PELUK, PELUK DAN PELUK LAGI…

i love u mom
Ayah dan Bunda, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika balita kita terjatuh dan menangis? Mungkin sebagian kita akan membekukan wajah dan berkata dengan intonasi sekeras papan, “Bangun, anak kuat. Bangun!”
Reaksi di atas adalah kebalikan dari reaksi berlebihan berupa pekik dengan wajah kaget campur khawatir yang juga amat kerap dilakukan para orangtua dalam situasi ini. Kedua reaksi ini adalah tindakan yang tidak tepat. Keduanya akan menanamkan perasaan buruk yang sama di benak anak: ternyata jatuh itu tidak wajar dan boleh jadi merupakan kesalahanku sendiri. Jadi bagaimana dong sebaiknya? Menurut teori psikologi yang dikembangkan dari eksperimen terkini, yang sebaiknya dilakukan orangtua adalah tetap menunjukkan ekspresi tenang: khawatir boleh, tapi jangan berlebihan. Lalu? Lalu berikanlah anak sebuah pelukan. Mengapa sih pelukan? Bukankah itu akan membuat anak menjadi cengeng dan lemah?
Tidak, Ayah dan Bunda, sebab anak-anak usia dini sedang mempelajari apakah dunia ini aman atau tidak. Ketika pelukan diberikan saat ia terjatuh, ia akan belajar bahwa setiap kali mengalami kesulitan, akan ada yang selalu memperhatikan dan menolong. Ia akan memperoleh pelajaran bahwa: setiap kali aku dalam masalah, ternyata aku tidak sendirian kok. Dunia ini nyatanya aman dan ramah. Orang-orang akan selalu datang dan memberiku bantuan. Nah, anak-anak yang tumbuh dengan persepsi bahwa dunia ini baik, aman dan ramah, akan menjadi orang dewasa yang hangat, optimis dan bersemangat. Semua itu dipupuk oleh sebuah tindakan saja: pelukan…
Ayah dan Bunda, secara bergurau menurut saya sebenarnya Tuhan akan memberikan lebih dari sepasang tangan kepada manusia, sebab Tuhan menciptakan tangan (di antaranya) untuk memeluk orang lain. Namun karena diberi sepasang tangan saja manusia lebih suka menggunakannya untuk menuding, menjewer, mencubit dan menyakiti, cukuplah sepasang saja yang diberikan. Itupun karena Tuhan begitu baik, sebab bisa saja Dia tidak memberikan kita tangan sama sekali bukan?
Kalau masih belum yakin besarnya arti sebuah pelukan, mohon renungi tulisan Johnny Ray Ryder, Jr., dalam “A Simple Hug”, katanya, “Tidak ada sesuatu yang seperti sebuah pelukan sederhana. Sebuah pelukan selalu menghangatkan hati, selalu memberi kita diterima dan membuat kita lebih mudah menjadi bagian dari sesuatu…”
Juga tulisan Walter Anderson dalam “The Confidence Course”: Kalau Anda sedang marah atau dimarahi orang yang Anda cintai, beri dia sebuah pelukan. Peluk dia dengan tulus. Semakin Anda tidak ingin memeluknya, justru semakin besar pula alasan untuk memberinya pelukan. Pasti sulit untuk tetap merasa marah ketika seseorang menunjukkan rasa sayangnya kepada Anda, itulah tepatnya yang terjadi bila kita saling memeluk satu sama lain.”
Ayah dan Bunda, pelukan adalah bahasa cinta. Sebuah pelukan adalah jalan terdekat antara hati kita dengan hati anak. Cinta yang indah tidak akan bisa dibungkus dalam kotak sebagus apapun, namun cinta ternyata bisa dibungkus dalam sebuah pelukan. Bill Keane dalam “Family Circus” menyatakannya dengan tepat, “Pelukan itu seperti sebuah bumerang, Anda akan selalu mendapatkannya kembali.”
Ayah dan Bunda, bagi anak sebuah pelukan kadang lebih bermakna dari seribu kata cinta. Tidak ada tali yang lebih kuat untuk mengikat hati kita dengan hati anak buat selamanya selain sebuah pelukan. Anda yang masih beruntung dengan orangtua yang masih hidup, coba berikan mereka pelukan. Lalu rasakan benar-benar bagaimana rasanya dipeluk balik oleh ayah atau ibu Anda itu. Benarlah apa yang dikatakan Terri Guillemets, “Tidak ada yang seperti pelukan ibu.”
Sudahkah kita memeluk anak kita hari ini? Ingat lho, Ayah dan Bunda: kita tidak bisa mengharap sebuah pelukan bila kita tidak mau memeluk. Cinta kita kepada anak, setulus apa pun, akan seperti bunga indah yang tidak harum bila tidak disertai pelukan demi pelukan. Coba deh rasakan hangatnya hati ketika tangan kecil anak-anak memeluk tubuh kita. Saat itu kita akan tahu bahwa sebuah pelukan adalah anugerah besar, sebab sebuah pelukan selalu pas ukurannya, tak peduli tangan ayah setinggi dua meter yang memeluk bayinya atau tangan anak umur 3 tahun yang sedang merangkul leher ibunya. Pelukan selalu pas rasa dan ukurannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s