CERMIN PARA IBU

Ini adalah malam terakhir Lomba Tingkat Penggalang. Lili menarik napas lega. Sebagai pembina Gugus Depan sebuah SMP negeri tempatnya bekerja menjadi guru, ia telah mendampingi anak-anak didiknya 5 malam penuh. Benar-benar berat, selama 5 hari 5 malam anak-anak pramuka putrinya melaksanakan kemping sekaligus berlomba ketangkasan dan wawasan melawan anak-anak sebaya mereka di tingkat kabupaten. Lili merasa haru sekaligus bangga pada mereka. Ia melirik jam di tangannya, lalu berkata dalam hati, “Pukul 10 malam. Anak-anak harus sudah tidur biar tidak terlalu capek. Sebelum pulang, besok pagi mereka masih harus memasak sarapan, membereskan tenda, mengikuti upacara penutupan dan melakukan operasi semut.“
Ia melangkah dari lokasi tenda pembina putri menuju tenda tempat murid-muridnya berada. Onggokan kayu bakar masih menyala di lapangan. Sisa acara api unggun perpisahan yang baru selesai 1 jam yang lalu itu dibiarkan mati dengan sendirinya, tak seorang pun merasa perlu untuk memadamkannya. Lili tersenyum, ia ingat almarhum ibunya yang suka berteriak bila melihat api menyala, “Lili, biasakan tidak meninggalkan api menyala. Matikan dahulu, biar aman!”
Lili memasuki pekarangan tenda tempat pasukan putrinya berada. Regu Mawar memasang 2 tenda kembar. Setiap tenda diisi 5 orang anak. Tenda di sebelah kanan terlihat gelap dan sepi, namun lampu badai masih dinyalakan di dalam tenda sebelah kiri. Lili tersenyum dan menggeleng, namun langkahnya terhenti mendengar suara-suara dari dalam tenda. Ada 5 anak perempuan berusia antara 13-14 tahun yang menghuni tenda tersebut: Gea si Kepala Regu, Ani si jago sandi, Mutia yang ahli tali temali, Aisyah si bendahara dan Nida si ahli masak rimba.
“Yes! Akhirnya kita juara umum!” terdengar Gea berseru. “Bedanya cuma 1 medali emas dengan regu Dahlia di tempat kedua!”
“Ya, ini berkat Nida yang meraih emas dalam masak rimba di lomba terakhir!” timpal Aisyah.
“Iya sih,” ujar Nida malu. “Tapi semua juga berjuang. Kebetulan saja aku yang berlomba terakhir dan menang.”
Sejenak tak ada suara, tapi Lili bisa membayangkan 5 wajah yang sedang tersenyum puas.
“Besok kita pulang, aku sudah kangen sama ibuku,” kata-kata Mutia itu mendadak membawa suasana rumah ke dalam tenda. “Kalo menurut aku sih, orang yang paling berjasa di balik keberhasilan kita adalah ibu-ibu kita.”
“Aku kayaknya setuju banget,” timpal Gea. “Ayahku saja pernah bilang: Gea, semua anak itu tergantung pada ibu mereka. Mereka bisa pintar atau bodoh, sukses atau gagal adalah karena jasa ibu.”
“Jelas saja, ibu kamu kan pintar, Ge,” timpal Aisyah. “Ibuku sih hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi sibuknya melebihi ibu-ibu yang kerja di kantor. Aku rasa seharusnya ibuku punya tangan empat agar tugas-tugasnya setiap hari bisa selesai.”
