapa, May?”
“Itu yang suka di kebun. Maya nggak suka soalnya tangan Pak Oon bau tanah!”
“Kamu mengadu sama Bu Guru nggak?” suara Dyah mulai melengking.
Maya menggeleng, “Nggak ah, kata Pak Oon jangan bilang Bu Guru, ini rahasia…”
Pucat pasi dan lemas, Dyah terhenyak di kursi. Tak disangkanya, sekolah TK mahal tempat Maya bersekolah bisa kecolongan mempekerjakan tukang kebun dengan penyakit psikis seperti Pak Oon. Dyah hampir yakin kalau Maya tidak berbohong. Selama ini putri sulungnya itu tak pernah berdusta. Lagi pula ada baiknya berhati-hati dan menganggap hal ini sangat serius untuk diselidiki. Aku sama sekali tidak boleh mengabaikan masalah ini dengan menganggap cerita Maya mengada-ada. Resikonya terlalu besar untuk diabaikan.
Tanpa membuang waktu, Dyah menelepon wali kelas Maya. Setelah menjelaskan bolak-balik dengan agak heboh khas ibu-ibu, Dyah mendapat janji untuk membicarakan hal ini besok pagi di sekolah. Sementara itu Maya diizinkan untuk diam dulu di rumah.
Setelah itu Dyah tak lagi sanggup mengerjakan apa pun dengan tenang. Sampai akhirnya ia teringat pada Putri. Teman akrabnya itu lulusan Fakultas Psikologi. Tanpa mengecek apakah pulsanya masih cukup untuk ngobrol lama, Dyah menekan nomor Putri dan langsung tersambung. Tak lama berbasa-basi, Dyah tembak langsung ke masalah.
“Itulah perlunya mengenalkan Underwear Rule pada anak-anak sejak balita, Di,” respon Putri kalem.
“Apaan tuh? Jelaskan dong. Semoga kamu punya waktu.”
“Oke, tapi siap-siap dengerin ya, aku mau ceramah nih.”
“Seumur-umur baru kali ini aku pengen banget dengerin kamu. Beneran!”
Putri tertawa kecil, lalu mulai ceramahnya, “Underwear Rule adalah pedoman sederhana bagi orangtua dalam membimbing anak tentang aturan-aturan berkomunikasi, berinteraksi, dan bersentuhan dengan orang lain, terutama di luar keluarga inti. Aturan ini mengajarkan sebuah prinsip dan nilai hidup yang tegas kepada anak bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Tidak boleh ada orang lain yang menyentuh dan menyakitinya, bahkan tidak juga orangtua dan saudara kandung.”
“Oooh begitu. Tolong teruskan, Put…”
“Oke, ada 5 poin Underwear Rule yang wajib kita ajarkan:
“1. Mengajarkan si Kecil Bahwa Tubuh Mereka Harus Dijaga dan Dilindungi.
“Jelaskan kepada anak bahwa ada beberapa anggota tubuh yang merupakan bagian intim, yang sifatnya sangat pribadi, tidak boleh dilihat dan dipegang orang lain, kecuali untuk alasan medis. Usahakan untuk tidak memberikan julukan atau istilah samaran dalam mengajarkan bagian intim tubuh si kecil. Mengajarkan soal seks kepada anak harus dilakukan lebih dari sekali dan berulang-ulang. Tujuannya agar anak langsung ingat ketika ada seseorang yang berusaha menyentuh di bagian tubuh yang tidak pantas dan segera bereaksi sesuai yang diajarkan.
“2. Ajarkan Perbedaan Sentuhan yang Pantas dan Tidak Pantas.
“Anak tidak selalu bisa membedakan bagaimana cara orang lain menyentuh mereka, apakah sentuhan tersebut wajar atau tidak. Tak hanya sentuhan, ajarkan kepada anak bahwa orang lain dilarang keras memandangi bagian tubuh mereka yang pribadi. Jika ada yang bersikap demikian, anak harus menegur atau melaporkan orang tersebut kepada guru di sekolah dan orangtua.
