MENANGKAP SEDIH

Penulis: Eka Wardhana
,
Acara belum dimulai, tetapi ballroom hotel sudah mulai diramaikan para undangan. Semangat mereka terasa memenuhi ruangan besar dan mewah itu. Semua penasaran ingin melihat serta berbicara langsung dengan Raisya Medinna -si penulis muda berbakat- dalam acara peluncuran film perdananya “KUTANGKAP SENYUMMU”.  Raisya, bintang hari itu, sudah tiba sejak pagi. Film yang diluncurkan ini didasarkan pada novel inspiratifnya dengan judul yang sama. Di umurnya yang belum lagi kedua puluh, ia seperti komet di langit malam yang jernih. Tak sampai satu tahun setelah novelnya meledak, kini filmnya pun diluncurkan.
,
Seperti halnya kebanyakan penulis berbakat, Raisya agak introvert. Ia tak pernah bisa menghapus rasa nervousnya bila harus berbicara di depan orang banyak. Apalagi dalam keadaan menunggu seperti sekarang. Rasanya dia ingin menghilang seketika dan tiba-tiba muncul di hutan yang jauh dan sepi. Dimana hanya ada dirinya, pepohonan dan burung-burung. Namun begitu, ia punya resep tersendiri untuk menghilangkan rasa cemasnya, caranya adalah dengan mengingat kejadian-kejadian manis di masa lalu. Raisya tersenyum sendiri saat pikirannya mulai menerawang masa kecilnya. Sepuluh tahun lalu, saat semua kesuksesannya ini bermula…
,
Ketika itu usianya baru sembilan jalan sepuluh. Ia sedang terjebak di rumah kakeknya, di sebuah dusun terpencil jauh di kaki Gunung Gede. Papa dan Mama memutuskan untuk menitipkan putri tunggal mereka itu di rumah Kakek selama seminggu, tepat di masa liburan semester. Karena sibuk dengan pekerjaan, baik Papa atau Mama, tidak bisa ikut tinggal di sana. Mereka langsung pulang hari itu juga. Terus-terang Raisya merasa dibuang. Bukannya dibawa melihat pantai atau Borobudur, ia malah ditaruh di tempat terasing ini. Jauh dari teman-temannya, jauh dari buku-buku komiknya, jauh dari game-game komputer kesukaannya.
,
Malam pertama di desa terasa amat panjang. Suara jangkrik dan hewan malam membuat Raisya hampir tak bisa tidur. Keesokan harinya Kakek membawa Raisya melihat-lihat desa. Kakek menunjukkan sawah dan ladang-ladang sayur miliknya. Kakek bahkan mengajak Raisya makan siang di dangau yang terletak tepat di tengah persawahan, dimana angin gunung yang sejuk mengusap-usap kulit sepanjang hari. Tapi hal itu tidak juga bisa menghilangkan rasa sedih dan sepi Raisya.
,
“Naaah,” ujar Kakek ceria sambil mengusap perutnya sendiri yang kekenyangan, “Setelah Shalat Ashar nanti, Kakek akan mengajakmu mengunjungi Priscilla dan anak-anaknya.”
“Siapa Priscilla? Orang bule? Tetangga Kakek?” tanya Raisya, mengucapkan beberapa kata pertamanya sejak tiba kemarin.
,
“Dia memang bule dan tetangga paling dekat,” jawab Kakek sambil tertawa. Lalu dengan tawa yang tiba-tiba meledak tambah keras, Kakek menambahkan, “Sudah jadi janda pula…”
“Uh, apa asyiknya berkunjung ke rumah tetangga!” gerutu Raisya dalam hati. “Apalagi anaknya banyak. Jangan-jangan mereka nakal-nakal pula! Terus apa kata Kakek tadi? Janda? Hah, mentang-mentang Nenek sudah tiada, jangan-jangan Kakek mau menikah lagi!”
,
Namun sejuta prasangka di hati Raisya lenyap ketika tahu bahwa Priscilla adalah nama kerbau bule betina milik Kakek. Sambil tertawa Kakek mengenalkan Si Penggembala, seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dari Raisya, “Ini Amat. Ia akan menjadi teman yang menyenangkan untukmu selama di sini.”
Mulanya Raisya ragu, namun Amat benar-benar anak yang ceria. Setelah Kakek pergi, Raisya bertanya, “Kenapa nama kerbau ini Priscilla?”
,
“Sebab kakekmu penggemar Elvis Presley. Itu lho, Raja Rock dari Amerika,” cengir si Amat.
“Terus?” Raisya masih belum mengerti.
“Priscilla itu kan nama istrinya Elvis,” jawab Amat. “Ketiga anak kerbau ini masing-masing bernama Lisa, Marie dan Presley. Itu penjabaran dari nama putri satu-satunya Elvis: Lisa Marie Presley. Oh ya, kerbau pejantan suaminya si Priscilla ini belum lama mati. Kamu pasti bisa menebak namanya kan?”
“Elvis?” tebak Raisya.
,
“Tepaaat!” sorak Amat sambil melompat ke kali.
Tawa Raisya terdengar merdu. Rasanya belum pernah ia tertawa seenak ini. Amat muncul dari dalam air, lalu berkata serius, “Waktu kamu tiba kemarin, aku sudah melihat kamu dari jauh. Saat itu kamu tampak seperti anak paling sedih di dunia. Padahal gampang saja melawan sedih itu! Bayangkan sedih itu seperti sehelai kain hitam, tangkap dia, lalu buang ke tempat sampah! Perhatikan, aku akan menangkap sedih dari wajah kamu…”
,
Tangan Amat menunjuk ke wajah Raisya, lalu mengambil sesuatu yang tidak tampak dan melemparkan sesuatu itu jauh-jauh. Raisya membalas, “Kalau aku, aku akan menangkap senyum kamu itu!”
Raisya menunjuk ke wajah Amat, mengambil sesuatu yang tidak tampak dan memasukkannya ke kantong celananya. Mereka berdua tertawa berderai.
,
“Raisya?”
Lamunan Raisya bubar, rupanya acara sudah dimulai dan ia diminta memberikan sepatah dua kata. Raisya menggerakkan tangannya di udara, mengambil sesuatu yang tak tampak dan membuangnya jauh-jauh rasa nervousnya. Ia berkata dalam hati, “Terima kasih Kakek, terima kasih Amat. Kalian telah menunjukkan bagaimana caranya untuk tetap bergembira. Berkat kalian aku tahu bahwa kegembiraan itu kita buat, bukan kita tunggu. Buku dan filmku adalah kisah tentang keceriaan kita bertiga selama kita liburan di sana.”
,

Ketika Raisya tampil, tepuk tangan pun membahana…

,

 

referensi:
,
mau update berita terbaru yuk follow
twitter: @rumpenpublisher

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s