SI ANAK PEMURUNG DAN PENDIAM

“Selamat belajar, Ratih. Nanti sore Mama jemput ya,” ujar Gladis ceria pada putrinya.
Ratih, gadis kecil kelas 6 SD itu tak menjawab. Tersenyum pun tidak. Ia turun dari mobil dan melangkah memasuki gerbang sekolah dengan mata menatap lekat-lekat ujung sepatu. Agak kontras dengan keadaan sekelilingnya, dimana anak-anak kebanyakan berlari di sekitar gerbang, saling panggil, tertawa dan terpekik riang di sana-sini.
Gladis menatap suaminya yang duduk di belakang setir. Tino membalas tatapan itu, “Ada apa, Mah?”
“Papa ingat tidak, dulu Ratih kan termasuk anak yang periang. Tetapi beberapa bulan belakangan ini ia jadi berubah 180 derajat. Kita harus melakukan sesuatu, Pa.”
Tino menjalankan mobil perlahan, lalu menjawab pelan dalam kebingungannya, “Ya, pasti. Tapi bagaimana?”
Gladis juga tidak tahu harus bagaimana, tapi ia tahu langkah pertamanya adalah mengajak Ratih bicara. Ia yakin bila langkah pertama sudah diambil, langkah-langkah selanjutnya akan terlihat dengan sendirinya…
Namun memang betul apa yang dikatakan orang, langkah pertama itulah yang tersulit. Baru mulai ditanya saja, Ratih langsung bersikap seperti seorang tertuduh. Ia memilih untuk lebih banyak diam, menunduk dan menolak menghadapkan tubuh ke ibunya. Gladis menghela napas, namun ia tidak menyerah.
“Ratih Puspadewi,” panggilnya pelan. “Kenapa anak Mama yang cantik ini sekarang jadi pemurung dan pendiam?”
Rasanya Gladis belum pernah mengerahkan seluruh kesabaran dan strategi selama hidupnya sebesar saat ia berusaha mencoba membuat anaknya bicara. Siapa bilang jadi orangtua mudah? Akhirnya suara Ratih terdengar juga. Berusaha memancing Ratih bicara memang berat, namun ternyata lebih berat lagi saat mendengar suaranya…
“Aku takut mengecewakan Papa dan Mama…. Nanti pas bagi raport, Papa dan Mama pasti kecewa… Pe-ernya terlalu banyak… Aku benar-benar tidak mengerti matematika… Aku selalu diejek teman-teman karena nilaiku paling jelek…” dan bla-bla-bla yang sejenisnya.
Gladis terhenyak, ia seperti petinju yang baru saja dipukul KO. Berusaha dengan sia-sia mencerna rombongan informasi yang baru didengarnya. Kini justru dia yang tak dapat berkata apa-apa.
“Seberat itukah masalahnya?” pikir Gladis.
“Mengapa baru sekarang aku tahu dan menyadarinya?”
Pikiran kedua ini membuatnya merasa amat bersalah. Setelah semalaman penuh tidak tidur dan membasahi permukaan bantalnya dengan air mata, esoknya Gladis mulai bergerak. Ia melakukan googling, bertanya, curhat, membaca dan mengajak diskusi pada siapa pun yang dianggapnya bisa membantu. Beberapa hari dalam kerja keras sampai akhirnya ia tiba pada satu kesimpulan sederhana. Begitu sederhana sampai ia tidak bisa menemukannya dari awal: Ratih sedang merasa tidak bahagia.
Maka perlahan-lahan dialog pun dibangun. Ketika Ratih mulai merespon, terjadilah tanya-jawab yang mulai tajam dan mengarah pada penyelesaian…
“Ratih, tahukah kamu kenapa Allah SWT membuat kita hidup?”
“Untuk berbuat sesuatu yang berguna, mungkin?”
“Benar, tepatnya: untuk membuat kita bahagia.”
“Tapi bagaimana Ratih bisa bahagia kalau hidup itu penuh masalah, Ma?”
“Karena kebahagiaan bukan terletak di luar, dimana semua masalah berada. Kebahagiaan ada di dalam hati kamu. Satu-satunya cara untuk berbahagia adalah berhenti merasa khawatir terhadap segala sesuatu yang berada di luar kemampuan kita.”
“Jadi aku tidak apa-apa kalau matematikaku jelek?” suara Ratih terdengar ragu.
“Kekuatan yang diberikan Tuhan padamu pastinya bukan di matematika, Nak. Bergembiralah kamu dengan apa yang kamu punya. Bersenanghatilah kamu dengan dirimu apa adanya. Maka kebahagiaan akan datang tanpa dicari.”
“Sungguh?!”
Gladis mengangguk sambil tersenyum. Maka Ratih pun memeluk ibunya erat-erat. Walau wajah Ratih terbenam dalam-dalam di dadanya, Gladis tahu buah hatinya itu sedang tersenyum lega.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s