“3. Ajarkan Perbedaan Rahasia Baik dan Rahasia Buruk.
“Salah satu strategi yang kerap kali dilakukan oleh pelaku pelecehan seksual adalah mengajak anak untuk bermain rahasia-rahasiaan. Terkadang anak merasa bersemangat dan diistimewakan bila dipercaya menyimpan rahasia orang lain. Maka dari itu, sampaikan kepada anak bahwa tidak semua rahasia pantas disimpan, terutama rahasia yang membuat mereka tidak nyaman, ketakutan, sedih, dan tersiksa.”
Putri menarik napas sejenak, “Eh, kamu sudah bosan belum dengerin ceramah aku, Di?”
“Belum, Put. Malah lagi asyik-asyiknya nih.”
“Oke deh, kalau begitu kita lanjuuut….”

CITA-CITA PENTING YANG TIDAK BIASA…

Pemandangan di luar jendela tidak menarik perhatian Yuli. Padahal ia tidak sering naik kereta api keluar kota seperti ini. Kepala gadis kecil 10 tahun itu justru dipenuhi banyak pertanyaan tentang masa depan. Ia menoleh, menatap wajah ayahnya yang dari tadi asyik menekuni bacaan.
“Ayah, menurut Ayah siapa sih yang paling penting di dunia ini?”
Mansyur berhenti membaca, menatap wajah putri satu-satunya itu. Dengan kening berkerut karena berpikir, Mansyur menjawab, “Sepertinya kesehatan deh.”
“Ayah, aku bukan bertanya apa tapi siapa…”
“Oh iya. Hmm… Kalau begitu menurut Ayah sih jawabannya adalah keluarga. Benar nggak?”
“Kalo menurut aku sih itu tidak benar, Ayah.”
“Lho? Gitu ya? Hmm… oke deh. Nah, menurut kamu siapa dong yang paling penting di dunia ini?”
“Aku tidak tahu sih, makanya aku nanya sama Ayah…”
“Wah, Ayah jadi bingung nih. Tadi Ayah sudah jawab, tapi kamu bilang bukan. Jadi….”
“Soalnya tadi kan Ayah bilang kalau jawabannya adalah keluarga. Menurut aku itu salah karena keluarga bukan hal yang paling penting di dunia, tetapi…”
“Tetapi apa?”
“Tetapi merupakan segala-galanya.”
Mansyur tersenyum, sedikit kaget bercampur kagum, “Boleh nggak Ayah tahu kenapa menurut kamu keluarga adalah segala-galanya bagi kita?”
“Sebab menurut aku, orang yang tidak punya keluarga akan sedih dan sendirian di dunia ini.”
“Kan dia bisa punya teman?”
“Iya, tapi teman kan tidak sama dengan keluarga. Kan Ayah pasti lebih sayang aku dibanding sayang pada teman Ayah. Iya kan?”
“Ya iyalah.”
“Jadi karena keluarga itu segala-galanya, aku sekarang sudah punya cita-cita yang nggak akan berubah-ubah lagi seperti kemarin.”
“Oh ya, apa itu?”
“Cita-citaku adalah menjadi Ibu yang baik buat anak-anakku nanti dan menjadi istri yang shalihah buat suamiku kelak.”
“….” Mansyur jadi speechless. Baru setelah beberapa detik ia bisa berkata lagi, “Lantas bagaimana dengan segudang cita-cita kamu kemarin yang ingin menjadi dokter, arsitek, juara lomba masak dan lain-lain itu?”
“Itu kan cita-cita pendamping. Menurut aku perempuan harus siap menjadi istri dan ibu. Benar kan?”
Mansyur mendadak khawatir, jangan-jangan Yuli mulai menyerah dengan nilai-nilainya di sekolah sehingga ia mengambil jalan mudah, jalan yang sudah pasti menjadi kodrat setiap wanita. Seolah membaca pikiran itu, Yuli memegang tangan Mansyur, “Ayah nggak usah khawatir. Nilai-nilaiku tetap baik. Aku tetap semangat belajar. Ibu yang pintar kan bisa mendidik anak-anaknya menjadi pintar juga. Iya kan?”
