Menonton Televisi

 

images-1

Ayah dan Bunda, menonton televisi memang ada gunanya, tetapi juga banyak bahayanya. Karena itu orangtua harus mengawasi televisi. Saya termasuk orang yang percaya bahwa mengajarkan anak-anak cara menghadapi suatu hal yang berbahaya lebih baik daripada melindunginya secara berlebihan. Beri tahu anak-anak bagaimana cara menghadapi bahaya dari televisi lebih bijak daripada benar-benar membutakan anak dari televisi. Namun jelas dan tak bisa dibantah, cara ini jauh lebih sulit dan memerlukan konsistensi. Jangan remehkan lho, mengajarkan anak menghadapi suatu bahaya adalah bagian dari pendidikan karakter yang sangat baik. Menurut saya, salah satu karakter yang akan menonjol dari kegiatan menghadapi bahaya yang satu ini adalah Rasa Tanggung Jawab.

Berikut ini beberapa fakta tentang bahaya televisi dari hasil penelitian Psikolog Amerika, Norman Herr Ph.d:

–          Dalam satu minggu  orangtua menghabiskan waktu berbicara yang berkualitas dengan anak hanya sependek 3,5 menit. Mengapa bisa orangtua jadi secuek ini kepada anaknya? Sebabnya menurut Norman, orangtua kurang terlibat secara emosi dengan anak. Padahal salah satu bentuk pelecehan kepada anak adalah rasa cuek dari orangtua. Televisi terbukti menjadi salah satu penyebab sikap cuek ini, sebab saat ini 40% orang menghabiskan waktu luangnya untuk menonton televisi.

–          Rata-rata anak menghabiskan 900 jam per tahun di sekolah, sementara dalam waktu yang sama, mereka menghabiskan 1.500 jam di depan televisi. Menurut analisa Norman, hal ini terjadi sebab Televisi menggantikan kegiatan bermain yang menyehatkan, menggantikan mempelajari pelajaran sekolah, menggantikan bermain dengan teman, bahkan bisa dikatakan televisi menguasai kehidupan anak.

        Ada 200.000 adegan pembunuhan di televisi yang dilihat anak sebelum berusia 18 tahun. Apa seriusnya fakta mengerikan ini? Menurut Norman, saat anak melihat ribuan pembunuhan setiap tahun, terciptalah rasa cemas dan meningkatlah keinginan melakukan agresi. Secara langsung, Televisi menyebabkan gangguan emosi dan pelecehan terhadap hak anak. Parahnya, anak-anak lebih mudah dipengaruhi, lebih cepat bereaksi dan lebih mudah meniru dibanding orang dewasa. Hal ini menyebabkan kerusakan mental yang bisa terbawa sampai masa remaja. Inilah sebabnya di Amerika jumlah anak-anak yang bunuh diri meningkat 300% dibanding tahun 50-an di masa ketika Televisi belum dikenal.

Ayah dan Bunda, fakta-fakta di atas adalah hasil penelitian di Amerika Serikat. Bagaimana dengan di Indonesia? Bisa jadi lebih parah, sebab kita di Indonesia banyak melakukan pola asuh Permissive yang cenderung membebaskan anak melakukan apa saja tanpa tanggung jawab utuh.

 

 

Beberapa Cara Menghindari Bahaya Televisi:

 

       Jangan menyalakan televisi terus-menerus. Meskipun saat itu anak sedang tidak menonton televisi. Suara siaran televisi bisa masuk tanpa tersaring ke benak anak.

 

–          Temani anak menonton televisi. Kita bisa menjelaskan apa yang ditayangkan televisi, misalnya, “Pakaian yang dipakai artis tadi kurang sopan ya?”

 

–          Jangan memakai televisi untuk membuat anak tenang sehingga tidak mengganggu kesibukan kita. Lebih baik mengajak anak membantu, misalnya, “Tolong ambilkan garam, Nak. Bunda mau memasak hidangan untuk Ayah.”

 

–          Orangtua harus tahu apa isi acara yang ditonton anak. Bila yakin acara itu baik, boleh lah anak menontonnya.

 

–          Harus ada jam-jam khusus ketika televisi dimatikan. Misalnya menjelang maghrib, ketika anak-anak harus melakukan shalat dan belajar.

 

–          Orangtua jangan menonton televisi sementara anak sedang belajar atau mengerjakan pe-er. Lebih bagus orangtua menemani anak belajar atau membaca buku.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s