Berikan Anak Cahaya

 

adam-smile

Ayah dan Bunda, Muhammad Ali pernah bilang, “It isn’t the mountains ahead to climb that wear you out; it’s the pebble in your shoe”. Bukan tinggi dan sulitnya gunung-gunung yang membuat kita gagal melakukan pendakian, melainkan kerikil di dalam sepatu kita.

Muhammad Ali benar sekali, bukan masalah-masalah besar yang membuat kita ciut, tetapi tak adanya semangat dalam hati kita! Wah, Ayah… Wah, Bunda… berapa banyak dari kita yang melupakan hal penting ini dalam mendidik anak-anak kita? Bukankah kebanyakan kita lebih peduli pada nilai-nilai akedemis anak daripada memperhatikan apa saja life skill yang sudah diperolehnya? Mengapa kita mempola hidup anak persis seperti orangtua kita dulu mempola masa depan kita? Tentu orangtua kita tak sepenuhnya salah, tetapi zaman telah berubah, bukan? Sudah seharusnya sekarang kita menilai anak dari sorot mata dan senyumnya, bukan melulu dari apa yang tertulis di dalam raport. Apalagi raport yang hanya beberapa halaman itu harus ditunggu berbulan-bulan, sementara sorot mata dan senyum anak yang maknanya dalam itu bisa kita lihat setiap saat.

Nah, Ayah… Nah, Bunda… dalam sorot mata dan senyum anak itulah tampak seberapa besar semangat dalam dadanya!

Saya pernah terpesona mendengar sebuah cerita tentang sepasang suami istri yang memiliki tiga anak cacat mental. Bila kisah ini berhenti di sini, yang timbul ada rasa kasihan. Namun cerita ini memiliki kelanjutan: seorang ibu yang sedang kewalahan dengan tingkah “nakal” anak tunggalnya terheran-heran melihat pasangan suami istri itu memperlakukan ketiga anak cacat mereka. Tampaknya pasangan ini tidak terganggu dengan kondisi itu, mereka malah kelihatan ceria. Mereka tunjukkan hal-hal asyik di mall yang mereka masuki, mereka ajak senyum dan tertawa ketiga buah hati mereka. Akhirnya, ibu yang penasaran ini tak tahan lagi, ia mendekat dan bertanya, “Saya lihat Anda berdua sangat berbahagia dengan anak-anak Anda. Maaf, tapi bolehkah saya tahu apa sebabnya?”

Sambil tersenyum, pasangan itu menjawab singkat, “Hanya orangtua istimewa yang diberi anak-anak istimewa pula.”

Sang Ibu, saya dan Anda sama-sama termangu. Itu jawaban paling istimewa namun sebenarnya juga paling benar dan paling wajar yang pernah keluar dari mulut para orangtua. Kalau anak-anak yang cacat mental saja istimewa, bagaimana dengan anak-anak normal
yang kini dititipkan Tuhan kepada kita? Dengan hati penuh rasa syukur, tentu kita bisa bilang bahwa anak-anak kita juga tak kalah istimewanya! Walau nilai matematikanya kalah sama teman-teman sekelasnya? Ya! Walau dianggap malas karena tak mau cepat-cepat belajar membaca? Ya! Walau.. walau.. walau..? Ya! Ya! Ya!

Bagaimana menyalakan api semangat dalam dada anak-anak? Salah satu cara terbaik menurut saya, Ayah dan Bunda, adalah menemukan dimana potensi mereka berada. Sebagai orangtua kita harus jadi sepasang detektif kompak yang berusaha mengurai teka-teki ini: dimana sebenarnya minat dan bakat anak?

Temukan dan buka pintu minat anak seluas-luasnya. Niscaya anak akan jadi percaya pada dirinya sendiri. Bila anak sudah percaya diri? Lihat saja sorot mata dan senyumnya! Anda akan tercengang melihat masa depan akan takluk di tangannya. Itulah cahaya yang bisa kita berikan pada mereka.

Ingat deh apa yang Muhammad Ali bilang, “A rooster crows only when it sees the light. Put him in the dark and he’ll never crow. I have seen
the light and I’m crowing”. Ayam jantan berkokok hanya bila ia melihat cahaya mentari pagi. Taruh ia dalam kegelapan, maka ia tidak akan pernah berkokok. Saya telah melihat cahaya itu dan saya pun berkokok.”

By. Eka Wardhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s