Terdengar tawa sebentar, lalu Mutia berkata, “Nggak masalah kan? Aku malah lebih salut pada ibu yang bekerja di rumah. Mama aku pernah bilang: ibu yang bekerja di rumah itu lebih capek, soalnya jam kerjanya 24 jam. Sudah gitu nggak ada cuti dan libur tahunan!”
“Mau ibu kalian bekerja dimana kek, yang jelas kayaknya kalian enak deh punya ibu baik-baik, kalo ibuku galak banget,” keluh Nida. “Kalau aku salah dikit, pasti diomelin! Malah pernah aku dicubit dan dijewer.”
“Tapi kata aku sih itu nggak masalah, Nid,” Mutia mencoba menghibur. “Tiap ibu itu cuma caranya saja yang beda-beda, tapi maksudnya sama: agar anak-anaknya pintar dan shalih. Bisa jadi ibu kamu suka mencubit dan ibu aku suka memeluk, tapi kedua-duanya pasti sangat sayang pada kita!”
“Kalian beruntung masih punya ibu,” suara lirih itu dari Ani si Pendiam.
Suasana hening sejenak, lalu Gea bertanya pelan, “Bagaimana rasanya saat ibu kamu meninggal, Ani?”
“Rasanya seperti tanah yang kamu injak tiba-tiba menghilang,” ujar Ani. “Sewaktu ibuku masih ada, aku sama sekali tidak mengira ia akan meninggal. Saat tiba-tiba ia nggak ada, rasanya aku melayang-layang di ruangan gelap dan kosong sendirian.”
Lili mendengar anak-anak yang lain menghibur dengan kata-kata: ibu kamu tetap lihat kamu dari surga, dan sejenisnya. Tiba-tiba Lili merasa ia tak layak berada di situ dan mendengar semua pendapat pribadi yang hanya dilontarkan pada para sahabat terdekat.
Lili mengurungkan niatnya untuk menyuruh mereka segera tidur. Ia berbalik dan melangkah pergi. Ditatapnya bulan purnama di langit. Ia sadar, seperti bulan yang memantulkan sinar matahari, ia baru saja mendengar cerminan diri para ibu melalui mulut anak-anak mereka. Ia tidak keberatan tidak disebut sama sekali sebagai orang yang berjasa mengantarkan anak-anak itu meraih kemenangan kali ini. Meski ia telah melatih dan mempersiapkan mereka 2 bulan penuh dengan mengorbankan semua waktu serta menguras habis seluruh kemampuan. Lili mengerti, seorang ibu memiliki arti yang sangat besar bagi tiap anaknya. Ia teringat kata-kata Andrew Young, “Para pahlawan tak dikenal dalam setiap gerakan rakyat sebenarnya adalah para istri dan para ibu.”
Lili tertegun, 3 minggu lagi ia akan menjalani pernikahannya sendiri. Setelah itu ia pun akan menjadi seorang ibu bila Tuhan mengizinkan. Ia merasa tak salah telah menerima Raihan sebagai calon suaminya. Ia telah lihat betapa baik Raihan memperlakukan ibunya. Lili merasa mendengar lagi nasihat almarhum ibunya menggema, “Laki-laki yang menghormati ibunya akan menghormati wanita yang menjadi istrinya.”

