INILAH SAUDARA-SAUDARAKU…

Seorang laki-laki muda muncul ke panggung disambut tepukan tangan dalam sebuah acara reality talkshow di televisi. Ketampanan wajahnya sedikit terkurangi gurat-gurat beban.
“Tamu kita kali ini adalah Bramasta Dipta,” ucap Sang Presenter. “Seorang Desainer Grafis muda yang sukses membangun sebuah perusahaan konsultan grafis tingkat internasional. Namun tampaknya kesuksesan itu tidak sepenuhnya berbuah kebahagiaan. Kenapa, Bram?”
Bram memperbaiki duduknya, memandang lantai sejenak, menghela napas, lalu menatap Sang Presenter, “Karena ada lubang besar dalam kehidupan saya, Mbak.”
“Bisa diceritakan pada kami?”
“Lubang besar dalam kehidupan saya itu adalah keluarga saya.”
“Istri Anda? Yang baru saja Anda ceraikan?”
“Sebenarnya bukan itu. Saya adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara. Kami terdiri dari 5 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Ke-6 saudara saya itulah lubang besar dalam hidup saya kini. Sudah lama mereka menjauh dan tidak lagi mengakui saya sebagai salah satu saudara mereka.”
“Tidak lagi diakui sebagai saudara??? Boleh kami tahu apa sebabnya?”
“Setelah mendapat gelar sarjana, saya memutuskan untuk menikah dengan salah seorang rekan kuliah saya. Kami beda agama. Pacar saya itu memaksa saya untuk keluar dari Islam dan memeluk agamanya sebagai syarat agar pernikahan kami bisa dilangsungkan. Kontan seluruh kakak dan adik-adik saya menolak keinginan itu. Tapi dalam keadaan mabuk kepayang, saya memutuskan untuk pindah agama. Sejak itulah tali silaturahim kami putus.”
“Sampai sekarang?”
“Ya, sampai sekarang. Padahal saya sudah menceraikan istri saya dan kembali menjadi seorang muslim.”
“Saya yakin di sini banyak orang bertanya: mungkin Anda menyesal memiliki saudara? Bayangkan, bila Anda anak tunggal, mungkin tidak akan ada yang protes pernikahan Anda dan mungkin Anda masih bersama dengan istri Anda saat ini. Bagaimana tanggapan Anda?”
“Mbak, kalau kelak saya menikah lagi, saya justru berharap agar Tuhan menganugerahi anak saya dengan beberapa orang saudara. Setidaknya satu orang.”
“Alasannya?”
“Karena seorang saudara tidak hanya berfungsi menjadi penjaga saudaranya yang lain, tetapi justru ikut membentuk karakter saudaranya itu. Itulah fungsi terbesar seorang saudara bagi kita.”
“Tapi bisa jadi seiring dengan berlalunya waktu, tentunya perilaku seseorang bisa berubah terhadap saudaranya?”
“Bisa jadi, tapi dalam kebanyakan kasus yang terjadi adalah sebaliknya. Seperti yang saya alami sebelum peristiwa pernikahan. Bagi kami bertujuh, waktu seolah tidak berlalu. Kami masih sama seperti dulu. Kami punya lawakan-lawakan khas keluarga, kami menyimpan rahasia-rahasia keluarga, kami bahkan juga ingat pertengkaran-pertengkaran kami. Itu artinya hati kami sudah saling berbagi satu sama lain.”
“Jadi bagi Anda memiliki saudara sangat penting artinya?”
“Sangat, sebab tidak ada cinta seperti cinta kepada saudara kita.”
“Seandainya Anda boleh memilih, jenis orang seperti apa yang akan Anda pilih sebagai saudara-saudara kandung Anda?”
“Di sinilah uniknya sebuah persaudaraan dalam suatu keluarga, sebab kita tidak bisa memilih keluarga kita. Tuhanlah yang memilihkannya untuk kita.”
“Jadi Anda tidak menyesal punya keluarga yang demikian kuat memegang prinsip sampai memilih mengucilkan Anda daripada mengorbankan prinsip tersebut?”
“Saya tidak menyesal, sebab sayalah yang salah.”
“Apa Anda rindu bertemu dan diterima mereka lagi?”
“Itu segala-galanya bagi saya sekarang.”
“Kalau begitu terimalah mereka kembali….”
Saat itu juga, 6 kakak dan adik Bram muncul. Kakak sulungnya menyapa, “Assalamu’alaikum, Bram. Sebenarnya kami juga sangat rindu dan sayang padamu, Dik.”
Bram memeluk mereka semua sambil menangis. Lalu dengan bangga ia berkata pada para penonton di studio, “Para hadirin, inilah saudara-saudaraku…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s