CITA-CITA PENTING YANG TIDAK BIASA

Pemandangan di luar jendela tidak menarik perhatian Yuli. Padahal ia tidak sering naik kereta api keluar kota seperti ini. Kepala gadis kecil 10 tahun itu justru dipenuhi pertanyaan tentang masa depan. Ia menoleh, menatap wajah ayahnya yang dari tadi asyik menekuni bacaan.

“Ayah, menurut ayah siapa sih yang paling penting di dunia ini?”

Mansyur berhenti membaca, menatap wajah putri satu-satunya itu. Dengan kening berkerut karena berpikir, Mansyur menjawab, “Sepertinya kesehatan deh.”

“Ayah, aku bukan bertanya apa tapi siapa …”

“Oh iya. Hmm… Kalau begitu menurut ayah sih jawabannya adalah keluarga. Benar nggak?”

“Kalo menurut aku sih tidak benar, Ayah.”

“Lho? Gitu ya? Hmm.. oke deh. Nah, menurut kamu siapa dong yang paling penting di dunia ini?”

“Aku tidak tahu sih, makanya aku nanya sama Ayah… ”

“Wah, Ayah jadi bingung nih. Tadi Ayah sudah jawab, tapi kamu bilang bukan. Jadi …”

“Soalnya tadi kan Ayah bilang kalau jawabannya adalah keluarga. Menurut aku itu salah karena keluarga  bukan hal yang paling penting di dunia, tetapi …”

“Tetapi apa?”

“Tetapi merupakan segala-galanya.”

Mansyur tersenyum, sedikit kaget bercampur kagum, “Boleh nggak Ayah tahu kenapa menurut kamu keluarga adalah segala-galanya bagi kita?”

“Sebab menurut aku, orang yang tidak punya keluarga akan sedih dan sendirian di dunia ini.”

“Kan dia bisa punya teman?”

“Iya, tapi teman kan tidak sama dengan keluarga. Kan Ayah pasti lebih sayang aku dibanding sayang pada teman Ayah. Iya kan ?”

“Ya iyalah.”

“Jadi karena keluarga itu segala-galanya, aku sekarang sudah punya cita-cita yang nggak akan berubah-ubah lagi seperti kemarin.”

“Oh ya, apa itu?”

“Cita-citaku adalah menjadi Ibu yang baik buat anak-anakku nanti dan menjadi istri yang shalihah untuk suamiku kelak.”

“…” Mansyur jadi speakless. Baru setelah beberapa detik ia bisa berkata lagi, “Lantas bagaimana dengan segudang cita-cita kamu kemarin yang ingin menjadi dokter, arsitek, juara lomba masak dan lain-lain itu?”

“Itu kan cita-cita pendamping. Menurut aku perempuan harus siap menjadi istri dan ibu. Benar kan?”

Mansyur mendadak khawatir, jangan-jangan Yuli mulai menyerah dengan nilai-nilainya di sekolah sehingga ia mengambil jalan mudah, jalan yang sudah pasti menjadi kodrat setiap wanita. Seolah membaca pikiran itu, Yuli memegang tangan Mansyur, “Ayah nggak usah khawatir. Niali-nilaiku tetap baik. Aku tetap semangat belajar. Ibu yang pintar kan bisa mendidik anak-anaknya menjadi pintar juga. Iya kan?”

Mansyur menahan kekagetannya lagi, kali ini dengan memaksa dirinya berpikir keras, ini cita-cita yang tidak biasa bagi seorang anak. Tapi apakah salah? Hmm.. kikira tidak salah sih. Yuli hanya menyadari bahwa hal yang tidak terelakkan baginya adalah menjadi seorang istri dan ibu. Jadi mengapa tidak diniatkan sekalian untuk menjadi istri dan ibu yang baik? Pikirannya buyar saat Yuli terdengar lagi, “Jadi kenapa Ayah kemarin marah-marah sama ibu?”

“Hmm.. itu ya? Kalau itu sih begini.. hmm.. mungkin memang Ayah lagi emosi sih. He.. he.. Kenapa gitu ?”

“Ayah harus sayang sama Ibu dan banyak menahan marah dong. Ibu kan wanita yang penyayang, nah wanita yang penyayang itu adalah tiang keluarga.”

Tawa Mansyur pecah, sambil mengusap-usap kepala putrinya, ia mengucapkan janji, “Baiklah kalau begitu. Wah, di rumah kita ternyata ada satu lagi ibu-ibu nih. Ayah harus berhati-hati kalau bicara.”

Kali ini mereka berdua tertawa bersama-sama. Sampai tiba di tujuan, tidak ada lagi rasa bosan di perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s