Jadilah Laki-laki Sejati, Anakku…

bayi muslim
Ayah dan Bunda, kalau saja para laki-laki di negeri ini bisa menjadi laki-laki, akan banyak sekali masalah terselesaikan. Tak ada lagi korupsi karena koruptor sebenarnya hanyalah banci berkumis, yang ingin kaya tapi tak mau mengikuti persaingan dengan fair.
Tak ada lagi mental pengemis dan penganiaya. Mengapa bisa demikian? Karena seperti yang dikatakan Antoine de Saint-Exupery, “Menjadi laki-laki, tepatnya, adalah menjadi orang yang bertanggung jawab.”
Menanamkan mental laki-laki sejati kepada anak sungguh merupakan hal penting yang harus dilakukan.
Mental laki-laki sejati yang saya maksudkan ini bukan hanya untuk anak-anak lelaki, tetapi secara makna juga dimaksudkan untuk anak-anak perempuan. Sastrawan terkenal, Rudyard Kipling, juga setuju.
Hal ini tercermin dalam sebuah puisinya. Berikut ini saya coba sadurkan puisi indah karya Rudyard Kipling itu. Sambil menikmati kata-katanya, kita akan  banyak sekali pelajaran, apalagi puisi ini memang berbentuk nasihat orangtua kepada anaknya…
IF (Jika)
Jika kamu tetap dapat menegakkan kepala walau semua hal pada dirimu seolah menghilang dan tiap bagian dirimu menyalahkanmu. Jika kamu tetap dapat mempercayai dirimu sendiri saat semua orang meragukanmu, namun di saat yang sama kamu bisa mengerti apa yang mereka ragukan padamu.
Jika kamu dapat menunggu dan tidak dibuat lelah karenanya,
atau jadi orang yang dibohongi, tanpa berniat balik membohongi,
atau menjadi orang yang dibenci, tanpa bermaksud balas membenci,
dan dengan kebaikanmu itu kamu tidak bermaksud memamerkan kebaikanmu.
Jika kamu dapat bermimpi, namun tidak menjadikan mimpi-mimpimu sebagai tuanmu, Jika kamu dapat berpikir, namun tidak menjadikan pikiran-pikiranmu sebagai tujuan, Jika kamu dapat menjumpai kejayaan dan bencana, tanpa membuat dirimu berlebihan dalam senang dan sedih, Jika kamu dapat menahan diri mendengar kebenaran yang kau yakini dipelintir orang dan dijadikan jebakan buat orang-orang bodoh, Atau kamu dapat menahan diri menyaksikan hal-hal yang kamu perjuangkan dalam hidup ini, hancur,Dan kamu justru mencoba
membangunnya lagi dengan peralatan yang sudah tercabik-cabik…
Jika kamu membuat lompatan besar untuk meraih kemenangan dengan mempertaruhkan semuanya dalam satu momen, lalu kalah, tetapi bisa memulai lagi dari awal, dan tidak membuang napasmu untuk membicarakan kekalahan itu, Jika kamu dapat memaksa hati, syaraf dan otakmu tetap melayani kehendakmu lama setelah kehendakmu itu melemah, dan tetap bertahan ketika tak ada apa-apa lagi yang kau punya kecuali Sang Keinginan yang terus berkata, “Bertahanlah!”
Jika kamu bisa bicara dengan kerumunan orang dan tetap menjaga kewibawaan,
atau kamu berjalan dengan para raja, namun tidak kehilangan sentuhan yang merakyat, Jika baik lawan maupun sahabat tidak dapat melukaimu, Jika semua orang bisa mengandalkanmu, tanpa membuat mereka tergantung padamu, Jika kamu dapat mengisi menit tak termaafkan dengan 60 detik kebijaksanaan di tengah kesibukan penting, milikmu adalah bumi dan segalanya ada di dalamnya,
Dan –ketika masih banyak jika yang lain- kamu akan menjadi laki-laki sejati, Anakku!

Awas, Ada Imposter Syndrome!

Ayah dan Bunda, pernahkah Anda merasa heran melihat orang yang terlihat begitu mudah meraih sukses ternyata harus berakhir sebagai pesakitan, tertimbun reruntuhan bangunan kesuksesannya sendiri? Tak cukup jari tangan dan kaki kita untuk menghitung jumlah selebritis dan tokoh publik yang hidupnya seperti bintang jatuh: cemerlang sesaat, lalu menghilang. Terjebak narkoba, melakukan penganiayaan, perceraian, terlibat korupsi dan hal buruk lainnya menjadi bab penutup kisah sukses mereka yang hebat itu. Gejala apa ini? Ayah dan Bunda, inilah fenomena Imposter Syndrome, Sindrom Penipu.
 
