PELUK, PELUK DAN PELUK LAGI…

i love u mom
Ayah dan Bunda, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika balita kita terjatuh dan menangis? Mungkin sebagian kita akan membekukan wajah dan berkata dengan intonasi sekeras papan, “Bangun, anak kuat. Bangun!”
Reaksi di atas adalah kebalikan dari reaksi berlebihan berupa pekik dengan wajah kaget campur khawatir yang juga amat kerap dilakukan para orangtua dalam situasi ini. Kedua reaksi ini adalah tindakan yang tidak tepat. Keduanya akan menanamkan perasaan buruk yang sama di benak anak: ternyata jatuh itu tidak wajar dan boleh jadi merupakan kesalahanku sendiri. Jadi bagaimana dong sebaiknya? Menurut teori psikologi yang dikembangkan dari eksperimen terkini, yang sebaiknya dilakukan orangtua adalah tetap menunjukkan ekspresi tenang: khawatir boleh, tapi jangan berlebihan. Lalu? Lalu berikanlah anak sebuah pelukan. Mengapa sih pelukan? Bukankah itu akan membuat anak menjadi cengeng dan lemah?
Tidak, Ayah dan Bunda, sebab anak-anak usia dini sedang mempelajari apakah dunia ini aman atau tidak. Ketika pelukan diberikan saat ia terjatuh, ia akan belajar bahwa setiap kali mengalami kesulitan, akan ada yang selalu memperhatikan dan menolong. Ia akan memperoleh pelajaran bahwa: setiap kali aku dalam masalah, ternyata aku tidak sendirian kok. Dunia ini nyatanya aman dan ramah. Orang-orang akan selalu datang dan memberiku bantuan. Nah, anak-anak yang tumbuh dengan persepsi bahwa dunia ini baik, aman dan ramah, akan menjadi orang dewasa yang hangat, optimis dan bersemangat. Semua itu dipupuk oleh sebuah tindakan saja: pelukan…
Ayah dan Bunda, secara bergurau menurut saya sebenarnya Tuhan akan memberikan lebih dari sepasang tangan kepada manusia, sebab Tuhan menciptakan tangan (di antaranya) untuk memeluk orang lain. Namun karena diberi sepasang tangan saja manusia lebih suka menggunakannya untuk menuding, menjewer, mencubit dan menyakiti, cukuplah sepasang saja yang diberikan. Itupun karena Tuhan begitu baik, sebab bisa saja Dia tidak memberikan kita tangan sama sekali bukan?
Kalau masih belum yakin besarnya arti sebuah pelukan, mohon renungi tulisan Johnny Ray Ryder, Jr., dalam “A Simple Hug”, katanya, “Tidak ada sesuatu yang seperti sebuah pelukan sederhana. Sebuah pelukan selalu menghangatkan hati, selalu memberi kita diterima dan membuat kita lebih mudah menjadi bagian dari sesuatu…”
Juga tulisan Walter Anderson dalam “The Confidence Course”: Kalau Anda sedang marah atau dimarahi orang yang Anda cintai, beri dia sebuah pelukan. Peluk dia dengan tulus. Semakin Anda tidak ingin memeluknya, justru semakin besar pula alasan untuk memberinya pelukan. Pasti sulit untuk tetap merasa marah ketika seseorang menunjukkan rasa sayangnya kepada Anda, itulah tepatnya yang terjadi bila kita saling memeluk satu sama lain.”
Ayah dan Bunda, pelukan adalah bahasa cinta. Sebuah pelukan adalah jalan terdekat antara hati kita dengan hati anak. Cinta yang indah tidak akan bisa dibungkus dalam kotak sebagus apapun, namun cinta ternyata bisa dibungkus dalam sebuah pelukan. Bill Keane dalam “Family Circus” menyatakannya dengan tepat, “Pelukan itu seperti sebuah bumerang, Anda akan selalu mendapatkannya kembali.”
Ayah dan Bunda, bagi anak sebuah pelukan kadang lebih bermakna dari seribu kata cinta. Tidak ada tali yang lebih kuat untuk mengikat hati kita dengan hati anak buat selamanya selain sebuah pelukan. Anda yang masih beruntung dengan orangtua yang masih hidup, coba berikan mereka pelukan. Lalu rasakan benar-benar bagaimana rasanya dipeluk balik oleh ayah atau ibu Anda itu. Benarlah apa yang dikatakan Terri Guillemets, “Tidak ada yang seperti pelukan ibu.”
Sudahkah kita memeluk anak kita hari ini? Ingat lho, Ayah dan Bunda: kita tidak bisa mengharap sebuah pelukan bila kita tidak mau memeluk. Cinta kita kepada anak, setulus apa pun, akan seperti bunga indah yang tidak harum bila tidak disertai pelukan demi pelukan. Coba deh rasakan hangatnya hati ketika tangan kecil anak-anak memeluk tubuh kita. Saat itu kita akan tahu bahwa sebuah pelukan adalah anugerah besar, sebab sebuah pelukan selalu pas ukurannya, tak peduli tangan ayah setinggi dua meter yang memeluk bayinya atau tangan anak umur 3 tahun yang sedang merangkul leher ibunya. Pelukan selalu pas rasa dan ukurannya…

