WASIAT DARI DUA ORANG IBU

Besok adalah hari pernikahan Tari dan Hari. Bila orang lain menyambut saat seperti ini dengan bahagia, Tari merasa perasaannya banyak bercampur dengan kesedihan. Betapa tidak, sang ibu yang terkena kanker stadium 4 sudah beberapa bulan ini hanya terbaring di tempat tidur. Seperti juga Hari, Tari sebenarnya merasa amat berat melangsungkan pernikahan di saat begini, namun akhirnya resepsi pernikahan jadi juga dilangsungkan justru karena permohonan amat sangat dari sang Ibu, “Selagi Allah memberikan waktu, Ibu ingin lihat putri terkecil Ibu memakai gaun pengantin.”
Setelah dokter angkat tangan, keluarga membawa Ibu Tari ke rumah. Usia di tangan Tuhan, bisa saja orang yang sedang menanti ajal tiba-tiba menemui kesembuhan, namun Tari dan kakak-kakaknya sudah mati-matian mempersiapkan perasaan merelakan bila tiba saatnya untuk berpisah dengan wanita yang begitu mereka cintai. Begitu pun hampir mustahil rasanya mencapai perasaan seperti itu. Seperti yang Tari rasakan malam ini, ketika ia duduk di samping ranjang ibunya.
“Sayangku,” suara lemah memanggil Tari. “Ketahuilah Nak, di saat-saat akhir hidup manusia, ada rasa penyesalan yang dialami semua orang. Bukan menyesali harta yang hilang, kesempatan yang luput atau jabatan yang beralih ke tangan orang. Bukan itu, Nak. Penyesalan yang dirasakan orang saat akhir hidupnya telah terlihat adalah menyesali betapa singkatnya waktu yang telah ia lewatkan bersama anak, suami dan saudara-saudaranya…”
“Ibu,” panggil Tari dengan mata berkaca-kaca, mencoba meminta ibunya agar beristirahat.
“Jangan minta Ibu tidur, Sayangku. Sebab inilah malam terakhir kamu arahkan baktimu untuk Ibu. Mulai besok, baktimu harus kau berikan untuk suamimu.”
Isak tangis terdengar pelan-pelan dari mulut Tari.
“Jangan menangis, berbahagialah. Tidak semua wanita mendapat suami shalih seperti Hari.”
Tari mengangguk, mengusap air mata dan mencoba tersenyum.
“Dengar wasiat ibu, Sayang: bila Allah Mengizinkan, kelak rumahmu akan diberkahi dengan anak-anak yang lucu. Namun sebelum menjadi seorang Ibu, jadilah dulu istri yang baik. Tidak bisa seorang wanita menjadi ibu yang baik tanpa menjadi istri yang baik. Nah, dengarlah: dalam diri setiap laki-laki tersembunyi seorang anak. Kelak kamu akan bisa melihatnya bila suamimu baru tiba di rumah dari tempatnya bekerja. Ia akan minta ini dan itu, persis seperti anak-anak. Jadi dalam diri seorang istri yang baik sudah pasti tersembunyi diri seorang ibu. Itulah pekerjaan utama seorang istri, Nak. Mendapatkan seorang suami adalah suatu berkah, namun menjaganya seumur hidupmu adalah pekerjaanmu. Lakukan pekerjaanmu itu dengan baik, minimal seperti yang dulu Ibu lakukan pada Almarhum Ayahmu selama 40 tahun.”
Tari mengangguk, air matanya menetes lagi. Ibu mengusap tetesan itu sambil menambahkan, “Suami dan istri itu seperti tangan dengan mata. Bila tangan terlukai, mata akan menangis. Bila mata menangis, tangan akan menghapuskan air matanya. Sayangku, bila suatu saat nanti kegelapan mendatangi rumah tanggamu, jangan usir dia dengan kegelapan lagi. Sebab kegelapan hanya bisa diusir dengan cahaya. Jangan usir kebencian dan amarah dengan kebencian dan amarah juga. Keduanya hanya bisa dienyahkan dengan cinta dan kasih sayang…”
Di tempat lain, Hari ditemui oleh kakak laki-laki satu-satunya. Sang Kakak menyerahkan sebuah amplop ke tangan Hari, “Saat Kakak menikah, Ibu menitipkan wasiat ini untuk Kakak baca. Saat itu Ibu berpesan agar memberikannya padamu bila tiba waktunya kamu untuk menikah juga…”
Hari menerima amplop itu dengan haru, terkenang ibunya yang kini telah tiada. Amplop itu berisi kertas berisi tulisan tangan khas ibunya.
“Anakku,” bunyi surat itu mulai terdengar seperti suara Ibu di telinga Hari. “Menjadi seorang suami dan seorang ayah adalah dua sisi mata uang. Seorang suami yang baik adalah ayah yang baik dan ayah yang baik adalah suami yang baik. Wasiat Ibu di hari pernikahanmu ini sederhana saja: Seorang laki-laki yang bijak tidak akan pernah menyuruh istrinya untuk diam, dia akan memberi tahu istrinya: betapa cantiknya kamu bila bisa menjaga perkataan kamu.”
Kakak Hari menepuk bahu adiknya itu, lalu berkata sambil tersenyum, “Itulah kunci kebahagiaan rumah tangga Kakak selama ini.”
Hari mengangguk, kini ia merasa lebih siap memasuki jenjang pernikahannya.
Tiga hari setelah pernikahan berlangsung, Ibu Tari meninggal dunia. Saat itu Tari ingin menceritakan wasiat ibunya pada Hari. Namun tak jadi ia lakukan, sebab setelah berpikir sejenak, ia berkata pada dirinya sendiri, “Wasiat itu bukan untuk suamiku, tapi untukku. Ibu pasti setuju bila wasiatnya itu untuk diamalkan, bukan untuk dikatakan.”
Hari juga tidak pernah menceritakan surat wasiat ibunya pada Tari, ia hanya melaksanakannya dengan baik. Itulah yang membuat mereka berdua dapat mengayuh biduk rumah tangga dengan mantap sejak sedini mungkin. Seakan keduanya tahu bahwa di tengah lautan ada sebuah pulau dimana anak-anak mereka menunggu untuk dilahirkan dan dididik menjadi orang-orang hebat berkat kedua orangtua mereka yang rukun dan saling menyayangi.

Kak Eka Wardhana – Penulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s