THE READING MOTHER

Penulis: Eka Wardhana
baca-buku-rumpen    “Begini nih rasanya ada di Antah Berantah,” keluh Niken.
Ia berdiri kebingungan di depan reruntuhan yang dulunya adalah sebuah terminal angkutan pedesaan. Tadinya ia hampir yakin kalau salah tempat, namun di plang penunjuk terminal yang sudah karatan masih jelas tertulis “Terminal Jasinga”. Meski begitu kakinya jadi ragu untuk melangkah masuk, padahal di sinilah ia janjian dengan suaminya untuk dijemput.  Namun hujan deras yang turun mendadak membuat keraguannya hilang, bergegas ia masuk ke dalam terminal dan menemukan sisa bangunan yang masih bisa dipakai untuk tempat berteduh. Di tempat itu, seorang wanita seusianya juga sedang duduk berlindung. Dari pakaiannya yang sederhana, jelas-jelas tampak kalau ia adalah penduduk setempat.
Setelah mengangguk dan saling bertukar senyum, Niken bertanya, “Kenapa terminal ini diruntuhkan, Bu?”
“Oh, dipindahkan ke terminal baru yang lebih besar di Kulon,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Barat. Suaranya benar-benar beraksen daerah perbatasan Bogor-Banten, khas penduduk setempat. Namun hal itu tak menghalangi pembicaraan berlanjut. Ketika hujan bertambah deras, seorang bapak datang dengan tubuh basah kuyup. Teman bicara Niken mempersilakannya duduk di sisa bangku, namun ketika bergeser untuk memberi tempat, dari keresek di pangkuannya jatuh beberapa barang yang bagi Niken rasanya tak nyambung dengan keadaan tempat itu yang benar-benar kental bau pedesaannya. Niken membantu memunguti kartu-kartu huruf dan buku-buku belajar membaca yang bagus dengan gambar berwarna-warni serta kertas tebal jenis glossy yang mengkilat.
“Wah, aku saja tak punya buku-buku ini di rumah,” pikir Niken dengan ingatan yang langsung melayang pada putrinya yang akan berulang tahun ke-5 minggu depan.
“Buat anaknya, Bu?” tanya Niken sambil menyerahkan buku-buku dan kartu-kartu tadi.
Ibu itu tersipu malu, “Bukan, ini buat saya…”
Melihat alis Niken terangkat bingung, ia melanjutkan masih dengan tersipu, “Saya memang belum bisa membaca. Di kampung kami dulu, anak-anak diajarkan mengaji tetapi belum ada yang mengajar membaca huruf latin. Jadi saya tumbuh buta huruf.”
“I… ibu dapat ini dari mana?” tanya Niken masih tetap bingung.
Ibu tadi mengangguk, tersipu lagi, lalu berkata, “Itu dari bekas majikan saya. Dua tahun ini saya bekerja di rumahnya yang besar di Bogor. Anak laki-laki saya yang waktu itu berusia 3 tahun saya titipkan pada suami di kampung. Majikan saya itulah yang menunjukkan saya pentingnya membaca. Ia belum terlalu tua, tetapi sudah sakit-sakitan. Biar begitu, tiap malam ia pasti menyempatkan waktu mengajak kedua anaknya membaca. Ceritanya begitu indah dan dibacakan dengan suara yang merdu. Saya sendiri lama-kelamaan tertarik dan ikut mendengarkan. Majikan saya seolah mengerti dan membiarkan saya duduk di lantai. Saya pun berusaha menyelesaikan semua pekerjaan setiap malam sebelum ikut mendengarkan…”
Wanita itu berhenti sejenak untuk menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya. Tangannya tampak gemetar memegangi buku-buku indah tadi. Lalu melanjutkan ceritanya, “Seminggu yang lalu majikan saya itu meninggal dunia. Sehari sebelum ia meninggal, saya bertanya padanya: Ibu, apa saya harus tetap tinggal di sini untuk merawat Keisya dan Rafid? Majikan saya itu menggeleng, katanya, Saomi, Keisya dan Rafid masih punya ayah untuk merawat mereka. Namun anak kamu di kampung masih punya ibu. Pulanglah, bawa buku-buku ini, belajarlah membaca. Lalu bacakan pada anakmu buku-buku yang bagus seperti yang kubacakan pada Keisya dan Rafid. Ingat Saomi, buku itu seperti lebah. Bila lebah membawa madu dari satu bunga ke bunga yang lain, buku membawa pikiran indah dari orang-orang pintar ke otak anak-anak kita…
Saomi menunduk, Niken ikut menunduk sementara air mata menetes dari ujung hidungnya. Pikirannya melayang ke putrinya, Aisha. Ia ingat beberapa kali Aisha membawa buku padanya minta dibacakan. Namun setiap kali pula ia katakan, nanti ya, sayang. Akhirnya Aisha berhenti minta dibacakan dan kini lebih banyak menonton kakak sepupunya main game.
“Aisha, maafkan Bunda,” isaknya dalam hati.
Air mata dari kedua wanita itu mengalir justru ketika hujan mulai mereda. Saat matahari senja semburat merah, mereka berpisah. Suami Niken telah datang menjemput dengan mobilnya, sementara Saomi melanjutkan perjalanan ke rumah dengan angkutan pedesaan. Niken berbisik dalam hati, setiap kali hatiku menjerit malas untuk membacakan buku, aku akan ingat kisah Saomi, The Reading Mother.
Suami Niken tersenyum, sambil menyetir ia berkata, “Bunda, tadi Ayah baca bukunya Henry Ward Beecher, ia bilang: Buku tidak dibuat untuk menghias rumah, namun tidak ada perhiasan rumah yang lebih indah dibanding buku-buku…”
Air mata Niken pun menetes lagi….
referensi:
twitter: @rumpenpublisher

One thought on “THE READING MOTHER

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s