Iklan

INDAHNYA MASA KANAK-KANAK

Pagi itu suasana Desa Ciherang yang damai lebih berwarna dari biasanya. Seorang laki-laki berusia 40-an datang bertamu. Penampilannya yang lusuh tidak menghalangi rasa penasaran warga desa. Maklum, meski berwajah muram, laki-laki itu jangkung, tampan dan bermobil mewah. Suasana tambah meriah ketika warga tahu bahwa laki-laki itu pernah berkunjung ke desa mereka saat masih kanak-kanak. Satu dua orang mulai mengenali dan menyapanya, “Kamu Andri kan? Ingat sama saya nggak? Saya Usep, dulu kita pernah menangkap lele di sawah…”
Andri membalas setiap sapaan dengan ramah. Setelah dua-tiga hari, suasana sudah mereda. Andri yang pendiam dan penyendiri, tidak lagi memancing perhatian warga. Mereka hanya tahu tamu jauh dari kota besar itu menginap di rumah paman jauhnya di ujung desa. Andri sendiri jarang terlihat, ia lebih suka merenung di saung di tengah sawah, memanjat bukit atau menjelajah ke hutan sekitar desa untuk memotret burung dan tupai.
Selepas Ashar para penggembala pulang menggiring kerbau. Mereka turun ke sungai untuk menggosok lumpur dari kulit kerbau sebelum melanjutkan perjalanan ke kandang masing-masing. Semua itu tak luput dari bidikan kamera Andri. Sebuah teguran ramah menghentikan ceklikan kameranya, “Sedang memancing, Dri?”
Andri menoleh dan melihat Usep yang tersenyum lebar sambil memanggul cangkul.
“Iya, dari tadi belum dapat ikan, jadi aku memotret sambil menunggu,” Andri menunjuk tongkat pancingnya yang ditancapkan ke tanah dengan beberapa batu penahan.
Khas orang desa, tanpa bertanya lagi, Usep duduk dan mengajak Andri ngobrol. Andri heran sendiri karena ia tak merasa keberatan, mungkin hatinya membutuhkan teman bicara setelah beberapa hari ini lebih banyak bersepi-sepi sambil mengunci mulut. Setelah beberapa menit, akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang mewakili rasa penasaran semua warga Ciherang, “Sebenarnya sedang apa kamu di sini, Dri? Setelah lebih dari 30 tahun tidak datang kemari, rasanya aneh bertemu kamu lagi.”
Andri menghembus napas panjang, diam sejenak, lalu menjawab, “Sedang liburan saja.”
“Kamu sudah menikah? Sudah punya anak?”
Andri mengangguk enggan.
“Kenapa keluarga kamu tidak dibawa sekalian? Sekarang kan sedang liburan sekolah.”
Ini adalah pertanyaan yang paling ingin Andri hindari, namun selama tiga hari ini suasana indah Ciherang telah meringankan hatinya. Perlahan Andri menjelaskan, “Justru karena merekalah aku kembali kesini. Aku punya anak laki-laki semata wayang. Ia ABG tampan yang digandrungi banyak teman-teman perempuannya. Istriku cantik dan mandiri, ia wanita karir yang hebat. Karena aku dan istriku sibuk meniti karir, putraku jadi terabaikan. Akhirnya ia overdosis narkoba dan meninggal beberapa bulan lalu. Istriku tak kuat menahan penyesalan, akhirnya minum racun serangga dan menyusul anakku pergi. Kamu bisa bayangkan galaunya hatiku, jadi aku pergi ke sini untuk meringankan perasaan.”
“Kenapa Desa Ciherang?”
“Karena di sinilah aku pernah merasakan kebahagiaan masa kanak-kanak. Aku berharap bisa merasakan lagi kebahagiaan itu dan menumbuhkan lagi semangat hidup.”
“Bagaimana mungkin kamu bisa merasakan lagi kebahagiaan semasa kanak-kanak sementara masa kanak-kanak itu sudah hilang dari hati kamu?”
Pertanyaan itu menohok perasaan Andri, “Kenapa kamu bilang begitu, Sep?”
“Aku memang tinggal di desa, tapi aku tahu satu hal: orang dewasa biasanya tidak lagi membawa masa kanak-kanak di dalam hatinya. Salah satu kerugian hal itu adalah kita jadi sulit memahami dunia anak-anak kita. Hal paling menyedihkan, bila kita gagal memahami anak-anak melalui dunianya adalah tanpa disadari kita akan mengharapkan anak-anak menjadi cepat dewasa. Mengapa? Sebab alam bawah sadar kita ingin agar anak bisa memahami apa yang kita sampaikan pada mereka dengan bahasa dewasa kita.”
Air mata Andri berlinang-linang, “Memang itulah yang terjadi antara aku dan anakku. Aku tak banyak ingat masa-masa kecilnya, tahu-tahu ia sudah menjadi remaja dengan segudang masalah. Aku sadar sekarang, masa kecil anakku tidak bahagia. Bagaimana itu mungkin? Padahal masa kecilku begitu bahagia, terutama di sini, bersama kamu dan teman-teman kita dulu…”
Usep berkata pelan, “Orang paling beruntung menurutku adalah orang yang pernah mengalami kebahagiaan masa kanak-kanak. Jadi aku berharap sebentar lagi kamu bisa memulai lagi hidup kamu, mempunyai anak-anak lagi dan bertekad untuk tidak pernah lagi melewatkan masa-masa indah kanak-kanak mereka.”
Saat itu istri Usep datang membawa 2 anak lucu. Salah satunya masih dalam buaian. Suasana langsung mencair.
Andri memandang Usep lekat-lekat, “Ini kan Suhaemi yang dulu kita kecengin bersama? Kamu beruntung bisa meminang dia!”
Tawa Usep terlontar, “Kami sempat kuliah bersama, aku di Pertanian dan dia di Psikologi. Lalu kami menikah dan memutuskan untuk pulang ke sini, ke tempat kami pernah merasakan indahnya masa kanak-kanak kami.”
Air mata Andri mengalir hangat, hatinya berkata, “Memang benar, tidak pernah ada kata terlambat untuk membawa lagi masa indah kanak-kanak kita di dalam hati. Ternyata inilah modal untuk menjadi ayah dan suami yang baik. Bila Allah berkenan memberiku sebuah keluarga lagi, aku tak akan melupakan apa yang kudapatkan ini…”

