Cintai Saudaramu, Nak!

we

Ayah dan Bunda, kita bisa saja menyesali banyak hal: kita bisa saja menyesali badungnya kita di masa kecil, kita bisa saja menyesali salahnya pilihan kuliah yang pernah diambil, kita bisa saja menyesali ribuan hal lain dalam hidup kita, namun satu hal yang sudah pasti: kita tidak bisa dan tidak boleh bisa menyesali anak-anak kita yang telah lahir. Pilihan yang tak akan pernah ada jawabannya adalah ketika orangtua disuruh menunjuk mana di antara anak-anak mereka yang paling mereka sayangi atau mereka benci. Bila ada di antara kita yang sanggup memilih –apapun itu alasannya- saya hanya berharap semoga Tuhan masih berkenan mengampuni kita…. JREEENG! (Tambahkan sedikit musik latar bernuansa seram, hihi).
Ayah dan Bunda, berbeda dengan anak tunggal, anak-anak yang tumbuh dengan beberapa saudara sekandung selalu memiliki dunia yang lebih kompleks, karena ia harus berbagi, harus saling mengerti dan harus mengelola beragam perasaannya pada kakak-kakak dan adik-adiknya. Desmond Tutu bilang bahwa, “Kita tidak bisa memilih di keluarga mana kita dilahirkan”. Namun seandainya saya disuruh memilih, saya lebih suka dilahirkan dalam sebuah keluarga besar daripada menjadi anak tunggal, walau kita tahu menjadi anak tunggal punya kenyamanan segudang lebih banyak. Jadi ingat apa yang ditulis Sarah Dessen dalam Lock and Key, “Saya tidak dapat membayangkan betapa berbedanya bila saya ternyata menjadi bagian dari sebuah keluarga besar, tidak hanya punya orangtua dan kakak-adik, namun juga punya paman, bibi, para sepupu yang semuanya bisa kita bilang dengan bangga: itulah keluarga besarku. Mungkin ada kalanya kamu merasa tersesat seorang diri, namun satu fakta yang pasti: kamu sebenarnya selalu punya orang dekat tempat kamu bisa berbagi.”
Hanya saja, Ayah dan Bunda, kita semua tahu satu hal: tidak mudah lho menjadi orangtua dengan anak lebih dari satu. Punya anak banyak identik dengan keributan setiap hari. Persis seperti yang ditulis Lemony Snicket dalam Horseradis: Bitter Truths You Can’t Avoid, “Kakak-beradik yang bilang mereka tidak pernah bertengkar, hampir pasti berarti telah menyembunyikan sesuatu.”
Hmm, semoga beberapa tips yang saya kumpulkan ini bisa membantu agar Anda, yang punya anak lebih dari satu atau dua, bisa membuat rombongan Anda menjadi kompak:
·         Pertama sekali sadarilah bahwa rasa persaudaraan antar kakak-beradik harus dibentuk, bukan dilahirkan. Fakta menyedihkan sudah bicara: banyak kakak-beradik di negara kita yang saling melakukan tindak kekerasan satu sama lain. Seperti Maya Angelou bilang, “Saya tidak percaya kelahiran saja bisa membentuk kita menjadi seorang saudara lelaki atau seorang saudara perempuan. Kelahiran hanya membuat kita sama dalam asuhan orangtua kita. Persaudaraan sebenarnya adalah kondisi yang diciptakan.”
·         Selanjutnya sadarilah bahwa dengan memiliki anak banyak, kita tidak perlu terlalu merisaukan utuhnya perabot atau rapinya rumah, dibanding dengan orang yang di rumahnya tak ada anak-anak lagi. Renungi deh kisahnya Harmon Killebrew ketika dia bilang begini, “Ayah pernah mengajakku dan adik laki-lakiku bermain di halaman. Saat itu ibu keluar rumah dan berseru, ‘Hei, kalian bikin rumputnya acak-acakan’. Ayah pun menjawab, ‘Kita kan tidak sedang menumbuhkan rumput, kita sedang menumbuhkan anak-anak lelaki.”
·         Susah atau senang, tumbuhkan selalu perasaan ceria, sikap optimis serta kata-kata positif di keluarga besar kita. Seperti yang dibilang Garrison Keillor, “Kenangan paling indah di masa kanak-kanakku adalah ketika membuat kakak laki-lakiku tertawa begitu keras sampai makanan keluar dari hidungnya.”
·         Manfaatkan anak-anak perempuan agar ikut membina dan menjaga adik-adiknya. Punya adik akan menumbuhkan sikap kewanitaan seorang anak perempuan lho. Sam Levenson menyatakannya dengan jenaka, “Jika kamu mau tahu bagaimana pacar kamu akan memperlakukan kamu setelah kalian menikah, dengarkan saja bagaimana ia berbicara dengan adik lelakinya.”
·         Karena bersaudara banyak rawan konflik emosi, selalu arahkan emosi mereka dengan kata-kata yang baik, walaupun tidak selalu harus logis-logis amat. Seperti yang dikatakan Lord Chesterfield, “Nenek saya bilang, menjadi gagah itu berarti kamu tidak memukul hidung adikmu dan selalu mau berbagi makanan dengan mereka.”
·         Bila anak-anak saling bertengkar, segeralah tengahi, dudukkan persolannya dengan objektif dan suruh anak-anak saling minta maaf dengan bersalaman dan berpelukan. Semakin dini, semakin mudah hal ini dilakukan. Ingat kekompakkan para saudara sekandung seringkali menjadi kekuatan besar di masa depan. Dalam The Secret World of Siblings, Erica E. Goode menulis, “Hubungan kakak-beradik –Dimana 80% orang Amerika punya- akan selalu berlanjut setelah pernikahan, akan membuat orang bisa mengatasi kematian orangtua mereka, akan bisa menyembuhkan perasaan yang hancur akibat persahabatan yang kandas. Hubungan kakak-beradik akan selalu menyemaikan rasa kedekatan, hangat, kesetiaan dan saling percaya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s