UNDERWEAR RULE (1)

“Ma, orang jahat itu siapa sih?” tanya Maya manja pada Dyah, ibunya.
“Orang jahat itu orang yang bermaksud nggak baik. Misalnya mereka ingin mengganggu, menyakiti atau mengejek orang lain. Memangnya ada apa, May?”
“Tadi di sekolah, Maya dipegang-pegang sama Pak Oon. Teman-teman Maya pada teriak: Ih Pak Oon jahat! Ih Pak Oon jahat!”
Berbarengan dengan bunyi DEG! Di jantungnya, Dyah cepat menyambar, “Pak Oon siapa, May?”
“Itu yang suka di kebun. Maya nggak suka soalnya tangan Pak Oon bau tanah!”
“Kamu mengadu sama Bu Guru nggak?” suara Dyah mulai melengking.
Maya menggeleng, “Nggak ah, kata Pak Oon jangan bilang Bu Guru, ini rahasia…”
Pucat pasi dan lemas, Dyah terhenyak di kursi. Tak disangkanya, sekolah TK mahal tempat Maya bersekolah bisa kecolongan mempekerjakan tukang kebun dengan penyakit psikis seperti Pak Oon. Dyah hampir yakin kalau Maya tidak berbohong. Selama ini putri sulungnya itu tak pernah berdusta. Lagi pula ada baiknya berhati-hati dan menganggap hal ini sangat serius untuk diselidiki. Aku sama sekali tidak boleh mengabaikan masalah ini dengan menganggap cerita Maya mengada-ada. Resikonya terlalu besar untuk diabaikan.
Tanpa membuang waktu, Dyah menelepon wali kelas Maya. Setelah menjelaskan bolak-balik dengan agak heboh khas ibu-ibu, Dyah mendapat janji untuk membicarakan hal ini besok pagi di sekolah. Sementara itu Maya diizinkan untuk diam dulu di rumah.
Setelah itu Dyah tak lagi sanggup mengerjakan apa pun dengan tenang. Sampai akhirnya ia teringat pada Putri. Teman akrabnya itu lulusan Fakultas Psikologi. Tanpa mengecek apakah pulsanya masih cukup untuk ngobrol lama, Dyah menekan nomor Putri dan langsung tersambung. Tak lama berbasa-basi, Dyah tembak langsung ke masalah.
“Itulah perlunya mengenalkan Underwear Rule pada anak-anak sejak balita, Di,” respon Putri kalem.
“Apaan tuh? Jelaskan dong. Semoga kamu punya waktu.”
“Oke, tapi siap-siap dengerin ya, aku mau ceramah nih.”
“Seumur-umur baru kali ini aku pengen banget dengerin kamu. Beneran!”
Putri tertawa kecil, lalu mulai ceramahnya, “Underwear Rule adalah pedoman sederhana bagi orangtua dalam membimbing anak tentang aturan-aturan berkomunikasi, berinteraksi, dan bersentuhan dengan orang lain, terutama di luar keluarga inti. Aturan ini mengajarkan sebuah prinsip dan nilai hidup yang tegas kepada anak bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Tidak boleh ada orang lain yang menyentuh dan menyakitinya, bahkan tidak juga orangtua dan saudara kandung.”
“Oooh begitu. Tolong teruskan, Put…”
“Oke, ada 5 poin Underwear Rule yang wajib kita ajarkan:
“1. Mengajarkan si Kecil Bahwa Tubuh Mereka Harus Dijaga dan Dilindungi.
“Jelaskan kepada anak bahwa ada beberapa anggota tubuh yang merupakan bagian intim, yang sifatnya sangat pribadi, tidak boleh dilihat dan dipegang orang lain, kecuali untuk alasan medis. Usahakan untuk tidak memberikan julukan atau istilah samaran dalam mengajarkan bagian intim tubuh si kecil. Mengajarkan soal seks kepada anak harus dilakukan lebih dari sekali dan berulang-ulang. Tujuannya agar anak langsung ingat ketika ada seseorang yang berusaha menyentuh di bagian tubuh yang tidak pantas dan segera bereaksi sesuai yang diajarkan.
“2. Ajarkan Perbedaan Sentuhan yang Pantas dan Tidak Pantas.
“Anak tidak selalu bisa membedakan bagaimana cara orang lain menyentuh mereka, apakah sentuhan tersebut wajar atau tidak. Tak hanya sentuhan, ajarkan kepada anak bahwa orang lain dilarang keras memandangi bagian tubuh mereka yang pribadi. Jika ada yang bersikap demikian, anak harus menegur atau melaporkan orang tersebut kepada guru di sekolah dan orangtua.
“3. Ajarkan Perbedaan Rahasia Baik dan Rahasia Buruk.
“Salah satu strategi yang kerap kali dilakukan oleh pelaku pelecehan seksual adalah mengajak anak untuk bermain rahasia-rahasiaan. Terkadang anak merasa bersemangat dan diistimewakan bila dipercaya menyimpan rahasia orang lain. Maka dari itu, sampaikan kepada anak bahwa tidak semua rahasia pantas disimpan, terutama rahasia yang membuat mereka tidak nyaman, ketakutan, sedih, dan tersiksa.”
Putri menarik napas sejenak, “Eh, kamu sudah bosan belum dengerin ceramah aku, Di?”
“Belum, Put. Malah lagi asyik-asyiknya nih.”
“Oke deh, kalau begitu kita lanjuuut….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s