ADA APA DENGAN MARAH?

marah
Ayah dan Bunda, perasaan apa yang Anda rasakan pada anak Anda yang membiarkan pintu depan terbuka sehingga masuklah lalat ke meja makan (kita kan sudah tahu repot banget mengusir lalat yang sudah mengelilingi makanan), padahal sebelumnya Anda telah memintanya untuk menutup kembali pintu itu? Pertanyaan lanjutannya adalah: setelah itu, tindakan apa yang akan Anda lakukan?
 Bagi kebanyakan kita (termasuk saya juga nih), jawaban pertanyaan pertama adalah marah, minimal kesal. Saya pikir sampai di situ keadaannya masih wajar, maklum kita kan bukan malaikat. Namun jawaban pertanyaan kedua benar-benar akan membuat tiap kita bisa berbeda derajat: ada yang derajatnya sampai ke langit, ada yang masih di permukaan bumi, bahkan mungkin justru ada di dasar jurang. Mengapa demikian? Sebab jawabannya bisa beragam dengan beragam efek psikologis pula: ngomel, jewer, cubit, berteriak, mengingatkan dengan baik-baik, diam saja, dan buanyak lagi…
Seringkali masalahnya bukan pada marah, tapi pada apa yang terjadi pada kita ketika sedang marah. Merasa marah, dalam hal-hal tertentu, bahkan bisa membuahkan hal-hal positif. Seperti pendapat pribadi Mary Garden, “Emosi yang indah saat kita sedang terjebak kebuntuan adalah rasa marah. Marah lah –dibanding hal yang lain- yang lebih membuat saya bisa melepaskan diri dan mendatangkan kreativitas dan produktivitas.”
Kenapa dunia diam saja melihat penderitaan muslim di Palestina yang dijajah Israel? Jawabannya mungkin seperti yang dikatakan Bede Jarrett, “Dunia sebenarnya memerlukan juga kemarahan. Sebab Dunia seringkali membiarkan kejahatan terjadi karena Dunia tidak cukup merasa marah.”
Menurut James Russel Lowell pun, rasa marah lebih produktif dari sedih, “Seringkali ketika orang merasa sedih, mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka hanya menangisi keadaan yang sedang dialami. Namun bila orang sedang marah, biasanya mereka membuat sebuah perubahan.”
Namun Ayah dan Bunda, seperti yang sudah kita ketahui bersama: marah, lebih banyak mudharatnya, bahkan bisa sangat berbahaya. Mohon perhatikan apa yang dikatakan Robert Green Ingersoll, “Kemarahan adalah angin yang meniup-mati lampu pikiran kita.”
Jadi kunci pertamanya adalah: bila rasa marah sudah tak terhindarkan lagi, jagalah pikiran kita agar tidak padam. Benar juga nih yang dikatakan Aristoteles, “Setiap orang dapat menjadi marah, itu hal yang mudah. Namun marah pada orang yang tepat, dengan derajat yang tepat, pada waktu yang tepat, untuk tujuan yang tepat, serta dilakukan dengan cara yang benar, adalah hal yang berada di luar kekuatan setiap kita. Mungkin bisa, tetapi benar-benar tidak mudah dilakukan.”
Kunci keduanya –tapi ini so pasti lebih sulit laaah- adalah: sebisa mungkin jangan marah. Saya setuju pendapat yang mengatakan bahwa akhlaq seseorang terlihat saat merespon secara reflek hal-hal tidak enak yang terjadi padanya (semisal: tersenggol, tersandung, dicuekin, dll.). Bila reflek pertama yang keluar rasa marah, akhlaqnya perlu diperbaiki nih (walaupun pada akhirnya ia menyesal karena marah). Nah, respon secara reflek itu ternyata keluarnya dari alam bawah sadar. So? Agar respon-reflek-kilat kita bukanlah marah, caranya adalah dengan menanami alam bawah sadar kita dengan hal-hal yang diajarkan agama: banyak berdzikir, khusyuk dalam shalat dan berdoa, banyak membaca Al-Qur’an serta merenungi maknanya…
Ayah dan Bunda, marah seperti api besar, dengan cepat anak-anak kita bisa melihat dan “terbakar” dengan cara menirunya. Sementara sabar seperti air sumur jernih-sejuk, yang untuk menikmatinya harus bersusah-payah dulu kita menimba airnya, setelah itu masih harus diberikan pula kepada anak-anak kita. Marah bersifat aktif, sabar lebih pasif. Dengan kata lain jauh lebih mudah mengajarkan anak-anak rasa marah daripada bersikap sabar.
Ada satu tips lagi yang dapat kita ajarkan pada diri kita, lalu pada anak-anak, agar tidak mudah marah dalam menghadapi sesuatu: berpikirlah apakah kita bisa melakukan pertolongan. Sebab menurut Plato hanya ada dua hal dimana orang tidak bisa marah terhadap sesuatu, yaitu pada hal yang bisa mereka tolong dan pada hal yang mereka tidak bisa tolong sama sekali.
Jadi, ADA APA DENGAN MARAH? Jawabannya silakan simpulkan sendiri dari pendapat Marcus Aurelius ini, “Lebih banyak kesengsaraan yang timbul sebagai konsekuensi rasa marah daripada penyebab kemarahan itu sendiri.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s