Bagaimana Menanam Empati di Benak Anak-anak?

images
Ayah dan Bunda, apa bedanya simpati dan empati? Di bangku kuliah, saya ingat dosen saya mendefinisikan keduanya kira-kira seperti ini: “Simpati adalah kemampuan memahami apa yang dirasakan orang lain tetapi terlalu dalam sehingga kita sendiri hanyut di dalamnya. Sedangkan empati adalah kemampuan memahami perasaan orang lain tanpa hanyut di dalamnya.”
Jadi mana yang lebih unggul? Tentu empati, sebab kalau tidak hanyut dalam perasaan orang, kita punya peluang untuk membantunya menemukan jalan keluar. Nah, seberapa penting sebenarnya empati itu?
Biar kita minta Mr. Daniel Goleman –pakar Kecerdasan Emosi- menjawabnya, “Kalau Anda tidak memiliki kemampuan mengelola emosi, kalau Anda tidak memiliki kesadaran diri, kalau Anda tidak mampu mengelola emosi-emosi yang menekan, kalau Anda tidak punya empati dan hubungan yang efektif dengan orang lain, maka tidak peduli betapa pun cerdasnya Anda, Anda tidak akan pernah mencapai kesuksesan.”
Nah lho, jadi memiliki empati ternyata modal penting bagi cerahnya masa depan anak-anak kita. Oke, kalau begitu bagaimana ya caranya agar anak-anak kita bisa memiliki empati? Mudah-mudahan beberapa tips yang saya kumpulkan ini bisa membantu…
Beberapa Cara Mendidik Anak Memiliki Empati:
·         Saya menyarankan agar Ibu lebih banyak berperan dalam pendidikan empati, sesuai dengan fitrah wanita yang lebih unggul dalam hal ini (tentu bukan berarti para ayah berlepas tangan lho). Daisaku Ikeda berpendapat, “Dalam pandanganku, para wanita adalah penjaga kedamaian yang alamiah. Sebagai pemberi kehidupan dan pendidik anak, wanita punya fokus lebih kuat pada hubungan antar manusia. Para wanita terikat dengan tuntutan untuk membesarkan anak dan melindungi keluarganya. Para wanita lah yang lebih mampu membangun perasaan dalam tentang empati, yang bisa membuat anak mampu merasakan apa yang ada di balik kenyataan yang dilihatnya.”
·         Ajak anak untuk memperhatikan orang lain lebih dekat. Jika ada temannya yang nakal, ajak anak untuk berdiskusi, mungkin temannya itu sedang merasa sedih di rumah, dll. Andrea Arnold menulis, “Saya selalu berpikir jika Anda melihat seseorang dengan lebih seksama, Anda akan mempunyai empati buat mereka. Sebab Anda akan mengenali mereka sebagai manusia, tak masalah apapun yang telah mereka lakukan sebelum itu.”
·         Ajari anak sedikit-sedikit bahasa daerah orangtua atau tempat ia tinggal, berikut (dan ini yang penting) tata krama bersikap sesuai adat daerah itu. Mempelajari adat istiadat orang lain membuat kita mengerti perbuatan yang mereka lakukan. Michael Gove berpendapat sama, “Mempelajari bahasa asing dan kultur yang menyertainya, adalah satu hal yang paling berguna untuk memperluas empati dan simpati seorang anak.”
·         Buat anak merasa nyaman dengan dirinya. Sadarkan bahwa dia memang berbeda dalam banyak hal dengan orang lain. Setelah itu barulah ajak ia melihat bahwa orang lain pun memiliki kelemahan dan kelebihannya sendiri. Misalnya dengan berkata, “Tubuh kamu memang paling kecil di antara teman-teman, tetapi tidak berarti kamu harus malu dan rendah diri lho. Lihat saja, kalau bernyanyi, ternyata suara kamu banyak disukai orang!” Heather Wilson bilang, “Anak-anak bertengkar karena melihat perbedaan dengan orang lain (ada anak yang jelek, ada anak yang terlalu jangkung, ada anak yang bodoh, dll). Sebagai orangtua, kita harus mengajarkan anak-anak menerima perbedaan itu sekaligus menyadarkan dimana potensinya. Hal ini akan membuat anak-anak nyaman dengan dirinya dan akan mudah bagi mereka untuk menunjukkan empati serta menerima orang lain.”
·         Ajak anak untuk mendengarkan orang yang bicara padanya. Sebab kebanyakan kita seperti yang dibilang Ernest Hemingway, “Ketika orang bicara, dengarkan seutuhnya. Kebanyakan orang tidak pernah mendengar.”
·         Ajak anak untuk banyak memberi senyum dan melakukan hal-hal kecil yang baik untuk orang lain. Itulah yang akan membuatnya menjadi calon orang sukses. Leo Buscaglia menegaskan hal ini, “Terlalu banyak kita meremehkan kekuatan sentuhan, senyuman, kata-kata yang ramah, telinga yang suka mendengarkan, penuturan yang jujur, dan perhatian-perhatian kecil yang ditujukan buat orang lain, padahal semua hal itu memiliki potensi besar untuk mengubah jalannya kehidupan.”
Semoga yang sedikit ini cukup menginspirasi, Ayah dan Bunda. Sebagai penutup, yuk dengarkan kata-kata Theodere Roosevelt, sebab kata-katanya lagi-lagi menyadarkan bahwa kecerdasan emosi sangat penting bagi sebagai bekal kesuksesan seorang anak, “Tidak ada orang yang peduli berapa pun banyaknya yang kamu tahu, sampai mereka tahu berapa banyaknya kamu peduli.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s