AYAH DAN BUNDA, KOMPAK DOOONG…

images

Ayah dan Bunda, penelitian DR Sylvia Rimm menunjukkan, salah satu faktor menentukan dalam membentuk anak yang berprestasi adalah kekompakan orangtua. Dengan kata lain, Ayah dan Bunda, anak-anak di rumah
akan tenang hatinya dan bisa lebih fokus menggali potensi mereka bila Ayah dan Bundanya lebih sering bertindak seiya-sekata. Tanpa sadar, banyak dari kita yang tidak menerapkannya. Contoh: Ibu bilang anak harus tidur tepat pukul 9 malam, tapi di waktu yang sama, Ayah malah mengajak anak menonton sepak bola pukul 11 malam. Kelihatannya memang hal kecil sih, tapi bila sering terjadi akan membuat perbedaan pendapat ini melebar dan membesar. Kita semua pasti paham: membuat jembatan di atas sebuah parit lebih mudah dari membangun jembatan yang harus melompati jurang besar.
Menurut saya, anak biasa-biasa saja dengan orangtua yang kompak dan hangat, lebih beruntung dari anak jenius yang lahir dengan orangtua yang ketus dan selalu bertengkar. Penting sekali bagi anak untuk merasa bahwa rumah adalah tempat ternyaman baginya di dunia ini, sama pentingnya bagi anak untuk tahu bahwa orangtuanya benar-benar merupakan tim yang kompak. Zig Ziglar pun berpendapat sama, katanya, “Banyak pernikahan akan menjadi lebih baik jika suami dan istri benar-benar mengerti bahwa mereka berada di pihak yang sama.”
Ayah dan Bunda, kisah kecil dari Harriet Morgan berikut ini mungkin bisa memberi inspirasi besar:
Seorang istri berkata pada suaminya, “Aku mencintaimu.”
Sang Suami membalas, “Aku pun mencintaimu.”
Sang Istri menuntut dengan rasa ingin dipuaskan, “Buktikan, jeritkan itu pada seluruh dunia.”
Namun suaminya malah mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Aku mencintaimu.”
“Mengapa?” tanya istrinya tak mengerti. “Mengapa kamu bisikkan itu, bukannya meneriakkannya keras-keras pada dunia?”
Suaminya menjawab singkat, “Sebab engkaulah seluruh duniaku…”
Sebagai pondasi, suami dan istri akan menentukan seberapa kuat, seberapa besar dan seberapa tinggi sebuah rumah dapat dibangun. Tugas besar itu sering ditentukan oleh hal-hal sederhana. Ayah dan Bunda, menurut Anda, manakah bagian dari pakaian seorang istri yang paling mampu mendekatkan hubungan? Jawabannya pasti tergantung hasrat dan pengalaman masing-masing, tapi menurut James H. Boren, bagian pakaian itu adalah ritsleting bagian belakang. Menurutnya bagian itulah yang sering membuat seorang istri dan suami mendekatkan kembali jarak di antara mereka.
Seorang tokoh penggerak komunitas, Martin Luther, pun berpesan, “Jadilah istri yang membuat suaminya gembira saat tiba di rumah, dan jadilah suami yang membuat istri merasa kehilangan ketika melepas dirinya meninggalkan rumah.”
Novelis wanita sangat terkenal, Agatha Christie, punya pendapat lucu yang mengandung kebenaran, “Seorang wanita yang memiliki suami seperti arkeolog adalah istri yang sangat beruntung, sebab semakin tua dirinya, semakin tertarik sang suami padanya.”
Demi kegemilangan masa depan anak-anak kita, Ayah dan Bunda, silakan simak 10  jurus berikut yang Insya Allah dapat membuat pernikahan Anda lebih berbahagia:
1.       Jangan pernah marah dalam waktu yang sama dengan pasangan Anda.
2.       Jangan pernah saling berteriak, kecuali kalau rumah Anda sedang terbakar.
3.       Kalau salah satu dari Anda menang berargumen, biarkan kemenangan itu juga menjadi milik pasangan Anda.
4.       Bila Anda mengutarakan sebuah kritik, lakukan itu dengan cara yang penuh cinta.
5.       Jangan pernah mengungkit lagi kesalahan di masa lalu.
6.       Lebih baik Anda tolak seluruh dunia daripada menolak pasangan hidup Anda.
7.       Jangan pernah pergi tidur dengan argumen yang belum saling dicocokkan.
8.       Setidaknya, sekali dalam sehari, cobalah untuk mengatakan hal baik atau memuji pasangan hidup Anda.
9.       Jika Anda melakukan hal yang salah, akui hal itu dan mintalah maaf.
10.   Ingatlah, selalu setidaknya dibutuhkan 2 orang dalam membuat keributan, biasanya yang paling salah dalam keributan itu adalah orang yang paling banyak bicaranya.

