PENTING MANA YA: INTELEKTUAL ATAU KARAKTER?

Berpikir
Iya kan, Ayah dan Bunda: Siapa sih yang tidak senang punya anak pintar di sekolah? Sebaliknya, siapa pula yang nggak khawatir punya anak yang sulit mengangkat nilainya di sekolah, iya kan Ayah dan Bunda? Nah, kacamata “Intelektual menentukan kesuksesan masa depan” ini juga sempat mengganggu saya. Ditambah kenyataan bahwa dulu saya termasuk anak yang lumayan berprestasi secara akademis, saya agak gemetar juga ketika putra kedua saya terlihat kesulitan mengejar nilai akademisnya. Untung saya pernah belajar psikologi sedikit, jadi sudah dari semula saya tahu bukan di bidang akademis lah Tuhan menganugerahkan kelebihan pada putra saya itu. Baru beberapa saat yang lalu lah kegundahan itu sirna, ketika putra saya itu menamatkan juz terakhir Al-Qur’an hanya dalam ¼ malam di hari libur pula. Padahal di sore harinya ia sempat bilang, “Bisa nggak ya malam ini aku mengkhatamkan Al-Qur’an lagi? Habis teman-temanku sudah melewati aku mengkhatamkan Qur’an.”
Putra saya itu pasti nggak akan tahu betapa luluhnya hati saya ketika beberapa saat kemudian ia mengulurkan tangannya minta disalami, lalu sambil tersenyum ia bilang, “Aku berhasil khatam Qur’an lagi.”
Ternyata dia punya karakter yang potensial! Alhamdulillah jutaan kali….
Ayah dan Bunda, Webster Dictionary mendefinisikan karakter sebagai: Kualitas mental dan moral individual yang meliputi keunikan, kekuatan dan reputasi baik seseorang. Jadi sebenarnya inilah inti diri kita. Bukan hanya demi meningkatkan intelektual, namun untuk memperkuat karakter pula lah seharusnya kita menyekolahkan putra-putri kita. Hal ini sudah disadari oleh Martin Luther King, Jr. Ketika ia berkata, “Fungsi pendidikan adalah untuk mengajar orang berpikir intensif dan berpikir kritis. Intelektual dan karakter, itulah tujuan sejati pendidikan.”
Mungkin ada anak yang sudah punya segudang piala di lemarinya, tentu hal ini akan membuat orangtuanya merasa bangga. Namun hati-hati lho, sebab semuanya belum selesai. Bila intelektual anak sudah tumbuh, jangan lupa untuk menyuburkan juga karakternya. Hal ini telah lama diingatkan oleh Abraham Lincoln, anak miskin penebang kayu yang akhirnya menjadi presiden Amerika, “Karakter seperti pohon dan reputasi seperti bayangan. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan tentang pohon, namun pohon itu sendirilah benda sebenarnya.”
Ayah dan Bunda, boleh saja sih intelektual anak banyak kita pasrahkan pengembangannya pada guru dan sistem sekolah, namun untuk menumbuhkan karakter, orangtualah guru anak sebenarnya. Mengapa ya? Sebab mendidik karakter lebih sulit dan keras. Hellen Keller mengingatkan kita, katanya, “Karakter tidak bisa dibangun dengan cara yang mudah dan tenang. Hanya dengan melewati pengalaman dan mencoba, serta melalui penderitaan lah jiwa seseorang bisa dikuatkan, ambisinya terinspirasi dan kesuksesan pun bisa diraih.”
Pentingnya karakter yang kuat bagi masa depan tergambar dari pernyataan Walter Anderson ini, “Ketika hal buruk terjadi, respon saya akan tergantung pada karakter dan kualitas hidup saya. Saya bisa memilih untuk duduk menangis, tak mau bergerak karena besarnya rasa kehilangan, namun saya juga bisa memilih untuk bangkit dari rasa sakit dan menghargai hadiah terbesar yang saya punya: hidup itu sendiri.”
Billy Graham juga berpendapat senada, “Ketika kekayaan hilang, tak ada yang sebenarnya hilang; ketika kesehatan hilang, memang ada sesuatu yang hilang; namun ketika karakter hilang, maka kita kehilangan semuanya.”
Jadi bagaimana ya cara mendidik karakter yang baik? Sedikit tips saja ya:
·         Perhatikan lalu bangunlah kata-kata yang diucapkan anak untuk lebih bernada positif dan dipenuhi kata-kata sifat yang baik. Hal ini saya simpulkan dari pernyataan Mark Twain, “Karakter seseorang dapat dipelajari dari kata-kata sifat yang biasa ia gunakan dalam percakapan.”
·         Ajarkan sikap Ihsan, yaitu selalu merasa dilihat Allah SWT. Didik anak melakukan hal terbaik walau tak seorang pun melihatnya. H. Jackson Brown, Jr. Sependapat, “Karakter kita adalah apa yang kita lakukan ketika kita merasa tak seorang pun melihatnya.”
Jadi Ayah dan Bunda, mana yang lebih penting: intelektual atau karakter? Yah, simak saja deh pernyataan dua orang ini:
Albert Einstein, “Kebanyakan orang bilang intelektual lah yang menciptakan ilmuwan hebat. Mereka salah: yang membuat ilmuwan menjadi hebat adalah karakternya.”
Bruce Lee, “Pengetahuan memberi kita kekuatan, tetapi karakter memberi kita rasa hormat orang lain.”
Nah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s