Mansyur menahan kekagetannya lagi, kali ini dengan memaksa dirinya berpikir keras, ini cita-cita yang tidak biasa bagi seorang anak. Tapi apakah salah? Hmm… kukira tidak salah sih. Yuli hanya menyadari bahwa hal yang tidak terelakkan baginya adalah menjadi seorang istri dan ibu. Jadi mengapa tidak diniatkan sekalian untuk menjadi istri dan ibu yang baik? Pikirannya buyar saat suara Yuli terdengar lagi, “Jadi kenapa Ayah kemarin marah-marah sama Ibu?”
“Hmm… itu ya? Kalau itu sih begini… hmm… mungkin memang Ayah lagi emosi sih. He..he… Kenapa gitu?”
“Ayah harus sayang sama Ibu dan banyak menahan marah dong. Ibu kan wanita yang penyayang, nah wanita penyayang itu adalah tiang keluarga.”
Tawa Mansyur pecah, sambil mengusap-usap kepala putrinya, ia mengucapkan janji, “Baiklah kalau begitu. Wah, di rumah kita ternyata ada satu lagi ibu-ibu nih. Ayah harus berhati-hati kalau bicara.”
Kali ini mereka berdua tertawa bersama-sama. Sampai tiba di tujuan, tidak ada lagi rasa bosan di perjalanan.

WASIAT DARI DUA ORANG IBU

Besok adalah hari pernikahan Tari dan Hari. Bila orang lain menyambut saat seperti ini dengan bahagia, Tari merasa perasaannya banyak bercampur dengan kesedihan. Betapa tidak, sang ibu yang terkena kanker stadium 4 sudah beberapa bulan ini hanya terbaring di tempat tidur. Seperti juga Hari, Tari sebenarnya merasa amat berat melangsungkan pernikahan di saat begini, namun akhirnya resepsi pernikahan jadi juga dilangsungkan justru karena permohonan amat sangat dari sang Ibu, “Selagi Allah memberikan waktu, Ibu ingin lihat putri terkecil Ibu memakai gaun pengantin.”
Setelah dokter angkat tangan, keluarga membawa Ibu Tari ke rumah. Usia di tangan Tuhan, bisa saja orang yang sedang menanti ajal tiba-tiba menemui kesembuhan, namun Tari dan kakak-kakaknya sudah mati-matian mempersiapkan perasaan merelakan bila tiba saatnya untuk berpisah dengan wanita yang begitu mereka cintai. Begitu pun hampir mustahil rasanya mencapai perasaan seperti itu. Seperti yang Tari rasakan malam ini, ketika ia duduk di samping ranjang ibunya.
“Sayangku,” suara lemah memanggil Tari. “Ketahuilah Nak, di saat-saat akhir hidup manusia, ada rasa penyesalan yang dialami semua orang. Bukan menyesali harta yang hilang, kesempatan yang luput atau jabatan yang beralih ke tangan orang. Bukan itu, Nak. Penyesalan yang dirasakan orang saat akhir hidupnya telah terlihat adalah menyesali betapa singkatnya waktu yang telah ia lewatkan bersama anak, suami dan saudara-saudaranya…”
“Ibu,” panggil Tari dengan mata berkaca-kaca, mencoba meminta ibunya agar beristirahat.
“Jangan minta Ibu tidur, Sayangku. Sebab inilah malam terakhir kamu arahkan baktimu untuk Ibu. Mulai besok, baktimu harus kau berikan untuk suamimu.”
Isak tangis terdengar pelan-pelan dari mulut Tari.
“Jangan menangis, berbahagialah. Tidak semua wanita mendapat suami shalih seperti Hari.”
Tari mengangguk, mengusap air mata dan mencoba tersenyum.