INILAH SAUDARA-SAUDARAKU…

Seorang laki-laki muda muncul ke panggung disambut tepukan tangan dalam sebuah acara reality talkshow di televisi. Ketampanan wajahnya sedikit terkurangi gurat-gurat beban.
“Tamu kita kali ini adalah Bramasta Dipta,” ucap Sang Presenter. “Seorang Desainer Grafis muda yang sukses membangun sebuah perusahaan konsultan grafis tingkat internasional. Namun tampaknya kesuksesan itu tidak sepenuhnya berbuah kebahagiaan. Kenapa, Bram?”
Bram memperbaiki duduknya, memandang lantai sejenak, menghela napas, lalu menatap Sang Presenter, “Karena ada lubang besar dalam kehidupan saya, Mbak.”
“Bisa diceritakan pada kami?”
“Lubang besar dalam kehidupan saya itu adalah keluarga saya.”
“Istri Anda? Yang baru saja Anda ceraikan?”
“Sebenarnya bukan itu. Saya adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara. Kami terdiri dari 5 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Ke-6 saudara saya itulah lubang besar dalam hidup saya kini. Sudah lama mereka menjauh dan tidak lagi mengakui saya sebagai salah satu saudara mereka.”
“Tidak lagi diakui sebagai saudara??? Boleh kami tahu apa sebabnya?”
“Setelah mendapat gelar sarjana, saya memutuskan untuk menikah dengan salah seorang rekan kuliah saya. Kami beda agama. Pacar saya itu memaksa saya untuk keluar dari Islam dan memeluk agamanya sebagai syarat agar pernikahan kami bisa dilangsungkan. Kontan seluruh kakak dan adik-adik saya menolak keinginan itu. Tapi dalam keadaan mabuk kepayang, saya memutuskan untuk pindah agama. Sejak itulah tali silaturahim kami putus.”
“Sampai sekarang?”
“Ya, sampai sekarang. Padahal saya sudah menceraikan istri saya dan kembali menjadi seorang muslim.”
“Saya yakin di sini banyak orang bertanya: mungkin Anda menyesal memiliki saudara? Bayangkan, bila Anda anak tunggal, mungkin tidak akan ada yang protes pernikahan Anda dan mungkin Anda masih bersama dengan istri Anda saat ini. Bagaimana tanggapan Anda?”
“Mbak, kalau kelak saya menikah lagi, saya justru berharap agar Tuhan menganugerahi anak saya dengan beberapa orang saudara. Setidaknya satu orang.”
“Alasannya?”
“Karena seorang saudara tidak hanya berfungsi menjadi penjaga saudaranya yang lain, tetapi justru ikut membentuk karakter saudaranya itu. Itulah fungsi terbesar seorang saudara bagi kita.”
“Tapi bisa jadi seiring dengan berlalunya waktu, tentunya perilaku seseorang bisa berubah terhadap saudaranya?”
“Bisa jadi, tapi dalam kebanyakan kasus yang terjadi adalah sebaliknya. Seperti yang saya alami sebelum peristiwa pernikahan. Bagi kami bertujuh, waktu seolah tidak berlalu. Kami masih sama seperti dulu. Kami punya lawakan-lawakan khas keluarga, kami menyimpan rahasia-rahasia keluarga, kami bahkan juga ingat pertengkaran-pertengkaran kami. Itu artinya hati kami sudah saling berbagi satu sama lain.”
“Jadi bagi Anda memiliki saudara sangat penting artinya?”
“Sangat, sebab tidak ada cinta seperti cinta kepada saudara kita.”
“Seandainya Anda boleh memilih, jenis orang seperti apa yang akan Anda pilih sebagai saudara-saudara kandung Anda?”
“Di sinilah uniknya sebuah persaudaraan dalam suatu keluarga, sebab kita tidak bisa memilih keluarga kita. Tuhanlah yang memilihkannya untuk kita.”
“Jadi Anda tidak menyesal punya keluarga yang demikian kuat memegang prinsip sampai memilih mengucilkan Anda daripada mengorbankan prinsip tersebut?”
“Saya tidak menyesal, sebab sayalah yang salah.”
“Apa Anda rindu bertemu dan diterima mereka lagi?”
“Itu segala-galanya bagi saya sekarang.”
“Kalau begitu terimalah mereka kembali….”
Saat itu juga, 6 kakak dan adik Bram muncul. Kakak sulungnya menyapa, “Assalamu’alaikum, Bram. Sebenarnya kami juga sangat rindu dan sayang padamu, Dik.”
Bram memeluk mereka semua sambil menangis. Lalu dengan bangga ia berkata pada para penonton di studio, “Para hadirin, inilah saudara-saudaraku…”

UNDERWEAR RULE (2)

