Disiplin, Antara Cinta dan Hukuman

1

Ayah dan Bunda, bila kita ditanya, “Apa tugas terberat sebagai orangtua?”, mungkin sebagian besar kita akan menjawab sama: menanamkan disiplin pada anak. Iya apa heu-euh?
Berat dan sulit, sebab kebanyakan kita hampir tidak mampu membedakan mana yang disiplin dan mana yang hukuman. Heu-euh apa iya?
Berat dan sulit, sebab disiplin adalah materi wajib yang harus diajarkan orangtua. Malah menurut saya haram nih hukumnya bila orangtua mengabaikan faktor yang satu ini. Beneran…
Disiplin adalah materi wajib sebab bila tak ada disiplin, konsekuensinya amat berat lho, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi orangtuanya. Ingat-ingat deh kalimat ini: Disiplin tidak akan mematahkan semangat anak sesering ketidakdisliplinan mematahkan hati orangtua mereka.
Disiplin adalah materi wajib untuk diajarkan mengingat disiplin sangat penting pengaruhnya. Bahkan bakat besar dalam diri anak akan menjadi tak banyak artinya bila tak ada disiplin. Roy L. Smith bilang, “Disiplin adalah api yang dinyalakan dengan baik, yang tujuannya adalah memasak bakat menjadi kemampuan.”
Disiplin adalah materi wajib, karena tanpa disiplin sukses anak di masa depan tak mungkin dicapai. Demikian keyakinan Jim Rohn yang berpendapat, “Disiplin adalah jembatan antara cita-cita dan pencapaiannya.”
Namun masalahnya, Ayah dan Bunda, terkadang kita terjebak dalam kekerasan saat melaksanakan disiplin. Saya ingat sindiran Haim G. Ginott, katanya, “Ketika seorang anak memukul anak lainnya, kita sebut itu agresi. Ketika anak memukul orang dewasa, kita sebut itu ketidaksopanan. Ketika orang dewasa memukul orang dewasa lain, kita katakan itu serangan. Namun saat orang dewasa memukul seorang anak, kita sebut itu disiplin.”
Tanpa sadar, dengan mengatasnamakan disiplin, kita ingin anak jadi penurut buta. Ini jelas tidak baik. Dalai Lama pernah bilang, “Ketika seseorang bicara tentang disiplin diri, sering kali artinya ia ingin mengontrol orang lain.”
Jadi, sampaikanlah disiplin dengan cinta. Bila tidak, akan jatuhlah kita kepada tindak kekerasan. Benar juga nih Bette Davis, ketika ia berpendapat, “Disiplin adalah simbol perhatian terhadap seorang anak. Anak memerlukan bimbingan. Jika dilakukan dengan cinta, tak ada yang namanya sesuatu yang terlalu keras buatnya.”
Agar disiplin yang kita tanamkan bisa disampaikan dengan cinta, ini nih sedikit tips yang saya kumpulkan:
·         Sadari bahwa tindakan mendisiplinkan diri memang berbau penderitaan. Namun ingat apa yang dinasihatkan Jim Rohn, “Kita semua pasti mengalami penderitaan akibat salah satu dari dua sebab: rasa sakit akibat disiplin atau rasa sakit akibat penyesalan. Perbedaannya adalah: rasa sakit akibat disiplin beratnya beberapa ons, sedangkan sakit akibat penyesalan beratnya beberapa ton.”
·         Sadari bahwa hukuman bukanlah disiplin. Sebab menghukum tanpa menanamkan nilai-nilai baik, tidak akan membuat seorang anak memiliki disiplin. Ini pendapat Bruno Bettelheim, “Hukuman dapat membuat kita menuruti perintah yang diberikan, namun hanya sampai di situ. Disiplin paling efektif datang dari kesadaran diri, bukan dari luar. Disiplin yang benar harus tumbuh dari nilai-nilai di dalam diri seorang anak.”
·         Berikan pengertian pada anak mengapa sebuah aturan dibuat dan kita harus berdisiplin melaksanakannya. Ini dikuatkan oleh Amy Laura Dombro, yang bilang, “Anak yang dihukum di bawah pohon tak akan tumbuh disiplinnya, sebab mereka tidak mengerti dan tidak bisa mengevaluasi apa kesalahannya. Agar anak berdisiplin, buat ia memahami bukan aturannya, tetapi alasan mengapa aturan itu dibuat.”
·         Terakhir adalah yang paling klasik tapi paling mudah dilupakan: contohkan pada anak bahwa kita adalah orang yang disiplin. Hal ini jelas akan terlihat saat orangtua mengelola manajemen rumah tangga: menaati aturan yang disepakati, merencanakan dan melaksanakan sebuah kegiatan, mengelola keuangan, menepati janji, dll. Ingat apa yang Stephen R. Covey bilang, “Kepemimpinan efektif adalah meletakkan apa yang harus didahulukan di tempat pertama, sedangkan manajemen (termasuk memenej rumah tangga) yang efektif adalah disiplin…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s