Saatnya Jadi Anak-anak Lagi…

imagesBiasanya, setiap kali memulai sebuah Seminar Parenting, saya meminta para peserta agar mengingat satu hal: masa kanak-kanak mereka. Bagi saya, mengingat masa kanak-kanak menjadi semacam syarat agar materi yang saya sharing bisa teraplikasi dengan optimal. Tidak masuk akal rasanya, berbicara
tentang anak-anak tetapi di dalam diri kita tidak ada lagi semangat anak-anak yang tersisa. Salah satu alasan paling praktis dari hal itu adalah agar kita bisa berkomunikasi dengan anak melalui sudut pandang dan bahasa mereka. Bila hal itu sudah dikuasai, separo jalan parenting sudah ditempuh dengan baik.
Contoh komunikasi yang nyambung dengan sudut pandang anak terpapar dalam cuplikan kisah yang ditulis Corrie Ten Boom dalam The Hiding Place:
Tak lama setelah duduk di depan ayahku dalam kompartemen kereta api, aku tiba-tiba bertanya, “Ayah, apa itu Seks?”
Ayah melihat wajahku, tapi tak berkata apa-apa. Sebagai gantinya ia menurunkan kopernya dari atas rak dan menaruhnya di lantai. Lantas Ayah berkata, “Dapatkah kamu membantu membawa koper ini turun dari kereta, Corrie?”
Aku mencoba mengangkatnya sesaat, namun lantas berkata, “Wah, ini terlalu berat, Yah.”
“Betul,” angguk Ayahku. “Hanya seorang ayah yang bodoh yang menyuruh putri kecilnya membawa beban seberat itu. Nah, begitu juga dengan pengetahuan, Corrie. Ada pengetahuan yang terlalu berat untuk diketahui anak-anak. Nanti, saat kamu sudah lebih tua dan lebih kuat, kamu akan bisa menerimanya. Namun saat ini, kamu harus percaya pada Ayah dan membiarkan Ayah yang akan membawakannya untuk kamu.”
Ayah dan Bunda, semakin baik kita mengingat bagaimana rasanya menjadi seorang anak, semakin bijaksana pula tindakan kita terhadap anak-anak. Kalau sudah begitu, dijamin deh: akan semakin dicintai pula kita oleh anak-anak kita. Pertanyaannya adalah: Apakah mungkin kita yang sudah dewasa bisa kembali menghidupkan semangat anak-anak kita?
Ayah dan Bunda, menurut saya  jawabannya tergantung pada diri kita, apakah kita melihat masa kanak-kanak sebagai pantai di seberang sungai yang telah kita lewati dan jembatan kayunya yang rapuh telah terbakar habis? Atau kita setuju dengan yang ditulis John Connolly dalam The Book of Lost Things: Di dalam diri setiap orang dewasa, berbaring semangat anak-anak, dan dalam diri setiap anak terpendam masa dewasa yang akan dijalaninya…?
Hal paling menyedihkan, bila kita gagal memahami anak-anak melalui dunianya adalah: tanpa disadari kita akan mengharapkan anak-anak menjadi cepat dewasa. Mengapa? Sebab alam bawah sadar kita ingin agar anak bisa memahami apa yang kita sampaikan pada mereka dengan bahasa dewasa kita. Lupakah kita, Ayah dan Bunda, sebenarnya betapa ajaib dunia anak-anak itu? Agatha, tokoh dalam The Peach Keeper yang ditulis Sarah Addison Allen pun berpikir keheranan, “Mengapa para gadis itu begitu ingin cepat dewasa? Bukankah masa kanak-kanak penuh keajaiban? Bukankah meninggalkan masa kanak-kanak di belakang berarti kehilangan sangat besar?”
Ayah dan Bunda, sesungguhnya anak-anak bukan disiapkan untuk tumbuh menjadi dewasa, tetapi untuk menjadi anak-anak. Sebagai orang dewasa, sangatlah bijak bila kita yang mengalah dan masuk ke dunia mereka, bukan merekalah yang kita seret ke dunia kita. Bukankah kita pernah menjadi seorang anak sementara anak-anak belum pernah tahu apa itu masa dewasa?
Anak-anak yang lingkungannya penuh pengertian dengan dunia mereka akan seperti benih subur yang siap menjadi pohon kuat dan berguna. Persis seperti yang dikatakan Flannery O’Connor: Siapapun yang melewati masa kanak-kanaknya dengan baik akan punya cukup informasi kehidupan sebagai bekal sisa kehidupannya.

Ayah dan Bunda, jadilah anak-anak saat bergaul dengan anak-anak. Itulah salah satu upaya terbaik menyiapkan masa depan mereka. Benarlah Franklin Delano Roosevelt ketika ia berkata, “Kita tidak dapat menyiapkan masa depan untuk anak-anak kita, tetapi kita dapat setidaknya, menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi masa depan”.

By. Eka Wardhana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s