“Poin Underwear Rule berikutnya adalah:
“4. Mencegah dan Melindungi Adalah Tanggung Jawab Orangtua.
“Ingat satu hal, Di: keselamatan dan kebahagiaan anak adalah tanggung jawab orangtua, bukan guru atau kerabat lainnya. Maka dari itu, orangtua harus terdidik sebelum mendidik anak. Selama komunikasi tentang seks masih berlandaskan edukasi, tentu anak akan menerimanya sesuai penalaran yang kita sampaikan kepada mereka. Jadikan komunikasi dengan terbuka sebagai tradisi dalam keluarga sehingga anak tidak pernah merasa sungkan dalam membicarakan dan membahas apa pun kepada orangtua.
“5. Mengajarkan Cara Bereaksi Terhadap Tindakan Mencurigakan
“Terdapat 4 panduan yang bisa kita ajarkan kepada si Kecil untuk bereaksi saat ada orang asing yang berperilaku tidak wajar kepada mereka. 4 panduan itu adalah:
“- Cara Mencurigai dan Melaporkan
Beritahu kepada anak mengenai siapa saja orang yang bisa mereka percaya dalam keluarga dan sekolah. Jadi, ketika ada orang lain di luar itu, anak pantas merasa curiga dan mengomunikasikannya kepada orangtua atau guru di sekolah.
“- Cara Mengenali Orang-orang Mencurigakan di Lingkungan Anak
Dalam kebanyakan kasus, pelaku adalah seseorang yang dikenal anak. Tak heran bila kondisi ini membuat anak sulit memahami bahwa apa yang dilakukan orang tersebut adalah bentuk penyiksaan. Untuk mengatasinya, orangtua tidak boleh putus komunikasi dengan anak, pastikan setiap hari bertanya kepada anak apakah ada seseorang yang memberikannya hadiah atau memperlakukannya lebih dari biasanya.
“- Cara Mengamati Orang-orang Mencurigakan di Luar Lingkungan Keluarga dan Sekolah
Dalam beberapa kasus pelecehan seksual, pelakunya adalah orang asing. Ajarkan aturan sederhana kepada anak tentang tata cara bersikap dan berbicara dengan orang asing. Beberapa di antaranya adalah menolak satu mobil dengan orang yang mereka tidak kenal, jangan menerima hadiah dari siapa pun kecuali keluarga dan teman, dan menolak ajakan bermain di luar sekolah.
“- Cara Mencari Pertolongan
Anak-anak harus tahu bahwa selain orangtua, ada orang profesional yang dapat membantu mereka bila ada orang lain yang berbuat tidak sopan kepada mereka, misalnya guru, polisi, pekerja sosial, dan psikolog sekolah.
“Nah, begitu lho, Di. Sudah jelas kan? Di? Di?”
Tak terdengar jawaban Dyah, cuma isak tangis tertahan.
“Kok nangis, Di?”
“Ak… aku merasa bersalah banget pada Maya, Put. Ternyata banyak hal yang aku lupakan dalam mendidik dia.”
“Wajar, Di. Banyak sekali kita yang belum tahu.”
“Iya, tapi kejadian itu membuatku merasa kecolongan, Put….”
Putri diam sejenak, lalu menghibur, “Insya Allah belum terlambat Di. Kalau Maya masih ketakutan, bawa saja ke tempat aku. Biar aku coba melaksanakan terapi ringan tapi menyenangkan.”
Kini rasa syukur melanda hati Dyah, menggantikan rasa takut dan penyesalan yang belum lama ini begitu mencekiknya. Di luar itu, sebuah ide pun muncul: Aku akan mengusulkan pada sekolah untuk mengadakan semacam mini seminar yang temanya tentang Underwear Rule yang baru aku tahu barusan. Mudah-mudahan Putri juga bisa membantu. Semoga peristiwa ini tidak akan pernah terulang lagi…

UNDERWEAR RULE (1)

