Hanya Engkau dan Aku

1family16

Ayah dan Bunda, bila anak telah menapak usia remaja, mungkin sekali hati kita akan tersentuh oleh lagu ciptaan Ria Prawiro-Dodo Zakaria-Vina Panduwinata yang berjudul “Anakku” berikut ini…
 
Saat engkau tertidur, kupandangi wajahmu
Masih ingin kumendekapmu, masih ingin ku menciummu
Tak pernah kusadari, waktu cepat berlalu
Kini engkau menjadi besar, Kini engkaulah harapanku
Tumbuh, tumbuhlah anakku… Raihlah cita-citamu
Jangan pernah engkau ragu, Sayang…
Doaku slalu bersamamu
Membuat aman di hidupmu… (selamanya…)
Waktu, Ayah dan Bunda, mungkin merupakan salah satu hal yang paling sulit dipahami. Waktu adalah sesuatu yang paling berharga sekaligus hal yang paling murah. Persis seperti yang dikatakan William Penn, “Waktu adalah sesuatu yang paling kita inginkan, namun yang paling buruk kita gunakan.”
Namun satu hal yang pasti: waktu berjalan terus tanpa bisa dihalangi. Seperti yang diingatkan Benjamin Franklin, “Anda mungkin bisa menunda, tetapi waktu tidak.”
Ayah dan Bunda, waktu pulalah yang membuat setiap saat bersama anak-anak menjadi amat berharga. Setiap kali kita berhenti untuk merenung dan menatap wajah anak baik-baik, setiap kali itu pula kita akan terkejut: betapa banyak yang telah berubah padanya. Maka, akan ada saat-saat ketika kita akan bertanya dalam hati, “Kapan datangnya anak tanggung bersuara pecah ini? Kemana perginya balita kecilku yang manis itu?”
Erica Lorraine Scheidt dalam buku “Uses for Boys” seakan mewakili semua orangtua yang telah memasuki masa-masa ini, ketika ia menulis, “Aku ingin pergi ke masa lalu dan mengingatkan diriku lagi betapa berharganya saat ketika aku tidur bersama di ranjang anakku dan menjadi segalanya bersama-sama. Ketika aku adalah segalanya untuknya. Ketika aku adalah semua keinginannya di dunia ini.”
Saya sendiri, ketika berbaring di samping putri terkecil saya, hampir meneteskan air mata saat tangan anak saya itu mengusap pelan rambut saya, lalu dengan wajah khawatir bercampur tidak mengerti, ia berkata, “Rambut Abi sudah banyak yang putih”. Bukan putihnya rambut yang membuat saya terharu, tetapi ternyata anak-anak pun melihat efek yang dibuat waktu dan memperhatikan perubahan kita. Lalu apa yang harus kita lakukan bila waktu telah mengantar kita ke tempat anak-anak mulai berangkat dewasa?
Ayah dan Bunda, saat ini saya hanya punya satu jawaban: luangkan waktu khusus bersamanya tanpa ada orang lain. Hanya engkau dan aku, Nak. Ya, hanya engkau dan aku…
Jangan kira kita tahu semuanya tentang anak kita. Jangan kira pula anak pun tahu semuanya tentang kita. Dalam buku “Undercover”, Beth Kephart berkata, “Aku akan memberikan apa saja untuk tahu lebih banyak tentang ibu dan ayah. Namun aku tidak dapat mengajukan banyak pertanyaan. Aku harus menunggu sampai mereka yang menyampaikannya padaku.”
Ayah dan Bunda, ketika anak mulai meremaja adalah saat ketika kita melebarkan telinga dan membesarkan hati untuk mendengarkan semua hal dari mereka. Saat-saat khusus berdua adalah momen yang paling baik untuk itu. Semakin bertambah umur anak, seolah semakin ada jarak yang memisahkan kita dengannya. Seperti yang ditulis Janelle Jack Pierre dalam “Before I Breathe”: Kami seperti sedang berdiri di dua pulau yang terpisah. Ibu dan ayah di satu pulau dan aku di pulau yang lain. Lautan yang ada di antara kami adalah simbol kejujuran…”
Nah, Ayah dan Bunda, seberangi lautan kejujuran itu dan dekatkan pulau kita dengan pulau tempat anak kita berdiri. Inilah tahapan berikut karir kita sebagai orangtua…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s