SANG DETEKTIF AYAH

Ini adalah tulisan yang pernah saya buat untuk Kolom Ayah di Majalah Ummi, hampir 3 tahun yang lalu…
“Ayah” adalah gelar paling terhormat yang pernah bisa dicapai seorang laki-laki. Terhormat karena harta yang banyak dan kepandaian yang luar biasa, tak bisa menjamin seseorang menjadi ayah. Terhormat karena sekali menjadi ayah, seorang lelaki akan selamanya terikat sampai akhirat dengan anak-anaknya. Terhormat karena gelar yang lain biasanya diberikan bila tugas telah selesai, tetapi ayah adalah gelar yang diberikan justru ketika tugas yang tiada akhir itu baru dimulai.
Menurut saya, tugas pertama yang banyak dilupakan oleh seorang ayah adalah menjadi detektif bagi anak-anaknya. Kasus yang harus dipecahkan sang detektif ayah adalah mencari dimana minat, bakat dan kekuatan anak-anaknya. Bila ayah telah memecahkan kasus pertama ini, tugas berikutnya adalah mendampingi setiap anaknya menempuh beragam pintu kegiatan yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya.
Bersama Fia si Sulung, saya pernah belajar bermain keyboard di tempat yang sama, dengan alat yang sama, buku yang sama dan guru yang sama. Di rumah kami berdiskusi segala hal, mulai dari lagu yang dipelajari sampai pendapat kami tentang pengajar.
Rihan si Nomor Dua adalah teman sparring saya saat berakting menjadi Hulk dan Captain Amerika. Rihan pula yang membuat saya mau melihat cecak di tangannya, padahal saya sempat benci cecak karena di waktu kecil salah seekornya pernah loncat indah ke bak mandi saya. Wah, saya rasa kalau dia mau, Rihan bisa menjadi pengganti Rob dan Steve si ahli buaya.
Dombel-Dut adalah panggilan khusus saya untuk Taqi si putra ketiga. Bersama Rihan, kami bertiga adalah para lelaki di rumah. Kami punya lagu khusus tentang kekompakan para lelaki di rumah kami.
Ayesha si bayi mungil menjadi objek latihan berempati kakak-kakaknya.
Mencoba menjadi ayah yang baik dengan menemukan kelebihan setiap anak mungkin adalah satu-satunya amal yang saya harapkan bisa memberatkan timbangan amal kebaikan di akhirat. Saya sering kaget dengan bakat yang mereka tunjukkan. Fia pernah mengejutkan ketika di umur 8 tahun telah bisa membuat film kartun sendiri dengan komputer. Akhir-akhir ini ia juga mengejutkan saya dengan semangat dan kemampuannya menulis fiksi.
Setiap anak dilahirkan istimewa. Saya tahu setiap orang akan menemukan kebahagiaan bila ia mampu memaksimalkan bakat di bidang yang ia cintai. Lebih baik gagal di bidang yang kita cintai daripada sukses di bidang yang kita benci.
O iya, setiap detektif ayah harus selalu ingat bahwa kesenangan selalu lebih baik dari kesempurnaan. Anak yang telah menemukan kesenangan di suatu bidang, tinggal tunggu saja datangnya hasil yang sempurna. Tetapi anak yang dituntut sempurna dalam bidang yang tidak ia kuasai, tunggu saja datangnya kekecewaan demi kekecewaan. Untuk menjaga hal demikianlah kita, para detektif ayah, diberi kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s