“Dengar wasiat ibu, Sayang: bila Allah Mengizinkan, kelak rumahmu akan diberkahi dengan anak-anak yang lucu. Namun sebelum menjadi seorang Ibu, jadilah dulu istri yang baik. Tidak bisa seorang wanita menjadi ibu yang baik tanpa menjadi istri yang baik. Nah, dengarlah: dalam diri setiap laki-laki tersembunyi seorang anak. Kelak kamu akan bisa melihatnya bila suamimu baru tiba di rumah dari tempatnya bekerja. Ia akan minta ini dan itu, persis seperti anak-anak. Jadi dalam diri seorang istri yang baik sudah pasti tersembunyi diri seorang ibu. Itulah pekerjaan utama seorang istri, Nak. Mendapatkan seorang suami adalah suatu berkah, namun menjaganya seumur hidupmu adalah pekerjaanmu. Lakukan pekerjaanmu itu dengan baik, minimal seperti yang dulu Ibu lakukan pada Almarhum Ayahmu selama 40 tahun.”
Tari mengangguk, air matanya menetes lagi. Ibu mengusap tetesan itu sambil menambahkan, “Suami dan istri itu seperti tangan dengan mata. Bila tangan terlukai, mata akan menangis. Bila mata menangis, tangan akan menghapuskan air matanya. Sayangku, bila suatu saat nanti kegelapan mendatangi rumah tanggamu, jangan usir dia dengan kegelapan lagi. Sebab kegelapan hanya bisa diusir dengan cahaya. Jangan usir kebencian dan amarah dengan kebencian dan amarah juga. Keduanya hanya bisa dienyahkan dengan cinta dan kasih sayang…”
Di tempat lain, Hari ditemui oleh kakak laki-laki satu-satunya. Sang Kakak menyerahkan sebuah amplop ke tangan Hari, “Saat Kakak menikah, Ibu menitipkan wasiat ini untuk Kakak baca. Saat itu Ibu berpesan agar memberikannya padamu bila tiba waktunya kamu untuk menikah juga…”
Hari menerima amplop itu dengan haru, terkenang ibunya yang kini telah tiada. Amplop itu berisi kertas berisi tulisan tangan khas ibunya.
“Anakku,” bunyi surat itu mulai terdengar seperti suara Ibu di telinga Hari. “Menjadi seorang suami dan seorang ayah adalah dua sisi mata uang. Seorang suami yang baik adalah ayah yang baik dan ayah yang baik adalah suami yang baik. Wasiat Ibu di hari pernikahanmu ini sederhana saja: Seorang laki-laki yang bijak tidak akan pernah menyuruh istrinya untuk diam, dia akan memberi tahu istrinya: betapa cantiknya kamu bila bisa menjaga perkataan kamu.”
Kakak Hari menepuk bahu adiknya itu, lalu berkata sambil tersenyum, “Itulah kunci kebahagiaan rumah tangga Kakak selama ini.”
Hari mengangguk, kini ia merasa lebih siap memasuki jenjang pernikahannya.
Tiga hari setelah pernikahan berlangsung, Ibu Tari meninggal dunia. Saat itu Tari ingin menceritakan wasiat ibunya pada Hari. Namun tak jadi ia lakukan, sebab setelah berpikir sejenak, ia berkata pada dirinya sendiri, “Wasiat itu bukan untuk suamiku, tapi untukku. Ibu pasti setuju bila wasiatnya itu untuk diamalkan, bukan untuk dikatakan.”
Hari juga tidak pernah menceritakan surat wasiat ibunya pada Tari, ia hanya melaksanakannya dengan baik. Itulah yang membuat mereka berdua dapat mengayuh biduk rumah tangga dengan mantap sejak sedini mungkin. Seakan keduanya tahu bahwa di tengah lautan ada sebuah pulau dimana anak-anak mereka menunggu untuk dilahirkan dan dididik menjadi orang-orang hebat berkat kedua orangtua mereka yang rukun dan saling menyayangi.

Kak Eka Wardhana – Penulis