Hanya Engkau dan Aku

1family16

Ayah dan Bunda, bila anak telah menapak usia remaja, mungkin sekali hati kita akan tersentuh oleh lagu ciptaan Ria Prawiro-Dodo Zakaria-Vina Panduwinata yang berjudul “Anakku” berikut ini…
 
Saat engkau tertidur, kupandangi wajahmu
Masih ingin kumendekapmu, masih ingin ku menciummu
Tak pernah kusadari, waktu cepat berlalu
Kini engkau menjadi besar, Kini engkaulah harapanku
Tumbuh, tumbuhlah anakku… Raihlah cita-citamu
Jangan pernah engkau ragu, Sayang…
Doaku slalu bersamamu
Membuat aman di hidupmu… (selamanya…)
Waktu, Ayah dan Bunda, mungkin merupakan salah satu hal yang paling sulit dipahami. Waktu adalah sesuatu yang paling berharga sekaligus hal yang paling murah. Persis seperti yang dikatakan William Penn, “Waktu adalah sesuatu yang paling kita inginkan, namun yang paling buruk kita gunakan.”
Namun satu hal yang pasti: waktu berjalan terus tanpa bisa dihalangi. Seperti yang diingatkan Benjamin Franklin, “Anda mungkin bisa menunda, tetapi waktu tidak.”
Ayah dan Bunda, waktu pulalah yang membuat setiap saat bersama anak-anak menjadi amat berharga. Setiap kali kita berhenti untuk merenung dan menatap wajah anak baik-baik, setiap kali itu pula kita akan terkejut: betapa banyak yang telah berubah padanya. Maka, akan ada saat-saat ketika kita akan bertanya dalam hati, “Kapan datangnya anak tanggung bersuara pecah ini? Kemana perginya balita kecilku yang manis itu?”
Erica Lorraine Scheidt dalam buku “Uses for Boys” seakan mewakili semua orangtua yang telah memasuki masa-masa ini, ketika ia menulis, “Aku ingin pergi ke masa lalu dan mengingatkan diriku lagi betapa berharganya saat ketika aku tidur bersama di ranjang anakku dan menjadi segalanya bersama-sama. Ketika aku adalah segalanya untuknya. Ketika aku adalah semua keinginannya di dunia ini.”
Saya sendiri, ketika berbaring di samping putri terkecil saya, hampir meneteskan air mata saat tangan anak saya itu mengusap pelan rambut saya, lalu dengan wajah khawatir bercampur tidak mengerti, ia berkata, “Rambut Abi sudah banyak yang putih”. Bukan putihnya rambut yang membuat saya terharu, tetapi ternyata anak-anak pun melihat efek yang dibuat waktu dan memperhatikan perubahan kita. Lalu apa yang harus kita lakukan bila waktu telah mengantar kita ke tempat anak-anak mulai berangkat dewasa?
Ayah dan Bunda, saat ini saya hanya punya satu jawaban: luangkan waktu khusus bersamanya tanpa ada orang lain. Hanya engkau dan aku, Nak. Ya, hanya engkau dan aku…
Jangan kira kita tahu semuanya tentang anak kita. Jangan kira pula anak pun tahu semuanya tentang kita. Dalam buku “Undercover”, Beth Kephart berkata, “Aku akan memberikan apa saja untuk tahu lebih banyak tentang ibu dan ayah. Namun aku tidak dapat mengajukan banyak pertanyaan. Aku harus menunggu sampai mereka yang menyampaikannya padaku.”
Ayah dan Bunda, ketika anak mulai meremaja adalah saat ketika kita melebarkan telinga dan membesarkan hati untuk mendengarkan semua hal dari mereka. Saat-saat khusus berdua adalah momen yang paling baik untuk itu. Semakin bertambah umur anak, seolah semakin ada jarak yang memisahkan kita dengannya. Seperti yang ditulis Janelle Jack Pierre dalam “Before I Breathe”: Kami seperti sedang berdiri di dua pulau yang terpisah. Ibu dan ayah di satu pulau dan aku di pulau yang lain. Lautan yang ada di antara kami adalah simbol kejujuran…”
Nah, Ayah dan Bunda, seberangi lautan kejujuran itu dan dekatkan pulau kita dengan pulau tempat anak kita berdiri. Inilah tahapan berikut karir kita sebagai orangtua…

