DUA JENIS AIR MATA

Saat itu masih beberapa tahun sebelum handphone dikenal orang. Jadi Tasya dan adiknya, Sisha, berkomunikasi lewat surat yang mereka selipkan ke bawah pintu kos masing-masing. Itu pun bila keduanya tak sempat bertemu. Biar bagaimana, mengobrol sambil bertatap muka kan lebih asyik. Sayangnya mereka tak bisa sering bertemu. Keduanya kuliah di universitas yang berbeda sehingga tempat kos mereka pun berjauhan. Hari ini Tasya menginjak surat dari Sisha saat membuka pintu.
“Dia datang terlalu pagi lagi,” pikir Tasya sambil tersenyum menyayangkan dan segera membuka lipatan surat.
Senyumnya lenyap lebih cepat dari kedipan mata. Surat paling pendek yang pernah ditulis Sisha untuknya itu berbunyi, “Kak, pulang. Tadi pagi Mama kena stroke.”
Sore sampai hampir malam itu, sepanjang perjalanan dengan bus menuju kota asalnya, air mata Tasya terus mengalir. Entah berapa lembar tisu yang ia habiskan untuk mengeringkannya. Namun itu belum seberapa, tiba di rumah hampir tengah malam, ketakutan terburuknya menjadi kenyataan: Mama telah meninggal dunia satu jam sebelumnya…
Esok siang, sepulang dari pemakaman, Tasya memeluk Sisha dan menghabiskan seluruh air matanya yang tersisa. Anehnya Sisha tidak tampak banyak menangis. Justru ia yang bertindak menenangkan kakaknya. Posisinya terbalik, sebab menurut kelaziman, kakak harusnya yang lebih tabah dalam menghadapi musibah. Sedikit tergugah oleh pemikiran ini, Tasya memandangi wajah adiknya. Sisha juga tampak habis menangis, tapi mata adik semata wayangnya itu tidak sampai sembab seperti matanya. Mengira Sisha belum menyadari gawatnya keadaan yang mereka hadapi, Tasya pun berkata, “Sisha, kamu baru kuliah semester kedua dan Kakak baru semester keempat. Kini Mama sudah tidak ada menyusul Papa. Kita berdua sebatang kara. Siapa lagi menurutmu yang bisa membiayai kuliah kita, Dik?”
Sisha menggeleng pelan, wajahnya polos, tetapi tetap tak ada air mata yang jatuh. Melihat keluguan itu, Tasya kembali menangis, kali ini sambil meraung malah. Tasya mengira tangisannya ini bisa membuat Sisha akhirnya sadar, lalu ikut menangis. Namun di luar dugaan, Sisha malah memeluk erat dirinya, lalu berbisik dengan suara yang begitu tenang, sampai Tasya merasa seolah-olah bukan adiknyalah yang berkata, “Kak, kita memang sebatang kara, tapi kita masih memiliki satu sama lain. Walaupun sekarang keadaannya berat, tapi jangan lupa kalau kita adalah mahasiswi berprestasi. Mulai sekarang kita bisa kuliah sambil mengajar. Pasti kepandaian kita diperlukan di tempat-tempat bimbingan belajar yang membutuhkan. Kita juga bisa mudah meraih kesempatan beasiswa setelah melalui semester keempat nanti….”
Tasya berhenti menangis, menatap adiknya itu dan samar-samar mulai mengerti mengapa adiknya bisa menahan air matanya. Dalam keadaan terpuruk begini, Sisha sudah menemukan jalan keluarnya, sementara dirinya masih berkutat dalam kubangan kesedihan.
Beberapa waktu setelah itu usul Sisha mereka jalankan. Namun kenyataan tidaklah secerah harapan. Walau sudah mengajar, mendapat beasiswa, ikut proyek dosen dan sesekali membantu perusahaan event organizer amatir, biaya kuliah masih sukar dipenuhi. Bahkan walau ditambah sedikit-sedikit dari para saudara jauh yang merasa iba. Mahalnya biaya itu terutama untuk memenuhi keperluan praktikum. Akhirnya mereka memutuskan hal terberat yang bisa dilakukan: Sisha untuk sementara waktu mengambil cuti kuliah untuk full bekerja mengumpulkan dana. Sementara Tasya yang jaraknya tinggal kurang 3 semester lagi dari kelulusan, akan melanjutkan kuliahnya. Dengan harapan, bila Tasya lulus nanti dan bekerja, gantian ia yang bisa membantu Sisha untuk meneruskan kuliah….
Tasya mengenang kejadian bertahun-tahun lalu itu dengan perasaan campur aduk. Kini ia dan Sisha telah berhasil membangun sebuah perusahaan sendiri yang bergerak di berbagai bidang: pendidikan, peternakan, dan kuliner. Berkat kegigihan mereka dulu bekerja di berbagai bidang sambil kuliah, banyak keahlian yang ternyata bisa dimanfaatkan menjadi lapangan pekerjaan bila dikelola dengan baik. Hari ini untuk pertama kalinya, perusahaan mereka akan memberikan bea siswa kepada beberapa puluh siswa dan mahasiswa tak mampu.
Saat berbincang-bincang dengan para penerima beasiswa, air mata Sisha berkali-kali terlihat berlinang. Tampak sekali ia merasa iba pada anak-anak itu. Sambil berbisik, Tasya bertanya heran, “Dulu saat kita yang memerlukan biaya kuliah, kamu tidak menangis, Dik. Sekarang, justru setelah kita yang mampu memenuhi kebutuhan orang untuk kuliah, kamu malah menangis berember-ember. Kenapa begitu?”
Sisha menyusut air matanya, lalu menatap kakaknya penuh kasih sayang, “Kakak lupa ya, Mama dulu mengajarkan bahwa di dunia ini hanya ada 2 jenis air mata: air mata untuk diri sendiri dan air mata untuk orang lain. Air mata untuk diri sendiri menandakan kelemahan. Sedangkan air mata untuk orang lain menandakan kekuatan. Dulu maupun sekarang, aku hanya ingin menjadi kuat, seperti pesan Mama itu.”
Tasya balas menatap adiknya itu dalam-dalam dengan perasaan sayang yang sangat besar…

Eka Wardhana – Penulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s