Ajar Anak Menyuarakan Pikiran

Ayah dan Bunda, dalam teori Kecerdasan Ganda kita akan mendapati salah satu dari beragam kecerdasan manusia adalah kecerdasan verbal.  Bersyukur deh bila anak kita memiliki kemampuan berbicara yang baik, namun bila tidak, apa yang harus kita lakukan? Apakah lebih baik fokus di penguatan kecerdasan lain yang memang potensial -karena toh memang setiap manusia memiliki kekuatan yang berbeda di tiap kecerdasan itu-? Jawabnya tentu tidak, kita tetap harus menguatkan setiap kecerdasan yang dirasa kurang dengan cara yang tepat. Jadi, bagaimana ya menguatkan kecerdasan verbal?
Ayah dan Bunda, saya sempat melongo mendengar informasi dari kakak saya yang tinggal di Hamburg, Jerman, bahwa pola pendidikan dasar di sana 60 persennya diarahkan pada kemampuan verbal. Hasilnya terlihat jauh dengan anak-anak di negeri kita tersayang ini, bila kebanyakan anak-anak kita tampak terhambat bila ditanya atau disuruh bicara di depan umum, anak-anak Jerman akan berebut mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan, bahkan sebelum guru menyelesaikan pertanyaannya. Bagaimana caranya mereka bisa begitu ya?
Jawaban kedua pertanyaan di atas kira-kira sama, Ayah dan Bunda, yaitu bukannya melatih lidah dan bibir agar bicara lebih lancar (karena cara ini baru tepat bila anak masih berusia bayi), tetapi lebih kepada mengembangkan pikirannya.  Jadi ajak anak menyuarakan pikirannya, bukan menggerakkan bibirnya!
Mengapa harus pikiran? Karena Ayah dan Bunda, kemampuan verbal yang kita harapkan dari anak adalah kemampuan berbicara, bukan kemampuan ngobrol. Iya apa iya, sih? Kalau ngobrol mah nantinya nggak akan beranjak dari anak alay dan anak nongkrong dong. Tentu kita ingin anak-anak kita jauh lebih baik dari itu.
Mengapa harus pikiran? Karena secara teknis, hal itulah yang dilatih para pendidik di Jerman. Di Taman Kanak-kanak, sudah biasa kalau akan mengerjakan sesuatu, anak-anak akan diatur untuk duduk melingkar agar setiap anak mempunyai akses visual yang sama ke guru. Lalu guru menjelaskan bahwa hari itu mereka akan membuat suatu benda, misalnya: cover buku. Setelah bentuk covernya diperlihatkan, guru pun memperlihatkan bahan-bahan pembuatnya. Lalu langkah pertama dilakukan dengan memperlihatkan alat dan bahan dasar, misalnya kertas serta gunting, sambil dilontarkan pertanyaan kepada anak-anak, “Pertama-tama apa yang harus kita lakukan dengan kertas dan gunting ini ya?” Di saat itu semua anak akan berebut mengacungkan tangan, “Dilipat dulu, Bu!” “Dilipat lalu digunting, Bu!” dll… Guru akan menerima setiap pendapat (walau pasti banyak yang ngaco, maklum deh anak-anak), kemudian memperlihatkan caranya. Setelah itu untuk masuk tahap kedua, guru akan memperlihatkan bahan berikutnya dan bertanya lagi. Begitu seterusnya. Jadi polanya jelas terlihat: berpikir dulu, lalu berkata – berpikir lagi, lalu berkata lagi- and so on…
Namun dan tapi nih, Ayah dan Bunda, bila berpikir dulu baru bicara, besar kemungkinannya anak-anak justru malah akan tampak pendiam. Nah lho, jadi timbul kekhawatiran baru deh: gimana dong kalau jadinya anak saya malah dianggap kurang gaul dan akhirnya dikucilkan?
Ah, ah, jangan khawatir, Ayah dan Bunda, karena bicara yang tanpa didahului pikiran itu malah banyak berakibat negatif lho. Seorang pengarang tanpa nama bilang, “Kebodohan biasanya dihasilkan ketika lidah lebih cepat dari otak.”
Sementara pengarang tanpa nama yang lain juga bilang, “Bicara itu murah karena suplainya lebih melimpah dari tuntutan.”
Ah, Ayah dan Bunda, orang yang diam karena berpikir bukanlah berarti seorang pendiam. Anak yang dibiasakan dirangsang dulu pikirannya baru berbicara, justru akan cakap dalam berdiskusi, bukan hanya sekadar berargumen. Robert Quillen bilang, “Diskusi menambah pengetahuan, sementara argumen malah menambah peluang kesalahan.”
Ayah dan Bunda, tulisan ini hanya sebagai pembuka bahan berpikir lho, bukan menawarkan tips-tips yang jelas dan gamblang. Jadi harap mencari tahu lebih banyak bagaimana cara menerapkannya, bahkan carilah tahu apakah memang benar anak-anak bisa dilatih berpikir dulu baru bicara di setiap kesempatan atau tidak?
Sebagai penutup, ayo renungkan apa yang ditulis oleh seorang pengarang -yang lagi-lagi lupa mengenalkan dirinya-, katanya, “Anjing tidak dikenal sebagai anjing berkualitas tinggi hanya karena ia pandai menggonggong. Manusia pun begitu: tidak dikenal sebagai orang baik hanya karena ia fasih dalam berbicara.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s