Imajinasi

imajinasi

Ayah dan Bunda, tanpa imajinasi, dunia yang kita huni sekarang pasti akan berbeda. Begitu berbeda sampai tidak lah dapat dibayangkan bagaimana keadaannya. Jadi imajinasi adalah salah satu karunia terpenting buat manusia. Bahkan Tuhan pun mempercayakan kualitas iman umat-Nya kepada kemampuan imajinasi. Bukankah Surga dan Neraka hanya dapat berubah
menjadi iman bila kita juga menggunakan imajinasi? Bukankah keimanan terhadap para Nabi pun hanya akan menguat bila kita juga mampu mengimajinasikan kehidupan mereka? Tentu saja beragama didasari pada penggunaan akal dan logika, namun keduanya ibarat akar serta batang bagi pohon iman. Sedangkan cabang, daun dan buah akan tumbuh bila kita menyiramkan pupuk imajinasi. Sayangnya, entah kenapa, banyak dari kita yang tak hanya menganggap remeh, bahkan takut berimajinasi.
Ayah dan Bunda, anak-anak tak bisa dilepaskan dari kegiatan berimajinasi. Tuhan sudah memberi mereka fitrah yang demikian. Setiap anak tidak lahir dengan kemampuan berpikir yang matang, tetapi mereka justru dibekali lautan imajinasi yang luas. Bayangkan, bagaimana bisa menanamkan konsep tentang adanya Tuhan kepada anak-anak bila mereka tak mampu berimajinasi? Jadi Orangtua dan Guru tidak boleh begitu saja merenggut karunia berharga ini dari anak-anak hanya dengan alasan bahwa logika lebih penting. Tidakkah kita takut bahwa Tuhan tidak akan ridha melihat kemampuan berimajinasi yang telah diberi-Nya begitu saja kita abaikan? Tidak kurang dari Albert Einstein pun –yang identik dengan pakar logika terbesar- memberikan dukungannya pada kemampuan imajinasi dengan berkata, “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi menyelubungi seluruh dunia.”
Di kesempatan lain, Einstein pun menegaskan, “Logika hanya akan mengantarkan Anda dari A ke Z, sedangkan imajinasi akan mengantarkan Anda kemana saja!”
Nah, Ayah dan Bunda, tak semua pertanyaan yang diajukan Anak akan bisa dijawab dengan logika, namun tak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan imajinasi. Itulah sebabnya Dongeng menjadi sangat penting. Tidaklah mungkin Anda menjelaskan jawaban sebenarnya ketika anak bertanya “Darimana sih datangnya Adik bayi?”, bukan? Justru jawaban seperti “Adik datang dari Surga” atau “Dibawa oleh Burung Bangau” lah yang bisa memuaskan hasrat bertanya anak.