“Ma, orang jahat itu siapa sih?” tanya Maya manja pada Dyah, ibunya.
“Orang jahat itu orang yang bermaksud nggak baik. Misalnya mereka ingin mengganggu, menyakiti atau mengejek orang lain. Memangnya ada apa, May?”
“Tadi di sekolah, Maya dipegang-pegang sama Pak Oon. Teman-teman Maya pada teriak: Ih Pak Oon jahat! Ih Pak Oon jahat!”
Berbarengan dengan bunyi DEG! Di jantungnya, Dyah cepat menyambar, “Pak Oon siapa, May?”
“Itu yang suka di kebun. Maya nggak suka soalnya tangan Pak Oon bau tanah!”
“Kamu mengadu sama Bu Guru nggak?” suara Dyah mulai melengking.
Maya menggeleng, “Nggak ah, kata Pak Oon jangan bilang Bu Guru, ini rahasia…”
Pucat pasi dan lemas, Dyah terhenyak di kursi. Tak disangkanya, sekolah TK mahal tempat Maya bersekolah bisa kecolongan mempekerjakan tukang kebun dengan penyakit psikis seperti Pak Oon. Dyah hampir yakin kalau Maya tidak berbohong. Selama ini putri sulungnya itu tak pernah berdusta. Lagi pula ada baiknya berhati-hati dan menganggap hal ini sangat serius untuk diselidiki. Aku sama sekali tidak boleh mengabaikan masalah ini dengan menganggap cerita Maya mengada-ada. Resikonya terlalu besar untuk diabaikan.
Tanpa membuang waktu, Dyah menelepon wali kelas Maya. Setelah menjelaskan bolak-balik dengan agak heboh khas ibu-ibu, Dyah mendapat janji untuk membicarakan hal ini besok pagi di sekolah. Sementara itu Maya diizinkan untuk diam dulu di rumah.
Setelah itu Dyah tak lagi sanggup mengerjakan apa pun dengan tenang. Sampai akhirnya ia teringat pada Putri. Teman akrabnya itu lulusan Fakultas Psikologi. Tanpa mengecek apakah pulsanya masih cukup untuk ngobrol lama, Dyah menekan nomor Putri dan langsung tersambung. Tak lama berbasa-basi, Dyah tembak langsung ke masalah.
“Itulah perlunya mengenalkan Underwear Rule pada anak-anak sejak balita, Di,” respon Putri kalem.
“Apaan tuh? Jelaskan dong. Semoga kamu punya waktu.”
“Oke, tapi siap-siap dengerin ya, aku mau ceramah nih.”
“Seumur-umur baru kali ini aku pengen banget dengerin kamu. Beneran!”
Putri tertawa kecil, lalu mulai ceramahnya, “Underwear Rule adalah pedoman sederhana bagi orangtua dalam membimbing anak tentang aturan-aturan berkomunikasi, berinteraksi, dan bersentuhan dengan orang lain, terutama di luar keluarga inti. Aturan ini mengajarkan sebuah prinsip dan nilai hidup yang tegas kepada anak bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Tidak boleh ada orang lain yang menyentuh dan menyakitinya, bahkan tidak juga orangtua dan saudara kandung.”
“Oooh begitu. Tolong teruskan, Put…”
“Oke, ada 5 poin Underwear Rule yang wajib kita ajarkan:
“1. Mengajarkan si Kecil Bahwa Tubuh Mereka Harus Dijaga dan Dilindungi.
“Jelaskan kepada anak bahwa ada beberapa anggota tubuh yang merupakan bagian intim, yang sifatnya sangat pribadi, tidak boleh dilihat dan dipegang orang lain, kecuali untuk alasan medis. Usahakan untuk tidak memberikan julukan atau istilah samaran dalam mengajarkan bagian intim tubuh si kecil. Mengajarkan soal seks kepada anak harus dilakukan lebih dari sekali dan berulang-ulang. Tujuannya agar anak langsung ingat ketika ada seseorang yang berusaha menyentuh di bagian tubuh yang tidak pantas dan segera bereaksi sesuai yang diajarkan.
“2. Ajarkan Perbedaan Sentuhan yang Pantas dan Tidak Pantas.
“Anak tidak selalu bisa membedakan bagaimana cara orang lain menyentuh mereka, apakah sentuhan tersebut wajar atau tidak. Tak hanya sentuhan, ajarkan kepada anak bahwa orang lain dilarang keras memandangi bagian tubuh mereka yang pribadi. Jika ada yang bersikap demikian, anak harus menegur atau melaporkan orang tersebut kepada guru di sekolah dan orangtua.
“3. Ajarkan Perbedaan Rahasia Baik dan Rahasia Buruk.
“Salah satu strategi yang kerap kali dilakukan oleh pelaku pelecehan seksual adalah mengajak anak untuk bermain rahasia-rahasiaan. Terkadang anak merasa bersemangat dan diistimewakan bila dipercaya menyimpan rahasia orang lain. Maka dari itu, sampaikan kepada anak bahwa tidak semua rahasia pantas disimpan, terutama rahasia yang membuat mereka tidak nyaman, ketakutan, sedih, dan tersiksa.”
Putri menarik napas sejenak, “Eh, kamu sudah bosan belum dengerin ceramah aku, Di?”
“Belum, Put. Malah lagi asyik-asyiknya nih.”
“Oke deh, kalau begitu kita lanjuuut….”