Imposter Syndrome adalah perasaan seseorang yang menganggap bahwa prestasi yang dicapainya hanyalah kebetulan, bukan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Perasaan itu berbentuk ketidakpercayaan lagi pada diri sendiri, sehingga sadar atau tidak, tindakan yang diambilnya justru membawanya kepada hal-hal yang menghancurkan reputasi.
 
Itulah sebabnya, Ayah dan Bunda, gejala ini banyak menimpa para eksekutif muda yang beruntung menduduki kursi empuk karena ayahnya sudah tidak lagi duduk di situ, tanpa setidaknya memahami betapa keras usaha sang ayah dulu untuk bisa berada di sana. Atau para artis yang meroket hanya karena dilahirkan dengan bentuk fisik di atas rata-rata tanpa diimbangi kemampuan akting atau bermusik yang memadai.
 
Namun contoh di atas hanya fenomena ekstrim, sesungguhnya Imposter Syndrome banyak juga terjadi di kalangan kebanyakan dalam tingkat yang tidak terlalu ekstrim, tapi tetap sama berbahaya. Contoh hal ini misalnya: banyak anak yang meskipun berhasil mendapat tempat di sekolah lanjutan favorit, ternyata buruk prestasinya, hanya karena ia larut dalam kecurangan massal saat dulu menempuh Ujian Negara.
 
Sama seperti hal buruk lainnya, Imposter Syndrome tidak begitu saja terjadi, ia seperti karat besi yang semakin mengganas alias sulit dihilangkan, bila tidak segera dihapus saat muncul. Ayah dan Bunda, walaupun Imposter Syndrome bisa terjadi di segala usia dengan berbagai tingkat intensitas, cara menghilangkannya pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Bila orang dewasa cenderung lebih ke arah “Mengobati”, pada anak-anak lebih ke arah “Menghindari”. Intinya sederhana: buat anak agar biasa meraih prestasi berkat kematangannya sendiri, sebab Imposter Syndrome baru akan muncul sebagai hasil pencapaian prestasi yang dikarbit.
 
Beberapa cara berikut bisa dilakukan agar kelak buah hati kita bisa hidup sehat, terbebas dari Imposter Syndrome:
  • Koreksi diri sendiri dulu, apakah kita telah terkena gejala Imposter Syndrome? Bila kita merasa segala pujian orang buat diri kita melebihi diri kita yang sebenarnya, bila kita takut suatu ketika orang akan mengetahui siapa kita sebenarnya dan melontarkan cemoohan, lalu kita mulai meragukan diri sendiri, itulah gejala Imposter Syndrome. Atasi segera, sebab anak akan melihat dan meniru. Mereka itu benar-benar peniru ulung lho.
  • Ajarkan anak untuk tidak terlalu menyalahkan dirinya bila hasil yang ia inginkan tidak mulus tercapai. Sebab penelitian Psikologi-Kognitif menemukan bahwa gejala Imposter Syndrome kecil kemungkinan terjadi pada orang yang mempunyai Sikap A dibanding Sikap B. Sikap A adalah menganggap bahwa semua prestasi yang dicapainya akibat faktor internal (kemampuan dan usaha), sementara semua kegagalan yang dialami akibat faktor eksternal (tugas yang terlalu sulit dan ketidakberuntungan). Sikap B adalah kebalikannya: menganggap bahwa semua prestasi yang dicapainya akibat faktor eksternal, sementara kegagalan yang ia derita akibat faktor internal.
  • Dorong anak untuk lebih percaya diri (caranya banyak). Sebab penelitian DR Jagacinski menunjukkan, orang yang cenderung mengalami Imposter Syndrome menolak melakukan sesuatu bila menurutnya hal itu akan membuatnya tampak lemah dan nggak keren.
  • Waspada bila sikap anak terlalu merendah di depan orang lain. Secara kasar bisa dibilang sikap rendah hati bukan sikap alamiah anak-anak. Secara sadar atau tidak bersikap terlalu merendahkan diri di depan orang lain tujuannya agar mendapat predikat “Baik” atau “Rendah Hati” di depan orang lain. Namun sikap seperti ini berbahaya. DR Mark Leary dari Wake Forest University menerangkan bahwa pada diri orang yang sengaja merendahkan diri, lama-kelamaan akan tertanam pikiran bahwa dia memang tidak sebaik yang dikira orang lain.
Ayah dan Bunda, ternyata berbuat tidak jujur dan berbohong atas sesuatu yang sebenarnya tidak pantas dimiliki, memiliki konsekuensi psikologis yang berat: munculnya perasaan bersalah yang akhirnya menggiring tindakan kita untuk menghancurkan apa yang sudah dicapai. Ternyata memiliki sikap jujur dan amanah adalah modal luar biasa bagi seorang anak agar kelak bisa hidup berbahagia.