Oke, saat ini kita tahu bahwa imajinasi memang penting bagi anak-anak, tapi jangan lupa lho: ternyata imajinasi tetap penting ketika anak tumbuh dewasa. Perbedaan orang dewasa yang berani berimajinasi dengan yang tidak, sangat terlihat signifikan. Muhammad Ali pun sampai berkata, “Orang yang tidak punya imajinasi adalah orang yang tidak memiliki sayap.”
Napoleon Bonaparte bahkan bilang, “Imajinasi memerintah dunia.”
Ayah dan Bunda, tak ada orang sukses yang tidak memiliki kemampuan berimajinasi. Tanya deh pada Brian Tracy, maka ia akan menjawab, “Semua pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi besar. Mereka senantiasa mampu membayangkan apa yang akan mereka raih secara ideal di masa depan. Kemudian, mereka akan bekerja hari ini dengan tujuan yang jauh itu.”
Jadi mulai saat ini, Ayah dan Bunda, daripada banyak-banyak membelikan baju, lebih banyaklah membelikan buku dongeng. Daripada banyak-banyak membiarkan waktu anak terluang untuk bermain gadget atau menonton tv, banyak-banyaklah membacakan mereka buku. Phil English pun mengatakan hal yang klasik dan basi tapi kebenarannya tidak terbantahkan, “Membaca akan memperluas daya pikir anak. Membaca akan membuat kita leluasa mengembangkan imajinasi dan menolong kita untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.”
Ayah dan Bunda, jangan lupa untuk kembali menyuburkan kemampuan berimajinasi kita. Sebagai orangtua, Jill Clayburgh pun menuturkan, “Banyak-banyaklah berimajinasi, sebab sangat banyak imajinasi yang saya miliki diserap juga oleh anak-anak saya.”

Terakhir, usahakan agar kita sebagai Orangtua atau Guru, menaruh perhatian serius pada imajinasi anak yang mereka tuangkan lewat gambar, kata-kata, gerakan atau penulisan. Hal demikian akan menghindarkan kita menzalimi anak dengan menekan semua imajinasi yang mereka miliki. Memang dan pasti ada imajinasi yang perlu diarahkan karena tidak sesuai dengan moral dan etika, tetapi hindarkan kesan memangkas habis. Tolong renungkan apa yang dikatakan Ursula K. LeGuin, salah satu penulis sains fiksi Amerika terbaik, “Saya ragu imajinasi bisa ditekan. Jika Anda benar-benar melakukannya pada seorang anak, maka ia akan tumbuh seperti cangkang telur yang kosong isinya.”