CITA-CITA PENTING YANG TIDAK BIASA…

Pemandangan di luar jendela tidak menarik perhatian Yuli. Padahal ia tidak sering naik kereta api keluar kota seperti ini. Kepala gadis kecil 10 tahun itu justru dipenuhi banyak pertanyaan tentang masa depan. Ia menoleh, menatap wajah ayahnya yang dari tadi asyik menekuni bacaan.
“Ayah, menurut Ayah siapa sih yang paling penting di dunia ini?”
Mansyur berhenti membaca, menatap wajah putri satu-satunya itu. Dengan kening berkerut karena berpikir, Mansyur menjawab, “Sepertinya kesehatan deh.”
“Ayah, aku bukan bertanya apa tapi siapa…”
“Oh iya. Hmm… Kalau begitu menurut Ayah sih jawabannya adalah keluarga. Benar nggak?”
“Kalo menurut aku sih itu tidak benar, Ayah.”
“Lho? Gitu ya? Hmm… oke deh. Nah, menurut kamu siapa dong yang paling penting di dunia ini?”
“Aku tidak tahu sih, makanya aku nanya sama Ayah…”
“Wah, Ayah jadi bingung nih. Tadi Ayah sudah jawab, tapi kamu bilang bukan. Jadi….”
“Soalnya tadi kan Ayah bilang kalau jawabannya adalah keluarga. Menurut aku itu salah karena keluarga bukan hal yang paling penting di dunia, tetapi…”
“Tetapi apa?”
“Tetapi merupakan segala-galanya.”
Mansyur tersenyum, sedikit kaget bercampur kagum, “Boleh nggak Ayah tahu kenapa menurut kamu keluarga adalah segala-galanya bagi kita?”
“Sebab menurut aku, orang yang tidak punya keluarga akan sedih dan sendirian di dunia ini.”
“Kan dia bisa punya teman?”
“Iya, tapi teman kan tidak sama dengan keluarga. Kan Ayah pasti lebih sayang aku dibanding sayang pada teman Ayah. Iya kan?”
“Ya iyalah.”
“Jadi karena keluarga itu segala-galanya, aku sekarang sudah punya cita-cita yang nggak akan berubah-ubah lagi seperti kemarin.”
“Oh ya, apa itu?”
“Cita-citaku adalah menjadi Ibu yang baik buat anak-anakku nanti dan menjadi istri yang shalihah buat suamiku kelak.”
“….” Mansyur jadi speechless. Baru setelah beberapa detik ia bisa berkata lagi, “Lantas bagaimana dengan segudang cita-cita kamu kemarin yang ingin menjadi dokter, arsitek, juara lomba masak dan lain-lain itu?”
“Itu kan cita-cita pendamping. Menurut aku perempuan harus siap menjadi istri dan ibu. Benar kan?”
Mansyur mendadak khawatir, jangan-jangan Yuli mulai menyerah dengan nilai-nilainya di sekolah sehingga ia mengambil jalan mudah, jalan yang sudah pasti menjadi kodrat setiap wanita. Seolah membaca pikiran itu, Yuli memegang tangan Mansyur, “Ayah nggak usah khawatir. Nilai-nilaiku tetap baik. Aku tetap semangat belajar. Ibu yang pintar kan bisa mendidik anak-anaknya menjadi pintar juga. Iya kan?”
Mansyur menahan kekagetannya lagi, kali ini dengan memaksa dirinya berpikir keras, ini cita-cita yang tidak biasa bagi seorang anak. Tapi apakah salah? Hmm… kukira tidak salah sih. Yuli hanya menyadari bahwa hal yang tidak terelakkan baginya adalah menjadi seorang istri dan ibu. Jadi mengapa tidak diniatkan sekalian untuk menjadi istri dan ibu yang baik? Pikirannya buyar saat suara Yuli terdengar lagi, “Jadi kenapa Ayah kemarin marah-marah sama Ibu?”
“Hmm… itu ya? Kalau itu sih begini… hmm… mungkin memang Ayah lagi emosi sih. He..he… Kenapa gitu?”
“Ayah harus sayang sama Ibu dan banyak menahan marah dong. Ibu kan wanita yang penyayang, nah wanita penyayang itu adalah tiang keluarga.”
Tawa Mansyur pecah, sambil mengusap-usap kepala putrinya, ia mengucapkan janji, “Baiklah kalau begitu. Wah, di rumah kita ternyata ada satu lagi ibu-ibu nih. Ayah harus berhati-hati kalau bicara.”
Kali ini mereka berdua tertawa bersama-sama. Sampai tiba di tujuan, tidak ada lagi rasa bosan di perjalanan.

