TEMANKU, SI PIPI BULAT

Baru saja pindah ke sekolah baru, Riki langsung populer. Maklum, dia tampan, cukup tinggi untuk anak kelas 2 SMP, pintar, gaul dan jago gambar pula. Apalagi sekolah barunya ini adalah sekolah inklusi dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak. Bergaul dengan teman yang lebih sedikit tentu lebih mungkin mendapatkan interaksi yang lebih akrab. Makanya Leni heran melihat hari ini anaknya itu pulang uring-uringan.
“Ada apa Rik? Baru seminggu sekolah sudah cemberut begitu. Kemarin kamu bilang sekolah baru ini mengasyikkan! Ingat?”
“Semua mengasyikkan kok, Bu. Semuanya, kecuali satu…”
“Apa itu?”
“Bukan apa tapi siapa.”
“Oh, siapa itu?”
“Siapa lagi kalau bukan Abdu si Pipi Bulat.”
“Apa yang salah dengan Abdu?”
“Kata teman-temanku yang lain, dia itu dulunya autis. Sekarang sih sudah mulai normal berkat sistem sekolah baruku yang hebat dan baik itu. Tapi yang bikin aku sebel, dia ikut aku terus. Kemana aku pergi, dia selalu ada di dekatku. Nempel kayak perangko gitu lho, Bu! Terutama setelah aku memperlihatkan gambar-gambarku.”
“Itu tandanya dia ingin berteman dengan kamu, Rik.”
“Tapi caranya agak maksa gitu.”
“Dulu ingat nggak, sampai kelas 5 SD sebenarnya kamu pemalu dan amat tidak gaul?”
Riki mengangguk pelan.
“Kamu ingat saat itu Ibu bilang apa supaya kamu akhirnya punya teman?”
“Saat itu Ibu bilang agar aku jangan mencari teman, tetapi bersedialah menjadi teman.”
“Nah, kalau begitu kenapa kamu sekarang tidak bersedia menjadi seorang teman buat Abdu?”
Riki tidak punya jawaban, jadi dia diam saja. Leni duduk di hadapan Riki, menatap wajah putranya lekat-lekat dan berkata, “Ingat, hal yang paling indah dari sebuah pertemanan adalah saat kamu mengerti orang lain dan dimengerti oleh orang lain. Ketika kamu merasa bahagia karena dimengerti oleh orang lain, janganlah lupa untuk selalu ingat bahwa ada waktunya nanti kamu harus bersedia untuk mengerti orang lain.”
“Jadi aku harus berteman sama Abdu?”
“Setidaknya kamu terima dia apa adanya, jangan menghindar-hindar berlebihan atau melakukan hal yang menyakiti perasaannya. Apalagi dia baru mulai sembuh dari autismenya. Kamulah yang wajib lebih mengerti dia dibanding sebaliknya.”
Riki mendesah, tapi akhirnya mengangguk juga.
Bertahun-tahun kemudian, Riki tersenyum mengenang percakapan dengan ibunya itu. Saat itu ia sedang duduk di depan barisan orang yang antri meminta tanda tangannya. Di belakangnya terpampang poster back-drop besar dengan tulisan: Launching Komik Terbaru Seri Muslim Gaul. Riki sangat bersemangat karena ini barulah launching di dalam negeri. Dalam satu bulan ke depan, ia akan berkeliling ke beberapa negara untuk melakukan launching komiknya dalam bahasa Inggris dan Melayu.
Riki menoleh ke samping, melihat Abdu yang juga sedang bersiap-siap menandatangani komik mereka. Berkat ide-ide cerita luar biasa dari benak Abdu lah, komik yang Riki gambar akhirnya mendapat sambutan demikian luas. Sampai perencanaan pembuatan filmnya pun sudah dibuat segala. Kesuksesan ini menimbulkan sebuah kesimpulan: seluruh ilmu akademis yang ia dan Abdu peroleh sampai lulus kuliah hanyalah bersifat penunjang. Sedangkan persahabatan merekalah yang akhirnya menentukan segalanya.
Sambil tersenyum cerah pada Abdu, Riki teringat kata-kata olahragawan favoritnya, Muhammad Ali, yang bilang, “Persahabatan bukanlah sesuatu yang kamu pelajari di sekolah. Tetapi jika kamu tidak pernah belajar tentang arti sebuah persahabatan, kamu benar-benar tidak mempelajari apa-apa.”
“Siap untuk memberikan tanda tangan, Sobat?” Riki bertanya.
Dengan mata berbinar khas yang tidak pernah berubah sejak mereka bertemu, Abdu menjawab sambil tersenyum lebar, “Siap, Sobat!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s