Belajar Mengajar

gambar adab belajar kartunAyah dan Bunda, kelihatannya ada satu jenis pendidikan yang sangat penting tapi sampai sekarang terlupakan: Pendidikan Bagaimana Menjadi Orangtua. Hampir semua orang menjadi orangtua dengan melalui satu jalan yang sama: masuk dulu ke air, baru belajar berenang. Meski begitu, Ayah dan Bunda, menurut saya cara tersebut tidaklah bisa dibilang salah. Sebab untuk bisa berenang kita memang harus tinggalkan teori dalam buku di tepi kolam dan masuk ke dalam air. Hanya satu kemungkinan untuk salah dengan cara belajar ini: ketika kita tidak bersemangat mengayuhkan tangan dan kaki, sebab kita lupa bahwa saat itu hidup kita sedang dipertaruhkan…
Kesimpulannya, Ayah dan Bunda, sebagai orangtua kita hanya menghadapi 2 pilihan ekstrim: hidup atau mati. Sebagaimana seorang pemula yang masuk ke sungai: bertahan dan sampai ke seberang, atau hanyut dibawa arus sebagai orang mati. Sebagai direktur, orang bisa salah mengambil langkah investasi besar, sebagai konsultan orang bisa salah memberikan arahan penting, tapi sebagai orangtua kita tidak boleh salah dalam mendidik.
Hmm… kelihatannya seram betul ya? Sebenarnya sih bukan seram atau tidak, tetapi serius atau tidak. Kenyataannya dalam belajar bagaimana-mengajar-anak, kita terbantu oleh hal-hal yang tidak terduga, yaitu fakta bahwa: kita bisa belajar dari anak-anak bagaimana caranya belajar…
Mengapa? Mengapa kita bisa belajar dari cara belajar anak-anak? Sebab cara belajar kita dengan anak-anak berbeda lho. Seperti yang dikatakan Thomas S. Szasz, “Setiap kali orang dewasa memulai sebuah proses belajar, seringkali ia merasa menderita karena harga dirinya tersinggung. Inilah sebabnya, mengapa anak-anak –yang belum memikirkan kepentingan-kepentingan pribadi- belajar begitu mudah…”
Jadi, Ayah dan Bunda: jangan terlalu jaim dooong…
Kenyataan lain bahwa belajar mengajar tidaklah seram (karena banyak diberi kemudahan), adalah seperti yang dinyanyikan Phil Collins dalam film animasi Tarzan: In learning you will teach, and in teaching you will learn…
Mumpung masih nyebut penyanyi beken, langsung saja kita kutip kata-kata Michael Jackson, “Dalam kepolosannya, anak-anak kecil tahu bahwa mereka adalah cahaya dan cinta. Jika kita mengizinkan, anak-anak kecil akan mengajarkan bagaimana cara kita memandang diri kita dengan cara yang sama.”
Saya pikir inilah bedanya belajar mengajar dengan belajar hal-hal lain. Bila dalam mempelajari hal-hal lain kita dituntut untuk lebih menggunakan otak, dalam belajar mengajar kita lebih dituntut untuk menggunakan hati. Kenyataan ini tercermin dari kata-kata Jim Henson si Pencipta The Muppet Show (ingat boneka Kermit, Miss Piggy, Gonzo dan lainnya kan?), “Anak-anak tidak ingat apa yang kita coba ajarkan buat mereka, yang anak-anak ingat adalah siapa kita.”
Dengan hati pula, kita akan menjadi guru yang sungguh-sungguh cocok buat anak-anak. Sebab guru yang terbaik, bukanlah yang paling pintar menggunakan otaknya, tetapi yang paling pandai menggunakan hatinya. Seperti yang dibilang William Arthur Ward, “Guru yang biasa-biasa akan memberi tahu. Guru yang bagus akan menjelaskan. Guru yang superior akan memperlihatkan. Namun guru yang agung akan memberi muridnya inspirasi.”
Nah, Ayah dan Bunda, karena mengajar anak lebih ke arah penggunaan hati, mengajar mereka seharusnya bisa dilakukan setiap orangtua, baik yang dulunya pintar secara akademis atau yang tidak. Sebab sejatinya, mengajar anak-anak itu bukan memberi tahu cara menambah, mengali atau membaca, tetapi lebih ke arah penanaman visi kehidupan yang jauh ke depan. Renungkan kata-kata Antoine de Saint-Exupéry, “Kalau kamu ingin membangun kapal, jangan suruh orang-orang mengumpulkan kayu dan memberi tahu bagaimana cara mereka bekerja, tetapi ajarkanlah mereka betapa luasnya lautan itu.”