WASIAT DARI DUA ORANG IBU

Besok adalah hari pernikahan Tari dan Hari. Bila orang lain menyambut saat seperti ini dengan bahagia, Tari merasa perasaannya banyak bercampur dengan kesedihan. Betapa tidak, sang ibu yang terkena kanker stadium 4 sudah beberapa bulan ini hanya terbaring di tempat tidur. Seperti juga Hari, Tari sebenarnya merasa amat berat melangsungkan pernikahan di saat begini, namun akhirnya resepsi pernikahan jadi juga dilangsungkan justru karena permohonan amat sangat dari sang Ibu, “Selagi Allah memberikan waktu, Ibu ingin lihat putri terkecil Ibu memakai gaun pengantin.”
Setelah dokter angkat tangan, keluarga membawa Ibu Tari ke rumah. Usia di tangan Tuhan, bisa saja orang yang sedang menanti ajal tiba-tiba menemui kesembuhan, namun Tari dan kakak-kakaknya sudah mati-matian mempersiapkan perasaan merelakan bila tiba saatnya untuk berpisah dengan wanita yang begitu mereka cintai. Begitu pun hampir mustahil rasanya mencapai perasaan seperti itu. Seperti yang Tari rasakan malam ini, ketika ia duduk di samping ranjang ibunya.
“Sayangku,” suara lemah memanggil Tari. “Ketahuilah Nak, di saat-saat akhir hidup manusia, ada rasa penyesalan yang dialami semua orang. Bukan menyesali harta yang hilang, kesempatan yang luput atau jabatan yang beralih ke tangan orang. Bukan itu, Nak. Penyesalan yang dirasakan orang saat akhir hidupnya telah terlihat adalah menyesali betapa singkatnya waktu yang telah ia lewatkan bersama anak, suami dan saudara-saudaranya…”
“Ibu,” panggil Tari dengan mata berkaca-kaca, mencoba meminta ibunya agar beristirahat.
“Jangan minta Ibu tidur, Sayangku. Sebab inilah malam terakhir kamu arahkan baktimu untuk Ibu. Mulai besok, baktimu harus kau berikan untuk suamimu.”
Isak tangis terdengar pelan-pelan dari mulut Tari.
“Jangan menangis, berbahagialah. Tidak semua wanita mendapat suami shalih seperti Hari.”
Tari mengangguk, mengusap air mata dan mencoba tersenyum.
“Dengar wasiat ibu, Sayang: bila Allah Mengizinkan, kelak rumahmu akan diberkahi dengan anak-anak yang lucu. Namun sebelum menjadi seorang Ibu, jadilah dulu istri yang baik. Tidak bisa seorang wanita menjadi ibu yang baik tanpa menjadi istri yang baik. Nah, dengarlah: dalam diri setiap laki-laki tersembunyi seorang anak. Kelak kamu akan bisa melihatnya bila suamimu baru tiba di rumah dari tempatnya bekerja. Ia akan minta ini dan itu, persis seperti anak-anak. Jadi dalam diri seorang istri yang baik sudah pasti tersembunyi diri seorang ibu. Itulah pekerjaan utama seorang istri, Nak. Mendapatkan seorang suami adalah suatu berkah, namun menjaganya seumur hidupmu adalah pekerjaanmu. Lakukan pekerjaanmu itu dengan baik, minimal seperti yang dulu Ibu lakukan pada Almarhum Ayahmu selama 40 tahun.”
Tari mengangguk, air matanya menetes lagi. Ibu mengusap tetesan itu sambil menambahkan, “Suami dan istri itu seperti tangan dengan mata. Bila tangan terlukai, mata akan menangis. Bila mata menangis, tangan akan menghapuskan air matanya. Sayangku, bila suatu saat nanti kegelapan mendatangi rumah tanggamu, jangan usir dia dengan kegelapan lagi. Sebab kegelapan hanya bisa diusir dengan cahaya. Jangan usir kebencian dan amarah dengan kebencian dan amarah juga. Keduanya hanya bisa dienyahkan dengan cinta dan kasih sayang…”
Di tempat lain, Hari ditemui oleh kakak laki-laki satu-satunya. Sang Kakak menyerahkan sebuah amplop ke tangan Hari, “Saat Kakak menikah, Ibu menitipkan wasiat ini untuk Kakak baca. Saat itu Ibu berpesan agar memberikannya padamu bila tiba waktunya kamu untuk menikah juga…”
Hari menerima amplop itu dengan haru, terkenang ibunya yang kini telah tiada. Amplop itu berisi kertas berisi tulisan tangan khas ibunya.
“Anakku,” bunyi surat itu mulai terdengar seperti suara Ibu di telinga Hari. “Menjadi seorang suami dan seorang ayah adalah dua sisi mata uang. Seorang suami yang baik adalah ayah yang baik dan ayah yang baik adalah suami yang baik. Wasiat Ibu di hari pernikahanmu ini sederhana saja: Seorang laki-laki yang bijak tidak akan pernah menyuruh istrinya untuk diam, dia akan memberi tahu istrinya: betapa cantiknya kamu bila bisa menjaga perkataan kamu.”
Kakak Hari menepuk bahu adiknya itu, lalu berkata sambil tersenyum, “Itulah kunci kebahagiaan rumah tangga Kakak selama ini.”
Hari mengangguk, kini ia merasa lebih siap memasuki jenjang pernikahannya.
Tiga hari setelah pernikahan berlangsung, Ibu Tari meninggal dunia. Saat itu Tari ingin menceritakan wasiat ibunya pada Hari. Namun tak jadi ia lakukan, sebab setelah berpikir sejenak, ia berkata pada dirinya sendiri, “Wasiat itu bukan untuk suamiku, tapi untukku. Ibu pasti setuju bila wasiatnya itu untuk diamalkan, bukan untuk dikatakan.”
Hari juga tidak pernah menceritakan surat wasiat ibunya pada Tari, ia hanya melaksanakannya dengan baik. Itulah yang membuat mereka berdua dapat mengayuh biduk rumah tangga dengan mantap sejak sedini mungkin. Seakan keduanya tahu bahwa di tengah lautan ada sebuah pulau dimana anak-anak mereka menunggu untuk dilahirkan dan dididik menjadi orang-orang hebat berkat kedua orangtua mereka yang rukun dan saling menyayangi.

Kak Eka Wardhana – Penulis