UKURAN KITA

penulis: eka wardhana
,
Beben, si Ayah muda itu, duduk setengah terlentang di sofa. Gaya khas orang sedang lelah plus galau. Tangan kanannya teracung kaku ke depan sejenak, lalu memencet tombol “on” di remote tv yang dipegangnya. Dua kali menekan, barulah layar LCD di depannya menyala. Satu menit berikutnya dihabiskan untuk mencari channel yang cocok. Setelah itu barulah tangan kanannya terkulai dan remote tv -benda yang paling banyak dipencet orang di masa kini setelah handphone- terguling begitu saja di lantai.
,
Rasa penat akibat tumpukan pekerjaan di kantor hanya bisa ditiup hilang oleh rasa rileks. Saat ini hanya tv yang bisa menimbulkan perasaan itu. Namun belum lagi rasa rileksnya datang, pandangannya ke tv tertutupi buku tulis terbuka yang dipenuhi soal-soal matematika sederhana.
“Ayah, ini Pe-er aku. Aku nggak bisa mengerjakannya!” ujar Karina sambil mengacungkan buku tulis tepat 10 cm di depan muka ayahnya.
,
Di dalam dada Beben, api kecil terpantik dan mulai menyala.
“Jangan menghalangi Ayah,” geramnya tanpa melirik Karina.
Karina menurunkan tangannya, lalu duduk merapat di samping Beben, “Bantu Karina dong, Ayah!”
“Nanti!” geram Beben lagi dengan mata masih terpaku ke layar tv. Namun rasa nikmat menontonnya mulai hilang.
,
Karina terus mendesak manja. Ia bergelayut, menempel sampai memandang lekat-lekat wajah ayahnya dari jarak dekat. Akhirnya dengan terpaksa Beben memutuskan untuk mengalah pada keinginan putri satu-satunya itu. Ia ambil buku dari tangan Karina dan menatap soal-soal kelas 2 SD itu sekilas. Lalu dengan pandangan tak percaya, ia menoleh ke wajah Putrinya dan menyemprotkan pertanyaan, “Begini saja tidak bisa?”
“Susah atuh, Ayah,” Karina tersenyum manja.
,
Senyum yang bila ia lontarkan pada ibunya, pasti akan membuahkan cubitan gemas di pipi. Namun kali ini yang ia terima adalah suara tertahan dari ayahnya, “Kapan pe-er ini dikumpulkan?”
“Besok,” jawab Karina ringan.
“Kapan pe-er ini diberikan?” suara Beben tambah tertahan.
“Seminggu lalu, kan waktu itu…”
,
Suara Karina terpotong bentakan ayahnya, “Kenapa baru sekarang dikerjakan? Soal ini ada 30 nomor! Tidak mungkin kamu mengerjakannya dalam semalam!”
Keduanya diam sejenak, ketegangan memuncak. Seperti yang dibilang orang bijak, sekali kita melepaskannya, rasa marah itu akan terus bertambah sampai akhir. Beben pun begitu, ia melanjutkan teriakannya, “Ayah tidak akan membantu! Ini pelajaran penting buat kamu! Lain kali tidak boleh tugas ditunda-tunda! Sekarang tidur!”
Beberapa menit setelah Karina masuk kamar, rasa penyesalan bercampur gelisah melanda Beben. Setelah mengalami perasaan seperti itu selama beberapa jam, ia tertidur di sofa. Di dalam tidurnya itu ia melihat Lisa, istrinya yang baru saja wafat 2 minggu lalu. Beben berteriak frustasi, “Lisaaa! Teganya kamu meninggalkan kami!”
,
Lisa tidak menjawab, tapi pergi keluar rumah. Beben berlari menyusul. Di luar hujan gerimis. Mereka berdua berdiri dalam hujan tanpa berkata-kata. Rasa dingin air hujan melarutkan semua perasaan galau dan mendatangkan ketenangan. Ketika Beben menoleh, Lisa sudah tidak ada. Tetapi di tanah tergeletak buku hariannya. Beben terbangun. Dengan mata berkaca-kaca ia pergi ke kamar dan menemukan buku harian itu tergeletak di meja rias. Selama 2 minggu ini, barulah ia berani membukanya. Buku itu masih baru, baru satu kalimat pendek tertulis di halaman pertama. Tulisan Lisa itu berbunyi: Kalau hal kecil saja bisa membuat kita marah, bukankah itu mengindikasikan seberapa besar ukuran kita sebenarnya?
,
Beben terhenyak. Lisa benar, Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan orang lain, tetapi orang yang disebut kuat adalah orang yang bisa mengalahkan rasa marah dalam dirinya.
,
Beben memeluk Karina yang sudah tertidur dengan air mata membekas di pipinya yang mungil. Beben bertekad akan menjadi orang paling kuat di dunia buat putrinya itu.
 
,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s