SANG DETEKTIF AYAH

Ini adalah tulisan yang pernah saya buat untuk Kolom Ayah di Majalah Ummi, hampir 3 tahun yang lalu…
“Ayah” adalah gelar paling terhormat yang pernah bisa dicapai seorang laki-laki. Terhormat karena harta yang banyak dan kepandaian yang luar biasa, tak bisa menjamin seseorang menjadi ayah. Terhormat karena sekali menjadi ayah, seorang lelaki akan selamanya terikat sampai akhirat dengan anak-anaknya. Terhormat karena gelar yang lain biasanya diberikan bila tugas telah selesai, tetapi ayah adalah gelar yang diberikan justru ketika tugas yang tiada akhir itu baru dimulai.
Menurut saya, tugas pertama yang banyak dilupakan oleh seorang ayah adalah menjadi detektif bagi anak-anaknya. Kasus yang harus dipecahkan sang detektif ayah adalah mencari dimana minat, bakat dan kekuatan anak-anaknya. Bila ayah telah memecahkan kasus pertama ini, tugas berikutnya adalah mendampingi setiap anaknya menempuh beragam pintu kegiatan yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya.
Bersama Fia si Sulung, saya pernah belajar bermain keyboard di tempat yang sama, dengan alat yang sama, buku yang sama dan guru yang sama. Di rumah kami berdiskusi segala hal, mulai dari lagu yang dipelajari sampai pendapat kami tentang pengajar.
Rihan si Nomor Dua adalah teman sparring saya saat berakting menjadi Hulk dan Captain Amerika. Rihan pula yang membuat saya mau melihat cecak di tangannya, padahal saya sempat benci cecak karena di waktu kecil salah seekornya pernah loncat indah ke bak mandi saya. Wah, saya rasa kalau dia mau, Rihan bisa menjadi pengganti Rob dan Steve si ahli buaya.
Dombel-Dut adalah panggilan khusus saya untuk Taqi si putra ketiga. Bersama Rihan, kami bertiga adalah para lelaki di rumah. Kami punya lagu khusus tentang kekompakan para lelaki di rumah kami.
Ayesha si bayi mungil menjadi objek latihan berempati kakak-kakaknya.
Mencoba menjadi ayah yang baik dengan menemukan kelebihan setiap anak mungkin adalah satu-satunya amal yang saya harapkan bisa memberatkan timbangan amal kebaikan di akhirat. Saya sering kaget dengan bakat yang mereka tunjukkan. Fia pernah mengejutkan ketika di umur 8 tahun telah bisa membuat film kartun sendiri dengan komputer. Akhir-akhir ini ia juga mengejutkan saya dengan semangat dan kemampuannya menulis fiksi.
Setiap anak dilahirkan istimewa. Saya tahu setiap orang akan menemukan kebahagiaan bila ia mampu memaksimalkan bakat di bidang yang ia cintai. Lebih baik gagal di bidang yang kita cintai daripada sukses di bidang yang kita benci.
O iya, setiap detektif ayah harus selalu ingat bahwa kesenangan selalu lebih baik dari kesempurnaan. Anak yang telah menemukan kesenangan di suatu bidang, tinggal tunggu saja datangnya hasil yang sempurna. Tetapi anak yang dituntut sempurna dalam bidang yang tidak ia kuasai, tunggu saja datangnya kekecewaan demi kekecewaan. Untuk menjaga hal demikianlah kita, para detektif ayah, diberi kebahagiaan.

Sopan Santun

sopan santunAyah dan Bunda, kita harus sepakat bahwa sopan santun adalah harta berharga yang bisa diwariskan orangtua kepada anak. Kita juga harus sepakat bahwa predikat orangtua hanya layak disandang oleh orang yang bisa mewariskan ini kepada anak-anaknya. Apalagi Ayah dan Bunda, di alam bawah sadarnya, fitrah seorang anak memang akan lebih menghargai warisan ruhaniah seperti ini dibanding warisan dalam bentuk materi. Richard L. Evans membenarkan, “Anak-anak tidak akan mengingat Anda atas materi yang telah Anda berikan, tetapi mereka akan mengingat perasaan ceria yang Anda bawa untuk mereka.”
Ayah dan Bunda, kita hidup di zaman yang mendorong kita untuk menganggap bahwa uang adalah solusi nomor satu masalah-masalah hidup, termasuk masalah pendidikan anak-anak kita. Buktinya, kita cenderung akan merasa tenang bila telah berhasil memasukkan anak kita di sekolah elit berbiaya selangit, begitu tenangnya sampai kita tidak berpikir lagi untuk bertanya: Benarkah sekolah tempat anak saya akan menghabiskan bertahun-tahun pertama masa emasnya ini bisa mengajarkan sopan santun yang baik?
 Seberapa penting sih sopan santun bagi kesuksesan seseorang? Jawabannya diberikan oleh Margaret Walker, “Teman-teman dan sopan santun akan membawa Anda ke tempat yang tidak bisa dibayar dengan uang.”
Jawaban lebih tajam dan menyindir diberikan oleh Clarence Thomas, “Sopan santun dan kelakuan baik akan membuka pintu-pintu yang tidak bisa dibuka oleh institusi pendidikan terbaik sekalipun.”
Jadi jelas, Ayah dan Bunda, ternyata sopan santun adalah nilai unggul yang secara signifikan akan menentukan pencapaian kesuksesan seseorang. Sebagai orang-orang yang kini tengah membangun perusahaan sendiri, saya dan istri menemui kenyataan tak terbantahkan bahwa karyawan yang punya sopan santun lebih unggul dalam jangka panjang dari mereka yang hanya sekedar berkualifikasi “Pintar”. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Jonathan Swift, “Sopan santun adalah seni membuat orang-orang yang kita ajak bicara dapat merasa nyaman”. Semua pemilik bisnis tentu menginginkan karyawannya dapat membuat para konsumen merasa puas dan nyaman bukan?
Lalu, bagaimana cara mengajarkan sopan santun pada anak-anak kita? Jawabannya diungkap James Arthur Baldwin (1924-1987), seorang Penulis Essay dan Novelis Amerika, “Anak-anak biasanya sangat sulit mendengarkan nasihat orang-orang yang lebih tua, tetapi mereka tidak pernah gagal belajar meniru perilaku orang-orang dewasa”. Orangtua yang efektif akan memanfaatkan hal ini, sebab upaya kita mengajarkan sopan santun kepada anak akan sangat terbantu dengan kemampuan natural anak dalam menangkap dan meniru mimik kita sebagai orangtua mereka. Kesimpulannya? Lewat Keteladanan lah sopan santun dapat diajarkan dengan baik.
Nah, Ayah dan Bunda, tak usah ragu bahwa anak yang tahu sopan santun akan lebih berbahagia kelak hidupnya. Ayo, ajari anak sopan santun yang mulia.
Beberapa Cara Praktis Mengajarkan Sopan Santun Sehari-hari:
–          Biasakan anak meminta izin bila ingin meninggalkan rumah.
–          Biasakan anak mengucapkan kata “Permisi” kepada orang yang lebih tua.
–          Ajarkan adik menghormati kakak dan ajarkan kakak meyayangi adiknya.
–          Selalu ucapkan kata-kata santun dan perilaku yang baik dalam hubungan Ayah dan Ibu. Sebab anak-anak lebih banyak belajar dari yang ia lihat sehari-hari.
–          Ceriakan hati anak sehingga ia bisa lebih banyak tersenyum daripada cemberut dan murung.
–          Jangan mengeluarkan kata-kata tidak sopan bila memarahi anak karena suatu hal.